Prinsip-Prinsip Universal di antara Para Nabi (3)

Oleh : Muhammad Nur

Kesamaan Bahasa dan Kesepahaman Budaya dengan Masyarakat
Setiap Nabi pada tempat dimana saja mereka diutus senantiasa menggunakan bahasa setempat. Diri seorang nabi pun secara orisinil berasal dari keturunan ras pada wilayah setempat atau salah satu ras yang telah ada pada wilayah tersebut dimana masyarakat setempat mengetahui keberadaan ras tersebut. Dalam surah Ibrahim ; 4 Allah SWT berfirman, “Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya.”
Kesamaan bahasa antara umat dan dengan nabi merupakan konsekuensi atas upaya menyembuhkan penyakit-penyakit budaya dan sosial dalam masyarakat. Mesti dipahami bahwa seorang nabi bagai seorang tabib bagi masyarakatnya. Oleh karenanya maksud dari bahasa di sini bukan hanya berkenaan dengan intonasi atau langgam bahasa, tapi juga meliputi budaya yang ada dalam komunitas masyarakat. Sebagai seorang nabi mesti memahami kelemahan dan kekuatan umatnya dan juga memberikan pemahaman latar belakang budaya mereka.
Seorang yang tak dikenal takkan mampu menjadi seorang nabi di tengah-tengah masyarakat karena masyarakat tidak akan tunduk pada seseorang yang tak dikenal. Namun mereka yang telah lama berada di tengah-tengah masyarakat dapat mengatakan, “Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (Surah Yunus : 16).
Jika seorang nabi telah memenuhi segala kriteria menjadi seorang nabi sehingga ‘hujjah bagi dirinya telah cukup’ dan juga mengenal budaya masyarakat setempat serta dapat menunjukkan mukjizat jika masyarakat menginginkannya, akan tetapi jika terdapat sebagian dari mereka yang inkar dan tidak beriman maka mungkin saja Allah SWT mengirimkan azab bagi mereka. Karena tentu binasa atau azab akan terjadi setelah adanya hujjah yang nyata sebagaimana dalam surah Al-Anfal : 42, “Sehingga orang yang binasa itu binasa dengan hujah yang nyata.” Azab yang di timpakan kepada orang-orang kafir terjadi setelah seorang nabi diutus kepada mereka sebagaimana dalam surah Isra : 15-16, “. . . Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya ketentuan (Kami) berlaku terhadapnya, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
Jalan dalam memberikan peringatan kepada orang-orang kafir, pertama-tama Tuhan menyampaikan perintah-perintah kepada mereka dengan mengutus seorang nabi. Namun karena mereka tidak mendengarkan akhirnya kefasikan membelenggu mereka sehingga dengan mengirimkan azab, kefasikan akan sirna. Setelah Tuhan mengirimkan para nabi dan menyempurnakan hujjah dengan mukjizat-mukjizat serta waktu yang telah diberikan pun telah sirna, maka perintah Tuhan akan datang padanya.
Para nabi senantiasa menyempurnakan hujjahnya kepada masyarakat, dan jika masyarakat tidak mematuhinya maka Tuhan akan mengakhiri kehidupannya, tentunya dengan menghakimi mereka secara adil. Dalam surah Yunus : 47 dijelaskan, “Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” Tidak mungkin ada umat yang tidak disertai dengan keberadaan seorang nabi. Jika Tuhan membiarkan sebuah umat tanpa kehadiran seorang nabi berarti, apakah Tuhan tidak ingin mengatur mereka atau Tuhan telah menyerahkan pengaturan kepada mereka sendiri dan hal ini sekaligus menandakan bahwa manusia mampu mengatur dirinya sendiri dengan hukum yang mereka buat sendiri. Baik wahyu maupun akal tak dapat menerima kedua pilihan tersebut. Tak dapat diterima bahwa Tuhan tidak ingin mengatur hamba dan umat manusia dan juga tak dapat diterima bahwa Tuhan menginginkan agar manusia mengatur kehidupannya sendiri dengan pikiran yang telah diberikan kepada manusia. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa selain Tuhan mengatur masyarakat manusia, juga menjelaskan bahwa satu-satunya jalan adalah hanya dengan jalan wahyu.
Dalam surah Taubah : 115 Allah SWT berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga Dia jelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi (dan mereka menentang-Nya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Sunnah Ilahi ini mengatakan bahwa azab Tuhan tidak akan datang pada suatu kaum kecuali pada kaum tersebut telah sampai kepada telinga mereka dengan jelas, wahyu dan risalah sebagaimana dalam surah Qashash : 59, “Dan tidaklah Tuhan-mu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibu kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.”
Jika setelah mengutus seorang nabi dan menyempurnakan hujjah dengan menyampaikan wahyu Ilahi serta memperkenalkan kepada umat program-program wahyu dan risalah seperti membaca Quran, tazkiyah, mengajarkan kitab, dan hikmah, namun manusia masih saja bersikeras menolak hidayah dengan mengikuti hawa nafsunya, atau mendahulukan kesenangan dunia daripada kebahagiaan akhirat, atau mendahulukan pemikirannya daripada pemikiran yang bersumber pada wahyu, maka pada saat itu manusia akan tertimpa azab Ilahi.
Dasar dari segala azab yang datang pada satu golongan tertentu karena mereka telah menghalangi dan menentang hidayah Ilahi sebagaimana firman Tuhan dalam surah Yasin : 30-31, “Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidak datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” “Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan (karena dosa-dosa mereka sendiri); orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tidak akan kembali kepada mereka (untuk hidup kembali)?”
Pertentangan dan penentangan ini antara kejahilan dan pengetahuan, keadilan dan ketidakadilan, atau pada intinya pertentangan antara kebatilan dan kebenaran ini merupakan kelaziman dari seluruh misi kenabian di alam ini. Allah SWT dalam surah Az-Zukhruf : 6-7 berfirman, “Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu”. “Dan tidak seorang nabi pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.”
Namun tidak demikian halnya jika ada orang-orang yang inkar dalam sebuah umat, mengolok-olok dan menolak ajakan nabi akan menyebabkan Tuhan tidak lagi mengirim seorang nabi dan membiarkan mereka menyelesaikan persoalannya sendiri, bahkan Tuhan menyempurnakan hujjah bagi mereka. Dalam surah Az=Zukhruf : 5 Allah SWT berfirman, “Maka apakah Kami akan mengambil kembali Al-Quran darimu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?.” Bahkan jika hanya seorang saja di muka bumi ini, tetap saja mesti ada hujjah Tuhan yang berlaku padanya karena hujjah itu ada sebelum penciptaan, di saat penciptaan, dan setelah penciptaan.
Hak Yurisdiksi Personal Para Nabi
Perkataan semua nabi adalah harmoni dan sama, meskipun terdapat derajat yang berbeda di antara mereka, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah : 253, “Rasul-rasul itu Kami lebih utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain”, dan juga dalam surah Isra’ : 55, “Dan sesungguhnya telah Kami utamakan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain).” Kenabian dan risalah memiliki aspek hukum secara umum yakni bahwa setiap nabi mengajak kepada manusia untuk beriman kepada tauhid, ma’ad, wahyu, dan malaikat.
Selain hal yang dikemukakan sebelumnya, mungkin saja pemberian para nabi berbeda-beda ketika masuk ke dalam hal yang spesifik dan partikular, dan juga memiliki derajat yang berbeda-beda mengenai prinsip-prinsip universal. Namun secara garis besar, agama para nabi dan rasul itu satu, begitu pula cara mereka dalam menghadapi masyarakat itu satu.
Setiap nabi memiliki hak yurisdiksi. Meskipun secara personal setiap nabi tersebut berbeda namun hak yurisdiksi mereka sama yaitu personalitas mereka sebagai kenabian adalah sama. Oleh karenanya hak yurisdiksi mereka yaitu kenabian dan risalah di antara para nabi dan rasul memiliki aspek yang sama. Allah SWT berfirman dalam surah Fusshilat : 43, “Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelummu.” Meskipun Rasulullah SAW meliputi nabi-nabi sebelumnya namun inti yang ingin disampaikan yaitu berupa wahyu dan risalah telah dijelaskan oleh nabi-nabi sebelumnya. Berdasarkan hal ini pula dalam surah Al-Ahqaf : 9 Rasulullah SAW menjelaskan, “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara para rasul…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: