Hijab : Mencegah dari Meluasnya Kerusakan Sosial (3)

Oleh : Abbas Rahimi

Faktor-faktor Lain Yang Mencegah Dari Kerusakan Sosial                

F. Bersendagurau dan Bercanda Dengan Non Mahram   

Tidak berhijab atau berhijab buruk dan memamerkan diri adalah kerusakan yang senantiasa membuntuti kebanyakan dari lelaki dan bahkan mereka terjerumus ke dalam perbuatan haram yang membuat kemalangan dunia dan akhirat. Kebanyakan hadis yang datang dari para Imam Ma’shum bahwa mereka melarang setiap bentuk perbincangan wanita dan lelaki non muhrim dengan satu sama lain dan mengatakan: Berjabat tangan, bercanda, berciuman, dan bahkan dokter non muhrimpun jika terdapat cara lain untuk memeriksa pasiennya, dia tidak boleh menyentuh badan non muhrim.

Imam Shadiq di samping sebuah hadis mengatakan: Man shaafaha imraatan tahrumu ‘alaihi faqad baa’a bisakhathin minallahi ‘azza wa jalla Barang siapa yang berjabat tangan dengan seorang wanita non muhrim, maka dia akan terperangkap dengan azab Ilahi dan barang siapa yang menjadi kemurkaan Tuhan, pada akhirnya keburukan akan menantinya.

Demikian juga Rasulullah SAW berkata: Barang siapa yang berjabat tangan dengan seorang wanita non muhrim, pada hari kiamat dia akan memasuki padang mahsyar dengan tangan tertutup dan pada saat itu akan digiring ke jahannam. Dan barang siapa yang bersendagurau dengan seorang wanita non muhrim, Tuhan akan mengurungnya selama seribu tahun seharga dengan setiap kata yang di ucapkannya.

Kebanyakan dari remaja putri dan putra dikarenakan tidak mengetahui masalah syar’i mereka saling berbicara lewat telepon atau mereka saling berteman (pacaran) dan selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun saling bercanda dan berdialog, jika mereka ini tergolong dari hadis ini dan Tuhan menjadikan mereka sebagai ganjaran maka perbuatan mereka sangatlah sulit alangkah baiknya jika segera bertaubat dan memutuskan hubungan mereka dan memohon perlindungan dari Tuhan akan efek hubungannya yang tidak menyenangkan itu. Dan demikian juga mohonlah pertolongan dari Tuhan untuk membersihkan dan meninggalkan perbuatan itu,  Tuhan adalah maha pengasih lagi penerima taubat.

Abu Bashir mengatakan: Seorang wanita mengajarkan bacaan Al-Quran kepada saya, saya sedikit bercanda dengannya, ketika saya hadir di depan Imam Shadiq, beliau berkata: Apa yang kamu katakan dengan wanita itu? Saya merasa malu dan  menutup muka. Imam berkata: Laa tauudanna ilaihaa; Jangan lagi engkau mengulangi perbutan ini.

Seorang mengatakan: Di Madinah, tetangga kami memiliki seorang budak wanita yang membuat saya tertarik. Suatu hari saya mendatangi rumah dia, ketika dia membuka pintu saya mendorong dadanya. Esok hari saya mendatangi Imam Shadiq, beliau berkata: “Amaa ta’lamu anna amranaa hadsaa laa yatummu illa bil wara’i Apakah kamu tidak mengetahui bahwa wilayat kami tidak akan memberikan hasil kecuali dengan wara’ dan taqwa? (yakni perbuatan ini, tidak sesuai dengan taqwa dan haruslah bertaubat).

Telah diperintahkan lelaki untuk tidak memberikan salam khusunya kepada wanita non muhrim dan baginya adalah makruh. (memberikan salam adalah sunnah Rasulullah SAW, oleh karena itu untuk menghindari terjadinya hubungan antara dua non muhrim maka lelaki diperintahkan untuk tidak memberikan salam; kecuali pada wanita-wanita baik dan benar). Tidak ada masalah wanita mengucapkan salam kepada lelaki, akan tetapi makruh bagi lelaki memberikan  salam pada seorang wanita muda. Imam Ali  mengatakan: Saya mengucapkan salam pada wanita-wanita; tetapi saya tidak senang memberikan salam pada wanita muda.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis melarang wanita berbicara lebih dari lima kata kepada lelaki non muhrim, berkatalah yang penting dan yang diperlukan saja. Dan juga adalah haram saling bersentuhan badan dan cabang ini adalah terhitung sebagai zina.

Rasulullah SAW dalam hal berbai’at memerintahkan kepada para wanita untuk mengisi penuh air, wadah yang biasa dibuat untuk berwudhu, kemudian Rasulullah SAW mencelupkan tangannya pada sebagian dari air itu dan juga para wanita dengan maksud berbai’at, mereka mencelupkan tangannya pada wadah tersebut dan terhindarlah dari segala bentuk sentuhan langsung.

G. Larangan Terhadap Segala Bentuk Hubungan Antara Lelaki dan Wanita Non Muhrim       

Orang-orang yang membebaskan hubungan pertemanan (pacaran) antara wanita dan lelaki, perbuatan ini adalah pengkhianatan besar terhadap generasi muda; sebab kebanyakan hubungan yang mengerikan dan menyeramkan adalah pondasi seluruh kerusakan akhlak dan sosial yang akan datang; dalam hal ini Islam bertentangan dengan segala bentuk gerakan yang dapat merangsang para remaja putri dan putra  untuk menyulup api yang padam di dalam abu sebelum tiba waktunya.

Islam memberikan penjelasan mengenai beberapa kriteria akhlak dalam masalah-masalah pendidikan, bagaimana menjaga kehormatan dan bagaimana menghindari dari percepatan tumbuhnya syahwat sehingga syahwat itu padam dan tidak bangkit sebelum waktunya kepada anak-anak kita. Seperti ibu dilarang baginya bermain dengan alat vital anaknya sebagaimana diketahui sebagai akar dari perzinahan.

Imam Ali berkata: Permainan ibu dengan putrinya yang berumur enam tahun adalah suatu akar dari perzinahan.

Adalah haram bagi anak lelaki atau pemuda mencium anak perempuan yang berumur enam tahun.

Anak lelaki yang berumur tujuh tahun, juga tidak dibolehkan mencium anak perempuan atau wanita non mahram.

Demikian juga wajib memisahkan tempat tidur antara putra dan putri (meskipun saudara laki-lakinya atau saudara perempuannya) dari umur sepuluh tahun.

Rasulullah SAW berkata: Haruslah dipisahkan tempat tidur anak lelaki dengan anak perempuan, putra bersama putra dan putri bersama putri dari umur sepuluh tahun. Dalam hadis yang lain dikatakan bahwa pemisahan ini harus dilakukan sejak dari umur enam tahun.

Penjelasan-penjelasan di atas diuraikan mengingat bahwa masalah jenis kelamin sangatlah sensitif dan merupakan permulaan dari penyimpangan anak remaja dan anak muda. Dan juga bahkan hubungan kelamin antara ibu dan ayah harus disembunyikan sedemikian rupa sehingga anak-anak tidak hanya melihat mereka bahkan anak-anak juga tidak mendengar suara nafas mereka, tidak diragukan bahwa hubungan tidak sah antara anak perempuan dan anak lelaki tidak akan berakhir pada kebaikan dan akar itu haruslah diberantas.         

H. Menjaga Kehormatan               

Untuk menjaga kehormatan dan kesucian kehidupan suami istri dari kerusakan sosial dan menjaga ketenangan mereka dimana hal ini merupakan kebutuhan suatu kehidupan manusia dan Ilahi, demikian juga halnya tujuan dari penciptaan wanita (Litaskunuu ilaihaa), maka haruslah menjaga kehormatan-kehormatan dan rumah tempat tinggalnya. Dalam Islam, kehormatan manusia adalah kehidupannya. Jadi rumah haruslah mempunyai kehormatan agar supaya tidak semua orang dapat memasuki batas-batas kehormatan itu. Di dalam rumahpun harus dijaga batas-batasnya, kamar dan perlengkapan tidur wanita dan lelaki haruslah mempunyai pengaman dan pembatas, dapur yang dengan istilah “open” dimana semuanya dapat terlihat dan inilah persembahan dari barat yang dapat dijadikan tontonan bagi para tamu dan hal ini menyalahi batas. Perlengkapan kecantikan harus tersembunyi dari pandangan orang lain. Seseorang yang ingin memasuki tempat kehormatan orang lain dia terlebih dahulu harus meminta izin. Al-Quran Karim surah An-Nur ayat 27, memerintahkan meminta izin untuk memasuki rumah orang lain dan berbunyi: Ya ayyuhalladzina aamanuu la tadkhuluu buyuutan gaira buyuutikum hatta tasta’nisuu wa tusallimuu ‘ala ahlihaa.  

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.

Yakni janganlah kamu memasuki rumah selain rumah kamu tanpa izin dan mengenalnya.

Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig (dewasa) di antara kamu, meminta izin kepada kamu ketika memasuki kamar kamu. 

Kedua ayat di atas, tergolong ayat yang begitu penting dalam menjaga batas kehormatan dan bahkan anak-anakpun tidak dibolehkan memasuki kamar tempat orang tua tidur tanpa meminta izin dan anak-anak harus diajarkan untuk menjaga kehormatan orang lain.

Demikian pula diperintahkan kepada anak-anak bahwa ketika tiba waktu tidur, istirahat dan khalwat orang tua, mereka tidak boleh memasuki kamar tidur ayah dan ibunya tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Rasulullah SAW kapan saja beliau ingin memasuki sebuah rumah, beliau meminta izin dengan tiga kali salam dan kapan saja beliau ingin memasuki rumah putrinya Fathimah, beliau berdiri di belakang pintu dan tiga kali mengatakan: Asalaamu ‘alaikum ya ahla baitinnubuwwati, jika beliau tidak mendengar jawaban maka beliau kembali dan kapan saja orang lain bersamanya beliau mengatakan kepada Fathimah : Seseorang bersama saya, apakah dia juga boleh masuk?

Jabir ibn ‘abdullah anshari menukil bahwa: Rasulullah SAW keluar rumah dengan maksud ingin bertemu dengan Fathimah, saya juga bersama beliau, kami sampai di rumah Fathimah, Fathimah menarik gagang pintu dan memberikan jawaban sambil berkata: Assalamu ‘alaikum. Nabi SAW berkata: Apakah saya boleh masuk? Fathimah  berkata: Iya, wahai Rasulullah! Nabi berkata: Bolehkah juga masuk orang yang bersama saya? Fathimah bertanya: Siapa? Nabi SAW berkata: Jabir, Fathimah  berkata: Saya tidak memakai kerudung kepala! Nabi SAW berkata: Tutupilah kepalamu dengan kerudung. Fathimah melakukan apa yang diperintahkan oleh Nabi SAW. Dan untuk yang kedua kalinya Nabi SAW meminta izin untuk masuk dan Fathimah  mempersilahkan masuk dan kamipun berdua masuk, setelah Nabi SAW masuk, beliau menengok ke wajah putrinya yang pucat akibat lapar, kemudian Nabi SAW berdoa: Tuhan! Wahai yang mengenyangkan orang yang lapar! Kenyangkanlah putri Muhammad SAW.       

Terdapat dua nilai penting dalam hadis di atas; yang pertama diwajibkan meminta izin jika bermaksud memasuki rumah orang lain, meskipun rumah putrinya sendiri dan kedua, wanita diwajibkan memakai penutup ketika laki-laki non muhrim ingin masuk ke rumah. Kebanyakan terjadi laki-laki asing dan tidak dikenal seperti: Pekerja, Tukang, pekerja servis dan lain-lain, beberapa jam atau beberapa hari lalu lalang di dalam rumah. Dalam bentuk ini wanita dan putri rumah haruslah menjaga hijabnya dan jangan berpikir bahwa lalu lalang mereka adalah suatu hal yang biasa dan perlahan-lahan menanggalkan cadur, kerudung dan hijab, atau suaranya dibesarkan dan mengobrol serta bercanda dengan mereka! Kapan saja seseorang ingin memasuki sebuah rumah seperti pencatat rekening air, listrik, gas, dan yang lainnya, dia harus meminta izin, mengetuk pintu dan penghuni rumah juga harus mengawasi dia.  Demikian juga seseorang yang ingin memperbaiki atau bekerja lain di atas atap rumah atau memanjat tiang listrik, dia harus memberikan informasi terlebih dahulu dan harus menjaga matanya dan tidak melanggar batas-batas kehormatan orang lain. Seseorang yang memiliki dan membangun rumah lebih tinggi dari rumah tetangga atau jendelanya apabila terbuka dapat membahayakan atau mengancam rumah orang lain maka dia harus memperhatikan kehormatan orang lain.

Al-Quran Karim: Laqad kaana lakum fii rasulilllahi uswatun hasanatan Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah saw itu suri teladan yang baik bagimu.

  (Diterjemahkan oleh Ummu Jausyan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: