Dr. Abdul Azis al-Rantissi (Tokoh Hamas)

Dr. Abdel Aziz al-Rantissi (dalam huruf Arab عبدالعزيز الرنتيسي) (lahir 23 Oktober 1947 –wafat 17 April 2004 pada umur 56 tahun) adalah seorang yang ikut mendirikan militer Islam Palestina dan organisasi politik Hamas. Ia merupakan pemimpin politik Hamas dan Jubir di Jalur Gaza menyusul pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap pemimpin spiritual Syekh Ahmad Yassin, walau pemisahan antara sayap politik dan militer Hamas dikatakan sejumlah orang informal. Seperti kebanyakan anggota Hamas, Rantissi menentang kompromi dengan Israel meneriakkan pembebasan seluruh daerah Palestina (termasuk keseluruhan Israel) melalui jihad melawan Israel.

Ramai doktor di muka bumi ini dengan pelbagai kepakaran masing-masing, tetapi sangat sedikit di antara mereka yang hafal Al-Qur’an dan merindukan syahid di jalan Allah, di antara yang sedikit itulah ada seorang doctor bernama Abdul Aziz Rantisi.

Doktor Abdul Aziz Rantisi lahir pada tanggal 23 Oktober 1947 di desa Bina, terletak di antara Askalan dan Yafa. desa yang termasuk Yavne modern yang tak ditempati pada, dekat Jaffa. Menyusul Perang Arab-Israel 1948, keluarganya mengungsi ke Jalur Gaza. Ia mempelajari ilmu kesehatan anak di Mesir selama 9 tahun dan merupakan dokter berijazah, walaupun tak pernah berpraktek. Memiliki nama lengkap Abdul Aziz Ali Abdul Hafidz Ar Rantisi merupakan seorang doktor pakar kanak-kanak yang pernah bekerja sebagai dokte tetap di Hospital Naser (yang merupakan rumah sakit pusat di Khan Yunus) , di kawasan Kamp Khan Yunis, Jalur Gaza pada tahun 1976.

Pada usia enam tahun, Abdul Aziz Ar-Ranteesi masuk bangku belajar di sekolah
yang dikelola oleh Lembaga Bantuan untuk Para Pengungsi Palestina milik PBB
(UNRWA). Kondisi ekonomi keluarga yang sulit memaksa Abdul Aziz Ranteesi
bekerja pada umur enam tahun, demi membantu memikul beban keluarganya
yang besar. Ranteesi tumbuh di tengah-tengah 9 saudara laki-laki dan dua orang
saudara perempuan.

Beliau termasuk anak yang sangat menonjol dalam studinya hingga selesai tahun
1965. Kemudian merantau ke Alexandria (Mesir) untuk untuk melanjutkan
studinya di Universitas Iskandariah dalam bidang kedokteran. Pada tahun 1972, Abdul Aziz Ranteesi menyelesaikan studi S1-nya dengan peringkat memuaskan. Selanjutnya beliau kembali ke Jalur Gaza. Dua tahun kemudia beliau berangkat kembali ke Alexandria untuk menyelesaikan program master di bidang kedokteran anak. Beliau menikah dan dikaruniai enam orang anak (dua putra dan empat putri).

Beliau aktif dalam berbagai organisasi diantaranya sebagai anggota Komite Islam, Organisasi Kedoktoran Arab di Semenajung Gaza. Menjadi Dekan di Universiti Islam Gaza sejak dibuka pada tahun 1987 dengan mengajar subjek Ilmu Genetik dan Parasit.

Bersama sekelompok aktivis Harakah Islamiyah di Jalur Gaza, beliau mendirikan organisasi Gerakan Perlawanan Islam Hamas di Jalur Gaza pada tahun 1987. Pada tanggal 4 Maret 1988 militer Imperialis Israel kembali menangkap beliau dan terus menjebloskannya dalam penjara Israel selama dua setengah tahun, atas dasar keterlibatannya dalam kegiatan aksi menentang penjajahan Zionis.

Pada tanggal 4 September 1990 beliau dibebaskan. Kemudian pada 14 Desember 1990 beliau kembali ditahan secara administratif hingga satu tahun lamanya. Pada 17 Desember 1992 beliau dideportasi bersama 400 aktifis dan kader Hamas serta Jihad Islam ke Lebanon Selatan. Akhirnya beliau pun tampil sebagai juru bicara resmi untuk para deportan yang bertahan di Kamp Pengungsi el Audah di wilayah Murjuz Zuhur untuk menuntut pihak re zim Imperialis Israel memulangkan mereka dan sebagai ungkapan protes penolakan terhadap kebijakan deportasi yang dilakukan pihak rezim Imperialis Israel. Begitu pulang dari Murjuz Zuhur, beliau kembali ditangkap oleh pihak rezim Imperialis Israel. Kemudian Mahkamah Militer Imperialis Israel mengeluarkan putusan vonis penjara kepada beliau, dan akhirnya terus mendekam dalam penjara Imperialis Israel hingga pertengahan tahun 1997.

Dr. Ar-Ranteesi menduduki beberapa posisi dalam kegiatan kemasyarakatan di antaranya: anggota Dewan Majma’ Islamy dan Organisasi Kedokteran Arab di Jalur Gaza, dan juga di Bulan Sabit Merah Palestina. Bekerja di Universitas Islam di kota Gaza sejak pembukaannya tahun1978 sebagai dosen berbagai bidang akademis, dosen ilmu Genetika, dan ilmu Mikrobiologi. Pada tahun 1983 Ranteesi ditangkap karena menolak membayar pajak kepada rezim Imperialis Israel. Pada tanggal 15 November 1988 beliau ditahan selama 21 hari.

Pada 1987, 4 penduduk kamp pengungsian Jabalya tewas dalam kecelakaan LaLin. Menurut Rantissi, ia bergabung dengan Syekh Ahmad Yassin, ‘Abdel Fattah Dukhan, Mohammed Shama’, Dr. Ibrahim al-Yazour, Issa al-Najjar, dan Salah Shehadeh dan orang-orang yang diinstruksikan keluar mesjid meneriakkan Allahu Akbar (“Allah Maha Besar”). Inilah saat dimulainya Intifadah pertama, menurut Rantissi, di bawah yang kpemimpinan organisasinya yang lantas terkenal sebagai Hamas terbentuk kemudian di tahun itu. Akhirnya saingan PLO mengikat kekuatan dengan mereka, dan kepemimpinan bersatu terbentuk.

Pada Desember 1992, Rantissi dipaksa keluar ke Lebanon bagian selatan, sebagai bagian pengusiran 416 Hamas dan mata-mata Jihad Islam Palestina, dan muncul sebagai Jubir umum dari pengusiran. Selama masa kembalinya pada 1993, ia ditangkap, namun kemudian dibebaskan. Ia juga ditahan beberapa kali lebih dari periode panjang oleh Otoritas Palestina, karena kritiknya pada Pemerintah Palestina dan Arafat, kebanyakan di pertengahan 1999. Sedemikian taktik tak menyurutkan seruannya. Saat Rantissi kembali kepada posisi umum sebagai “tangan kanan” Yassin, ia menyisakan 1 dari pelawan utama untuk tiap gencatan senjata dan penghentian serangan terhadap Israel. Selama pembicaraan di antara kepemimpinan Hamas di Gaza dan luar negeri dan pada kontak tetapnya dengan Otoritas Palestina, Rantissi, bersama dengan Ibrahim Macadma, mengawasi sifat kepemimpinan Hamas.

Setelah kembalinya Syekh Yassin ke Jalur Gaza pada Oktober 1997, setelah pertukaran tahanan menyusul gagalnya percobaan pembunuhan Israel terhadap aktivis Hamas di Yordania, ia bekerja rapat dengan seorang syekh yang sudah tua untuk memperbaiki perintah hirarkis dan memperkuat keseragaman kader termasuk reorganisasi Hamas. Menyusul pengeluaran Salah Shehadeh dan Ibrahim Macadma, ia menjadi kepala politik dan juga menyambut pemimpin spiritual Hamas, menyisakan pembicara pokoknya. Dalam banyak peran itu, Rantissi memimpin, menginstruksikan dan menetapkan kebijakan – termasuk aktivitas serangan, menurut interogasi mata-mata Hamas. Beberapa pernyataan umumnya diberitakan untuk menjalankan instruksi buat mujahid untuk menyerang.

Dalam masa ketegangan, Rantissi tak habis-habisnya menghadirkan suara lantang. He mengambil kesempatan pertemuan anggota Kongres AS Smith dan PM Israel saat itu Benjamin Netanyahu, 28 Januari 1998, untuk mengumumkan melalui Reuters “hanya ada 1 pilihan di depan orang-orang Palestina yang untuk kembali kepada perjuangan pemberontakan dan senjata melawan okupasi [Israel].” Dalam jam-jam penarikan diri Israel dari Bethlehem, 19 Agustus 2002, Rantissi dikutip dalam Manchester Guardian saat mengatakan mengenai Hamas’ “senapan akan menyisakan perlawanan langsung musuh Zionis”.

Pada 6 Juni 2003, Rantissi memutuskan diskusi dengan Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas, yang telah menyerukan penghentian “perlawanan bersenjata”. Pada 10 Juni 2003, Rantissi selamat dari serangan helikopter Israel terhadap mobil yang mana ia sedang berjalan-jalan. Ia terluka dalam serangan itu, yang membunuh beberapa orang di dekatnya.

Pada 26 Januari 2004, Rantissi menawarkan “10 tahun gencatan senjata sebagai penukar penarikan diri dan pendirian negara”. Ada beberapa rumor berkata di dalam Hamas tentang hal itu namun saat itu Rantissi mengumumkan bahwa “pergerakan telah mengambil keputusan dari itu”.

Pada 23 Maret 2004, Rantissi diangkat sebagai pemimpin Hamas di Jalur Gaza, menyusul pembunuhan Yasin oleh angkatan Israel. Pada 27 Maret 2004, Rantissi memanggil 5.000 pendukung di Gaza. Ia mendeklarasikan presiden AS George W. Bush sebagai “musuh Muslim”.

Ketika Syekh Ahmad Yasin syahid, wafat  22 Mac 2004 yang dibunuh oleh penjajah Zionis Israel. Maka beliau telah terpilih menggantikan Syeikh Ahmad Yassin untuk mengisi kekosongan kepemimpinan Hamas. Beliau memikulnya dengan penuh tanggung jawab dan amanah. Beliau sebagai pemimpin pengganti Syekh Ahmad Yasin sangat berhati-hati terhadap uang atau material dan amanah merupakan sebahagian dari hidupnya, sehingga beliau sangat dipercayai oleh pengikut dan pendukungnya.

Masa jabatan 4 minggu Rantisi sebagai pemimpin Hamas dihabiskan dalam persembunyian, sekali pemakaman umum Ahmed Yassin, dihadiri orang banyak dalam jumlah besar, berakhir. Pada 17 April, ia keluar dari persembunyian untuk mengunjungi keluarganya di Kota Gaza, datang sebelum fajar dan tinggal sampai siang. Segera setelah ia meninggalkan rumah ia terbunuh.

Syekh Abu Bakar Al-‘Awawidah, anggota Rabithah Ulama Palestine di Syira ketika berkunjung ke Indonesia, tepatnya pada hari Jum’at, 28 September 2007/17 Ramadhan 1428H bercerita tentang saat-saat terakhir kehidupan Dr. Abdul Aziz Rantisi setelah dihantam roket penjajah Zionis Israel, Ketika badannya dipenuhi darah, keadaan dirinya yang sudah mulai agak lemah, beliau (Abdul Aziz Rantisi) menunjuk ke poket seluarnya, pengawalnya tidak faham apa maksudnya, setelah tangan pengawalnya dimasukkan ke poket seluar Dr. Abdul Aziz Rantisi nampaklah beberapa uang, Dr. Abdul Aziz Rantisi dengan kondisi tubuh yang sudah lemah meyampaikan pesan kepada pengawalnya, berikan wang tersebut kepada si fulan, Subhanallah, Allah memberikan kesempatan dan peluang kepada Dr. Abdul Aziz Rantisi untuk meninggalkan dunia tanpa beban dan hutang serta menunaikan amanah untuk disampaikan kepada yang berhak.

Bahkan sehari sebelum dihantam roket penjajah Zionis Israel, beliau sudah mengambil uang tabungan gajinya selama mengajar di Universiti Islam Gaza dan menghitung hutang yang akan dilunasnya. Termasuk beliau memberikan bantuan untuk biaya pernikahan anaknya, Ahmad. Setelah itu beliau berkata, ”Sekarang, jika saya menemui Tuhanku, maka aku dalam keadaan bersih. Saya tidak memiliki apa-apa dan tidak ada tanggungan apa-apa.”

Pada hari Sabtu, 25 Shafar 1425/ 17 April 2004, doktor yang rindu syahid, Dr. Abdul Aziz Rantisi gugur bersama tiga orang lainnya di jalan Jala, Gifafi, utara Jalur Gaza dalam sebuah serangan udara Israel yang menghantam mobil yang mereka tumpangi. itu , Rantissi dibunuh oleh Angkatan Pertahanan Israel.

Innalillahi wainna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali), QS: Al-Baqarah 2: 156,Cara kematian seperti yang ia telah pilih; sebelumnya ia berkata, “Kematian ini apakah dengan pembunuhan atau kanker; itu sama saja. Tiada yang akan mengubah jika itu ialah Apache (helikopter) atau perhentian jantung. Namun saya memilih untuk terbunuh dengan Apache.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.(QS: Ali Imran/3: 169). H.

Mengenang Perjuangan Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim

Inilah sebuah peristiwa kesyahidan seorang ulama yang patut menjadi teladan karena memperjuangkan prinsip dan keyakinan hidupnya. Imam Muhammad bin Ali al-Baqir pada usia yang 63 tahun tewas bersama dengan 80-an jammahnya dengan cara dibom, di Masjid Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, dikota Suci Najaf, pada hari Jumat dibulan Rajab 1424 H/Agustus 2003. Hari kesyahidannya ini bertepatan dengan hari kelahiran Imam Muhammad bin Ali-al Baqir as (Imam Syiah ke lima). Juga usiana sama dengan usia Rasulullah SAW dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yakni 63 Tahun.

Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim lahir di Najaf kira-kira pada 1361 H, atau 1940 M. Keluarga al-Hakim termasuk yang paling berpengaruh di Irak. Ayatullah Sayyid Muhsin Al-Hakim adalah marja’Syiah yang sekaligus pejuang dan pemimpin berbagai gerakan sosial dimasa hidupnya.

Saat itu rezim parta Ba’ats berkuasa di Irak dibawah pimpinan Micheil Aflaq. Keluarga Sayyid Muhsin al-Hakim banyak mendapatkan berbagai tekanan politik dari rezim tersebut. Tekanan itu meningkat setelah Saddah Husein mengambil alih kekuasaan dalam suatu kudeta politik.

Disinilah sejarah mencatat, lima saudara laki-laki dan belasa anggota keluarga Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir al-Hakim gugur sebagai syuhada dalam serangkaian pembantaian yang dilakukan oleh rezim Saddam Husein. Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim sendiri beberapa kali disiksa dan dipenjarakan, dia dan keluarganya dianggap patut diberangus karena menentang rezim tangan besi itu.

Pada akhir 1970-an bersama saudaranya, Sayyid Abdul Aziz, secara sembunyi-sembunyi Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim menyeberang keperbatasan irak menuju ke Iran. Disana, dia ikut membantu Imam Ayatullah Ruhullah al-Musavi al-Khomeini menggerakkan revolusi untuk menggulingkan Syah Iran dan memulai membentuk Republik Islam Iran.

Pada pertengahan 1980-an Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim menggabungkan sejumlah organisasi sosial dan politik Irak yang berbasis Islam untuk membentuka al-Majelis al-A’la li al-Tsaurah al-Islamiyyah fi al-Irak (Majelis Tertinggi Revolusi Islam Irak). Lembaga yang didukung Imam Khomeini itu dipimpin dan dikelola secara langsung oleh Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim.

Selama kurun waktu 20 tahun lebih, dibawah arahan Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim, Majelis Tertinggi Revolusi Islam Irak mendidik dan merekrut ribuan pengungsi Irak yang berada di Iran untuk menjadi anggota. Pada kurun waktu yang sama, Majelis Tertinggi Revolusi Islam Irak membentuk Faylaq al-Badr atau Brigade al-Badr yang terdiri atas 10 ribu hingga 15 ribu pasukan.

Kemudian pada 1991, Brigade al-Badr mulai melancarkan aksi-aksi penyergapan, sabotase dan pembunuhan terencana atas elemen-elemen rezim Saddam. Puncaknya pada akhir 1991. Brigade al-Badr melakukan pertempuran sengit dengan pasukan Garda Republik yang memiliki persenjataan militer yang jauh lebih canggih di Irak Selatan dan di Kota Najaf yang dekat dengan sungai Furat. Meskipun akhirnya kalah, pertempuran itu memotivasi kalangan Syiah bangkit melawan pemerintahan Saddam. Pemberontakan didaerah-daerah Syiah melawan rezim Saddam kemudian secara terus-menerus yang berakhir dengan pembantaian keji yang dilakukan oleh Thaha Yassin Ramadhan, tangan kanan Saddam yang lalu menjadi wakil peresiden, sekitar tahun 1992-1993.

Belakangan, setelah Amerika dan sekutunya menggulingkan rezim Saddam Husein (2003 M), Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim kembali ke Najaf dari pengasingannya di Iran selama kurang lebih 23 tahun. Ratusan ribu orang menyambut kedatangannya dan mengelu-elukannya sebagai pahlawan.

Pada Khutbah Jumatnya yang terakhir, Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim mengemukakan ungkapan-ungkapan yang seolah-olah mengisyaratkan kesiapannya untuk menempuh jalan syahadah dan bertemu dengan para kekasihnya. Beliau menegaskan, “Tindakan pertama yang dilakukan oleh para penjahat Ba’ats di awal-awal kekuasaannya adalah menyerang otoritas keagamaan (marja’iyyah diniyyah) yang ada pada saat itu. Kemudian mereka mulai membunuh maraji’satu demi satu . dan sasaran ini jelas bukan suatu hal yang baru. “Tetapi kemudian, “tandas Sayyid al-Hakim selanjutnya, “para penjahat Ba’ats ini mengganti kebijakan untuk langsung membunuh satu demi satu maraji’ dengan strategi penyusupan, penipuan dan penyesatan. Dan strategi terakhir inilah yang terus dijalankan sampai akhir masa kekuasaannya.”

Masalah lain yang dibicarakan al-Hakim dalam khutbahnya yang terakhir adalah keberadaan pasukan Amerik dan Inggris di Irak. Beliau menegaskan, “Kita harus menyadari tanggung jawab pasukan koalisi terhadap semua serangan yang belakangan terjadi di Irak. Pasukan koalisi tidak menjalankan kewajiban-kewajiban mereka yang mendasar untuk menjaga (keamanan) pimpinan keagamaan (maraji’) dan tempat-tempat suci.  Ini patut untuk dikecam. Dan kita mengecam sikap pasukan penduduk yang ini. Lebih dari itu, pasukan pendudukan juga tidak menjalankan tugas untuk menjaga organisasi-organisasi internasional yang berada di Irak, seperti Markas PBB di Baghdad. Kita  telah melihat ketiadaan keamanan di negeri ini. Pasukan pendudukan gagal memelihara keamanan di negeri ini.

Kemudian Ayatullah al-Hakim melanjutkan,”yang lebih penting lagi mengenai tanggung jawab pasukan pendudukan adalah sejak semula saya kembali ke Irak, bahkan sebelum saya kembali ke Irak, saya telah berkali-kali mengatakan bahwa kalian (pasukan pendudukan) perlu memberikan peluang bagi rakyat Irak untuk menjaga tempat-tempat suci dan pimpinan keagamaan mereka. Kita tidak membutuhkan kalian atau pasukan kalian. Rakyat Irak mampu untuk menjaga diri mereka sendiri, tempat-tempat suci dan pimpinan keagamaan mereka. Pasukan asing tidak akan diizinkan oleh rakyat Irak untuk mendekati tempat-tempat suci ini sehingga rakyat Irak perlu diberi kesempatan untuk melakukan semua ini.

Al-Hakim menyimpulkan,”Rakyat Irak hanya akan bekerjasama dengan kekuatan nasional untuk menjamin berlangsungnya keamanan di negeri ini. Rakyat Irak jauh lebih mengerti tentang Irak ketimbang orang-orang asing dalam semua hal. Kalau aparat keamanan berasal dari asing, maka rakyat Irak tidak akan bekerjasama dengan mereka. Rezim lama menjalankan proses keamanan melalui penindasan dan agresi. Hal-hal seperti ini tidak bisa kita lakukan lagi. Maka itu kita perlu melakukan segala sesuatu sesuai dengan norma-norma keadilan. Kita harus membentuk aparat keamanan Irak yang akan bekerjasama dengan rakyat Irak untuk memecahkan masalah keamanan di negeri ini. Kita harus bergandeng tangan untuk mengembalikan kedaulatan Irak sepenuhnya kepada rakyat Iran dengan membentuk Pemerintahan Irak. “

Demikian perjuangan Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim, yang dalam pernyataan resminya Ayatullah Ali Khamenei mengatakan, “Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim adalah ulama sekaligus pejuang, yang berperang melawan rezim Saddam, demi menegakkan keadilan bagi bangsa Irak. Setelah simbol kejahatan tersebut hancur, ia masih tetap kokoh berdiri melawan para penjajah Inggris dan Amerika, hingga kesyahidan menjemputnya dalam jihad besar.”

Demikian pula Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam wawancara yang dilakukan Al-Jazeera pada 1 September  dalam acara Al-Hiwar Al-Maftuh. Beliau menyatakan bahwa Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim adalah seorang pejuang, cendekiawan, dan pemikir yang mumpuni. “Kematiannya,” kata Yusuf”. Adalah idaman yang ditunggu oleh semua pejuang di jalan Allah. Beliau (Ayatullah Muhammad Baqir al-Hakim) telah menemui Allah dengan wajah tersenyum. Namun kesyahidan beliau tetaplah tragedy bagi umat Islam. Pembantaian di Najaf adalah peristiwa yang patut direnungkan dalam waktu yang lama.

  1. Semoga allah memasukan ust rantisi ke dalam jamaah yg diridoi NYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: