PANDANGAN DUNIA

RISALAH PANDANGAN DUNIA (1)

PENDAHULUAN

Dalam edisi “Mitsal” kali ini dan edisi selanjutnya, kami bermaksud untuk menjelaskan pembahasan tentang pandangan dunia secara rinci dan berkala. Hal ini kami maksudkan agar para pecinta “Mitsal” mendapatkan pembahasan secara komprehensif tentang tema ini.

Objek pembahasan kita kali ini menjelaskan tentang dasar pemikiran Ideologi Islam. Akan tetapi sebelum kita memasuki pembahasan tersebut, kami akan menjelaskan terlebih dahulu istilah tertentu yang erat kaitannya dengan pembahasan kita kali ini agar tidak ada ambiguitas dalam menggunakan kata tersebut.

DUA ISTILAH IDEOLOGI

Ideologi digunakan dalam dua peristilahan. Istilah  pertama digunakan lebih umum dari istilah lainnya. Ideologi terkadang dimaknai sebagai sistem pemikiran akidah yang mencakup secarah keseluruhan, meliputi sistem pemikiran teoritis maupun sistem pemikiran praktis. Dalam istilah ini kata ideologi sepadan dengan kata maktab. Dalam kata lain, ideologi dalam istilah diatas meliputi sistem pemikiran teoritis dan praktis. Misalnya ketika kita mengatakan “ideologi Islam”, istilah ini meliputi seluruh pemikiran Islam, baik itu sistem akidah, hukum, akhlak, dsb. Oleh karena itu istilah ini sepadan dengan istilah maktab Islam.

Istilah lain dari Ideologi yaitu hanya meliputi sistem pemikiran yang secara langsung berhubungan dengan perilaku manusia. Dalam kata lain, istilah ini biasa juga disebut dengan pemikiran praktis. Istilah ini lebih spesifik dari istilah sebelumnya karena dalam istilah ini tidak meliputi sistem pemikiran teoritis. Dalam Islam istilah ini hanya meliputi hukum saja akan tetapi tidak meliputi prinsip – prinsip akidah Islam.

 

PEMIKIRAN – PEMIKIRAN TEORITIS DAN PRAKTIS

Pemikiran – pemikiran yang kita miliki secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua bagian, pemikiran teoritis dan praktis. Sebelum kita mendefinisikan hal diatas. Baik kiranya untuk memberikan beberapa contoh berkenaan dengan pemikiran itu sendiri. Terkadang kita mengatakan ; kita meyakini bahwa “Tuhan ada”, “dunia fana”, “ma’ad dan kebangkitan akan datang”, “dunia tak kekal”, dst.

Terkadang juga kita mengatakan : kita sebagai umat muslim meyakini bahwa “Tuhan harus disembah”, “kita harus berusaha untuk akhirat kita”, “kita tidak seharusnya mencintai dunia”, dst.

Jika kita perhatikan kedua contoh diatas, kita akan melihat bahwa kedua contoh tersebut memiliki perbedaan. Pada contoh pertama tidak dimasukkan aspek perintah. Dalam kata lain, pada contoh pertama titik beratnya hanya pada aspek pemikiran dan akidah manusia semata. Akan tetapi pada contoh kedua terdapat aspek perintah dan larangan dan tertuju pada sisi perbuatan manusia. Dalam kata lain, pada contoh pertama berbicara tentang “ada” dan “tidak ada”. Akan tetapi dalam contoh kedua berbicara tentang “mesti” dan “tidak mesti”.

Pemikiran-pemikiran yang secara langsung tertuju pada realitas-realitas keberadaan dan tidak membahas perilaku dan perbuatan manusia disebut dengan pemikiran-pemikiran teoritis. Sedangkan pemikiran-pemikiran yang secara langsung ditujukan pada perbuatan manusia dimana isinya berupa perintah dan larangan disebut dengan pemikiran-pemikiran praktis.

Dengan memperhatikan secara seksama konsep pemikiran teoritis dan praktis, maka kedua istilah ideologi akan semakin jelas bahwa istilah yang satu lebih umum dari pada istilah lainnya. Oleh karena itu, kami ingin mempertegas dalam kesempatan kali ini bahwa yang kami maksudkan dengan ideologi adalah ideologi dalam istilah kedua. Maksud kami istilah kedua tersebut adalah istilah yang lebih khusus, yaitu sebuah konsep yang hanya meliputi pemikiran praktis dan tidak meliputi pemikiran teoritis. Ideologi dalam istilah kedua adalah rangkaian keyakinan-keyakinan dimana objek pembahasannya berkenaan dengan “mesti” dan “tidak mesti”, bukan “ada” dan “tidak ada”.

PANDANGAN DUNIA

Pandangan dunia bermakna sebuah pandangan universal terhadap keberadaan atau eksistensi, atau sebuah pandangan universal tentang apa yang ada.

Dengan memperhatikan apa yang telah kami utarakan di atas akan terlihat dengan jelas bahwa pandangan dunia hanya meliputi sistem pemikiran teoritis. Subjek persoalan dalam pandangan dunia bukan “mesti” dan “tidak mesti”, akan tetapi “ada” dan “tidak ada”. Persoalan – persoalan yang dibahas dalam pandangan dunia seperti ; Tuhan ada, dunia bukan tempat yang abadi, surga dan neraka memiliki realitas hakiki, dll. Persoalan – persoalan tersebut dibahas dalam pandangan dunia.

Dari hal ini kita juga bisa melihat perbedaan yang jelas antara ideologi dalam istilah khusus dengan pandangan dunia. Ideologi adalah sebuah sistem pemikiran yang hanya ditujukan pada perilaku manusia dan subjek persoalannya berpusat pada “perintah” dan “larangan”. Akan tetapi pandangan dunia adalah sebuah sistem pemikiran yang khusus membahas pada realitas keberadaan dan subjek persoalannya berpusat pada “ada” dan “tidak ada”.

Ada hal penting yang ingin disampaikan bahwa istilah pandangan dunia berbeda dengan kosmologi. Misalnya dalam kosmologi kita ingin mengtahui berapakah  perbandingan air dan bukan air di alam ini ? berapa banyakkah bintang di alam jagat raya ini? dst, masalah–masalah seperti ini dibahas dalam pembahasan kosmologi dan masalah tersebut bukan pembahasan pandangan dunia.

Namun ketika kita membahas seluruh keberadaan alam dan kemudian kita menyimpulkan bahwa “alam materi bergantung pada Sang Pencipta yang non materi”, maka keyakinan ini termasuk dalam pembahasan pandangan dunia. Pembahasan pandangan dunia tidak lagi membahas sebuah keberadaan tertentu dari keberadaan alam. Pandangan dunia membahas persoalan secara keseluruhan dan universal. Di sini kita bisa melihat perbedaan antara pandangan dunia dan kosmologi.

KENISCAYAAN IDEOLOGI DAN PANDANGAN DUNIA ;

KEUNGGULAN MANUSIA TERHADAP HEWAN

Untuk menjelaskan keniscayaan ideologi dan pandangan dunia dalam kehidupan manusia. Baik kiranya jika kita melihat sejenak substansi kehidupan manusia dan melihat perbedaannya secara mendasar dengan hewan. Hewan–hewan melakukan aktivitas mereka berdasarkan naluri insting mereka. Berdasarkan hasil penelitian ilmiah, hewan tidak memiliki kesadaran dalam bertindak atau melakukan perbuatannya, bahkan seluruh perilakunya  dikerjakan berdasarkan naluri insting semata. Mereka melakukan perbuatannya secara tidak sadar atau paling maksimal mereka mengerjakannya setengah kesadaran.

Namun, mungkin saja kita menemukan perilaku yang disertai dengan pengamatan, berfikir dan kesadaran yang luar biasa pada sebagian hewan. Misalnya ; pembuatan sarang oleh tawon, sistem harmoni yang luar biasa yang bisa kita saksikan pada semut, dll. Kita bisa menyaksikan hal–hal yang luar biasa yang menunjukkan ketelitian yang tinggi pada kehidupan mereka, akan tetapi tetap saja perbuatan tersebut keluar dari naluri insting alamiah mereka. Bukan berdasarkan kesadaran dan akumulasi dari pengetahuan sebelumnya.

Demikian halnya dengan manusia, dikarenakan manusia dianggap sebagai salah satu jenis dari hewan, maka sebagian dari tindakan manusia dilakukan melalui naluri insting alamiahnya. Oleh karena itu kita bisa menyaksikan ada tindakan yang berlaku sama pada hewan dan juga pada manusia. Misalnya ; naluri untuk makan dan naluri seksualitas berlaku pada hewan dan manusia. Namun, ada perbedaan mendasar yang membedakan manusia dengan hewan lainnya yaitu bahwa manusia dengan potensi akal yang telah diberikan padanya bisa mengontrol naluri insting alamiahnya. Berdasarkan kesadaran dan akumulasi pengetahuan sebelumnya, masing – masing dari naluri insting alamiah ini disalurkan dengan tujuan tertentu. Manusia juga memiliki kemampuan untuk menahan naluri alamiahnya untuk sementara waktu.

Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa seluruh manusia memanfaatkan potensi akalnya untuk mengarahkan dan mengontrol naluri insting alamiahnya. Hal ini hanya berarti bahwa pada prinsipnya dalam diri manusia terdapat sebuah potensi yang disebut dengan akal. Oleh karena itu manusia mungkin saja menggunakan potensi akalnya untuk mengarahkan dan mengontrol naluri insting alamiahnya, dan mungkin juga manusia tidak menggunakan sama sekali potensi akalnya untuk mengarahkan dan mengontrol naluri insting alamiahnya. Artinya dalam seluruh tindakannya manusia hanya menggunakan naluri insting hewaniyahnya.

Berdasarkan penjelasan diatas, kita dapat melihat perbedaan penting antara manusia dengan hewan lainnya. Manusia tidak akan sampai kepada kesempurnaan insaniyahnya jika hanya dengan bersandar kepada naluri insting alamiahnya. Bahkan kehidupan ideal manusia dan kesempurnaan akhir manusia hanya bisa didapatkan dengan menggunakan akal dan kesadarannya secara bebas. Jika tidak, maka kehidupan dirinya tidak ada bedanya dengan kehidupan hewan lainnya.

Manusia tentunya tidak seperti hewan yang mendapatkan kesempurnaannya secara determinis yang hanya cukup dengan bantuan naluri insting alamiahnya. Bahkan manusia adalah sebuah keberadaan yang bebas dan memiliki potensi untuk memilih, dan oleh karenanya manusia seharusnya menjalani kesempurnaannya dan tujuan yang diinginkannya dengan kesadarannya dalam memilih. Manusia tidak seharusnya hanya bersandar pada naluri insting alamiahnya dan kecendrungan–kecendrungan hawa nafsunya.

Al-Quran Al-Karim juga menjelaskan bahwa manusia yang dalam kehidupannya tidak menggunakan pikiran dan akalnya dalam amal perbuatannya, dan hanya menyandarkan pada naluri insting alamiahnya, maka mereka adalah termasuk seburuk–buruknya hewan. “Sesungguhnya seburuk–buruknya binatang disisi Allah adalah orang – orang yang pekak dan tuli yang tidak menggunakan akalnya.” (QS. Al-Anfal : 22).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: