Inilah Tujuan Konferensi “Dunia Melawan Kekerasan dan Ektremisme”

Sekretaris Konferensi Internasional “Dunia Melawan Kekerasan dan Ektremisme” menilai tujuan dari penyelenggaraan konferensi ini sebagai konvergensi negara-negara untuk memerangi kekerasan.

Mostafa Zahrani dalam acara dialog khusus mengatakan, negara-negara pendukung kekerasan akan menghentikan dukungan mereka kepada kelompok-kelompok teroris ketika memahami bahwa penggunaan kekerasan bukan solusi tepat untuk mencapai tujuan.

Ia menilai salah satu penyebab meluasnya kekerasan di dunia sebagai akibat dari kekerasan yang muncul dari adanya rezim-rezim korup di masyarakat dan ekspansi kekuatan-kekuatan besar.

Zahrani menegaskan perlunya untuk secepatnya keluar dari kondisi ini.

Konferensi Internasional “Dunia Melawan Kekerasan dan Ektremisme” dimulai pada Desember lalu di Tehran, ibukota Iran.

Event besar tersebut dihadiri oleh presiden Iran, para pejabat tinggi politik, para tokoh dan cendekiawan lebih dari 40 negara dunia.

Tujuan dari konferensi itu adalah memobilisasi kapasitas-kapasitas internasional untuk menangani kekerasan, dan memberikan gambaran yang sebenarnya dari kebijakan luar negeri Iran serta meningkatkan posisi negara ini di sektor kerjasama internasional.

Negara-Negara Regional Puji Peran Iran dalam Memerangi Terorisme

Wakil Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran untuk Urusan Arab dan Afrika mengatakan, negara-negara kawasan Teluk Persia memiliki pandangan positif tentang peran Tehran dalam memerangi kelompok Takfiri ISIS.

Hossein Amir-Abdollahian dalam wawancaranya dengan IRNA terkait sejumlah keraguan media tentang peran Iran dalam memerangi ISIS di Irak menuturkan, kebijakan Tehran di Irak adalah mendukung perang melawan terorisme, dan Iran membantu negara Arab itu dalam kerangka permintaan sah dari pemerintah Baghdad.

Ia menambahkan, penasihat-penasihat militer Iran di Irak dan Suriah memberikan saran atas permintaan pemerintah kedua negara itu untuk memerangi terorisme.

Amir-Abdollahian menegaskan, terkait perang melawan ISIS, semua negara regional, semua negara Arab dan para pejabat resmi negara-negara Arab memuji peran konstruktif, positif, dan progresif Iran dalam memerangi terorisme, dan inilah fakta yang sedang terjadi di kawasan.

Hari ini, lanjut Amir-Abdollahian, ISIS menjadi momok bagi negara-negara yang sadar atau tidak sadar terlibat dalam penciptaan dan penguatan kelompok teroris tersebut.  

Di bagian lain pernyataannya, pejabat senior Tehran itu menyinggung perundingan nuklir antara Iran dan enam kekuatan utama dunia.

Ia mengatakan, tidak ada keputusan di Iran untuk menciptakan hubungan antara perundingan nuklir dan isu-isu di kawasan, namun fakta di kawasan adalah negara ini sekarang menjadi negara paling berpengaruh di kawasan.

 

Saudi Marah Hubungan Iran dan Hamas Semakin Kuat

Petinggi keamanan Arab Saudi kepada pejabat Hamas menyampaikan kekhawatirannya terkait hubungan gerakan perlawanan Palestina itu dengan Iran.

Stasiun televisi Al-Alam  melaporkan, sumber-sumber terpercaya mengungkapkan bahwa kontak antara petinggi dinas intelijen dan keamanan Saudi dengan Hamas di luar Palestina dilakukan untuk membahas peningkatan hubungan Iran dan Hamas.

Menurut keterangan situs berita Al Rai, milik Hamas, sumber-sumber terpercaya Palestina dan negara-negara Arab Teluk Persia mengabarkan bahwa dalam kontak itu petinggi Saudi mempertanyakan adanya peningkatan hubungan antara Iran dan Hamas.

Selain itu, beberapa sumber juga mengumumkan bahwa Saudi marah dengan kebijakan Hamas terkait Iran. Riyadh meminta Hamas untuk memutus segala bentuk hubungan dengan Iran, sebagai timbal baliknya, Saudi akan berusaha membantu mencabut blokade Jalur Gaza.

Hamas Tegaskan Perlawanannya terhadap Israel

Wakil Kepala Biro Politik Gerakan Muqawamah Islam Palestina (Hamas) menegaskan kelanjutan perjuangannya untuk melawan rezim Zionis Israel hingga pembebasan sepenuhnya Palestina dari penjajahan rezim ilegal ini.

Ismail Haniyeh, Wakil Kepala Biro Politik Hamas mengatakan, gerakan Muqawamah akan melanjutkan aktivitasnya untuk mendidik generasi selanjutnya yang mampu menangani konflik dan konfrontasi dengan rezim Zionis.

Hal itu dikatakan Haniyeh dalam sebuah acara kelulusan sejumlah penghafal al-Quran di kampal-Shati, barat kota Jalur Gaza seperti dilaporkan Pusat Informasi Palestina.

Abu Marzuk: Hubungan Hamas-Iran Tidak Pernah Putus

Anggota senior Biro Politik Gerakan Muqawamah Islam Palestina (Hamas) mengatakan, hubungan antara Hamas dan Republik Islam Iran belum pernah terputus.

Dalam wawancara dengan kantor berita Turki, Anatolia, Musa Abu Marzuk, anggota senior Biro Politik Hamas menyinggung dukungan berkelanjutan Iran kepada rakyat Palestina dan Hamas dalam menghadapi penjajahan rezim Zionis Israel.

Ia mengatakan, Iran selalu mendukung bangsa Palestina.

“Hamas selalu menegaskan perluasan hubungan dengan Iran, ” imbuhnya ketika menyinggung kunjungan terbaru delegasi Hamas ke Tehran, ibukota Iran.

Terkait keputusan Pengadilan Umum Eropa yang menghapus Hamas dari daftar organisasi-organisasi teroris, Abu Marzuk menuturkan, sebenarnya keputusan tersebut merupakan kembalinya Eropa dari pendekatan yang salah.

Keputusan Eropa sebelumnya yang menempatkan Hamas dalam daftar organisasi-organisasi teroris, kata Abu Marzuk, telah membuka lebih lebar tangan rezim Zionis untuk membantai warga Palestina dan menghancurkan Jalur Gaza.

Di bagian lain pernyataannya, anggota Biro Politik Hamas menuturkan, Amerika Serikat harus mengambil contoh dari langkah Uni Eropa dan menghapus Hamas dari daftar organisasi-organisasi teroris.

Terkait rekonstruksi Gaza setelah Perang 50 Hari, Abu Marzuk mengatakan, hingga sekarang hanya sejumlah kecil rumah warga Pelestina yang sudah diperbaiki.

Abu Marzuk juga menyinggung kesepakatan antara Hamas dan Mahmoud Abbas, Pemimpin Otorita Ramallah, mengenai pembentukan pemerintah persatuan nasional di antara kelompok-kelompok Palestina dan penyelenggaraan pemilu dalam waktu enam bulan ke depan setelah pembentukan pemerintahan itu.

Namun ia menyayangkan sikap Otorita Ramallah yang tidak melaksanakan komitmen-komitmennya.

 

Israel Tak Berhenti Menghancurkan Rumah Warga Palestina

Rezim Zionis Israel terus merusak rumah-rumah warga Palestina untuk mengubah struktur demografi di kota Baitul Maqdis.

Seperti dilaporkan kantor berita pemerintah Yordania, buldoser-buldoser militer rezim Zionis merusak empat rumah penduduk dan beberapa gudang warga Palestina di wilayah Jabal al-Baba, Baitul Maqdis.

Berdasarkan laporan ini, unit tentara Israel mengepung wilayah Jabal al-Baba dan menghancurkan empat rumah dengan menggunakan buldoser setelah mengusir para penghuninya.

Sejak pendudukan Batul Maqdis, rezim Zionis selalu berusaha mengubah struktur demografi dan keislaman di kota suci tersebut.

Selain itu, Israel juga melakukan berbagai upaya untuk merusak Masjid al-Aqsa di kota bersejarah itu.

Sementara selama tahun 2014, Tel Aviv telah menghancurkan ratusan rumah warga Palestina di wilayah Negev, selatan Palestina pendudukan.

 

Diplomat AS: Israel Bodoh Serang Hizbullah di Quneitra

Seorang diplomat Amerika Serikat menyebut aksi militer rezim Zionis Israel menyerang pejuang Hizbullah, Lebanon di wilayah Quneitra, Selatan Suriah atas perintah langsung Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim itu, sebagai sebuah kebodohan.

Surat kabar Lebanon, Al Safir melaporkan, seorang diplomat Amerika yang enggan mengungkap identitasnya, baru-baru ini dalam wawacara dengan petinggi Lebanon mengatakan, “Benyamin Netanyahu, PM Israel melakukan kesalahan strategis dengan melakukan serangan ke Quneitra.”

Diplomat Amerika ini juga memprotes langkah Netanyahu dan menambahkan, “Ada kemungkinan kebijakan PM Israel akan berujung dengan pecahnya perang baru di kawasan yang tidak mungkin dicegah.”

Serangan mengejutkan beberapa lalu yang dilakukan para pejuang Hizbullah atas konvoi kendaraan lapis baja Israel di wilayah pertanian Sheeba, Selatan Lebanon, menewaskan dan melukai sejumlah tentara Israel.

Dubes Palestina : Revolusi Islam Iran, Pendukung Utama Perjuangan Palestina 

Duta Besar Palestina untuk Tehran mengatakan, Revolusi Islam Iran adalah pendukung utama cita-cita dan perjuangan bangsa Palestina.

Dalam wawancara dengan jaringan televisi Lebanon, al-Mayadeen, Salah al-Zawawi, Dubes Palestina untuk Iran menyinggung digantinya Kedutaan Besar rezim Zionis Israel di Tehran menjadi Kedubes Palestina pasca kemenangan Revolusi Islam Iran.

Ia mengatakan, dukungan Revolusi Islam Iran kepada cita-cita dan perjuangan Palestina tidak terbatas pada dukungan material, tetapi juga dukungan politik yang terus berlanjut.

Al-Zawawi juga menyinggung dukungan Iran kepada rakyat Palestina dalam perang terbaru di Jalur Gaza (Perang 50 Hari), dan mengatakan, tujuan Barat untuk menduduki tanah Palestina bukan hanya untuk membentuk rezim Israel, namun tujuan mereka juga untuk membagi dunia Islam demi kepentingan Zionis.

Dubes Palestina untuk Iran lebih lanjut menjelaskan, dunia Islam harus berjuang melawan rezim Zionis dengan persatuan dan penguatan poros Muqawamah.

Menurutnya, kemerdekaan Palestina memerlukan persatuan bangsa Palestina, Arab dan Islam.

Al-Zawawi menegaskan, perjuangan kelompok-kelompok Palestina akan berlanjut hingga terbebasnya Baitul Maqdis dari cengkeraman Israel, dan tempat suci ini akan dibebaskan secepat mungkin.  

 

Dosen Al-Azhar : Wahabisme, Akar Masalah Dunia Islam

Dosen Syariat Islam di Universitas Al-Azhar Mesir menegaskan bahwa akar utama masalah-masalah Dunia Islam hari ini adalah pemikiran-pemikiran Wahabisme dan Salafisme.

IRIB News melaporkan, Ahmed Karima, Dosen Syariat Islam, Universitas Al-Azhar menyebut mufti-mufti Wahabi dan Salafi adalah bencana terbesar Dunia Islam. Fatwa-fatwa mufti Wahabi menyebabkan perpecahan di antara Muslimin.  

Karima menuduh Al-Azhar dipengaruhi propaganda Syiahphobia. “Untuk memuaskan para Salafi, Al-Azhar terus melakukan propaganda anti-Syiah. Al-Azhar di era Syeikh Mahmoud Shaltout, jauh lebih baik dari era Syeikh Ahmed Al Tayyeb sekarang. Pasalnya Shaltout bekerja untuk mendekatkan mazhab-mazhab Islam,” tandasnya.

 

Pengakuan Mengejutkan AS Soal Perang Anti-ISIS

Juru bicara Pentagon Laksamana John Kirby mengakui bahwa koalisi anti-ISIS pimpinan Amerika Serikat sejauh ini gagal mencapai tujuannya. Dia mengatakan, sejak koalisi memulai serangan udara dan darat pada Agustus 2014, Peshmerga Kurdi dan pasukan pemerintah Irak telah merebut kembali wilayah seluas 700 kilometer persegi di Irak Utara yang sebelumnya dikuasai militan ISIS.

Akan tetapi, area itu hanya secuil dari wilayah yang dikuasai ISIS. Sebab, kelompok itu hingga kini masih menguasai wilayah seluas 55 ribu kilometer persegi. Pentagon mengakui bahwa AS dan koalisi hanya mampu merebut 1 persen wilayah ISIS di Irak.

Kirby mengakui bahwa tidak banyak wilayah yang mampu direbut dari tangan ISIS. Tapi, dia mengklaim serangan udara koalisi telah menghentikan kesempatan ISIS untuk berkembang. Menurutnya, koalisi membutuhkan lebih banyak waktu untuk mendorong mundur militan ISIS.

Pasukan koalisi telah melancarkan hampir dua ribu serangan udara di Irak dan Suriah terhadap kelompok ISIS, di mana 1.600 serangan dilakukan oleh jet tempur Amerika.

Pernyataan Laksamana Kirby disampaikan setelah Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond menyatakan bahwa pasukan pemerintah Irak untuk saat ini belum cukup terlatih dengan peralatan tempur untuk memerangi teroris ISIS. Dia menambahkan, koalisi anti-ISIS membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk bisa mengusir para militan itu dari Irak.

Para pemimpin Barat, khususnya Presiden AS Barack Obama sempat membuat kegaduhan tentang pembentukan koalisi internasional anti-ISIS pada 2014, namun ketidakseriusan mereka mulai tampak setelah beberapa bulan operasi militer diluncurkan.

Meski AS dan sekutunya mengaku telah melakukan semua upaya untuk menumpas ISIS, akan tetapi tindakan itu bukan untuk mencapai kemenangan, tapi hanya untuk sekedar menunaikan tugas.

Koalisi anti-ISIS kendati telah melancarkan serangan udara untuk menghancurkan kilang minyak yang dikuasai teroris, namun belum cukup berhasil untuk memutus aliran dana kepada kelompok tersebut. Media-media Barat juga tidak berhasil dalam melawan pengaruh ISIS dan sampai sekarang warga negara Barat masih antusias untuk bergabung dengan jaringan teroris.

Koalisi itu juga gagal melindungi warga sipil dalam kampanye militer dan pemboman yang dilakukan. Barat sampai sekarang belum memiliki strategi yang efektif untuk menumpas ISIS, terutama mencegah orang-orang baru bergabung dengan kelompok ekstrim itu.

Serangan di Paris membuktikan bahwa negara anggota koalisi juga tidak bisa lepas dari ancaman ISIS. Anehnya lagi, koalisi yang terdiri dari negara-negara Arab dan Barat justru memiliki andil dalam membentuk kelompok ISIS dan beberapa dari mereka masih aktif mendukung anasir-anasir teroris.

Ratusan warga sipil di Suriah tewas dalam serangan pasukan koalisi dan mereka gagal melindungi keselamatan penduduk.

Di tengah adanya sejumlah laporan tentang pengiriman paket senjata oleh pesawat misterius kepada ISIS di beberapa daerah Irak, lalu apakah Washington benar-benar serius dalam memerangi ISIS? Atau teroris ISIS hanya dalih AS untuk memperkuat kehadiran pasukan militernya di Irak dan membangun pangkalan militer di negara itu?

 

BEBERAPA RIWAYAT TENTANG KEKHAWATIRAN RASULULLAH SAW TERHADAP UMATNYA

 

Dengan Asma Allah yang Mahakasih dan Mahasayang

 

“Ada tiga perkara yang aku khawatirkan terhadap umatku,

yaitu : kesesatan setelah makrifat, fitnah-fitnah (perselisihan)

yang menyesatkan, nafsu perut dan kemaluan.” 

 

“Perkara yang paling aku khawatirkan terhadap umatku adalah tiga,

yaitu : penyimpangan orang alim, perdebatan orang munafik dengan Al-Quran,

dan dunia yang menyebabkan kalian saling berperang (memperebutkannya),

maka curigailah ketiga hal tersebut terhadap diri kalian.” 

 

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umatku sepeninggalku

adalah : penghasilan yang haram, syahwat yang tersembunyi dan riba.” 

 

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umatku adalah

 hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun hawa nafsu, maka

sesungguhnya ia menghalang-halangi kebenaran. Sementara panjang

angan-angan, maka sesungguhnya ia melalaikan akhirat.” 

 

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah

syirik yang paling kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apa syirik

yang paling kecil itu wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab,

“ia (syirik yang paling kecil) adalah riya.” 

 

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umatku

adalah bunga kehidupan dunia dan banyaknya.” 

 

Dengan rahmat-Mu

Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

          Ya Arhamar Rahimin

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: