Identitas Hizbullah dalam Lisan Al-Quran

Oleh : Juliadi S

Hari ini kelompok Islam bernama ”HIZBULLAH” menjadi simbol resistensi dan perlawanan dalam berjihad melawan musuh terbesar Islam, kaum Zionis. Pertempuran ini tidak hanya di medan perang tapi juga merambah dalam sistem pemerintahan. Hizbullah  bangkit dengan keberanian membara bertumpu pada nilai-nilai kebenaran universalitas Islam demi membela harkat dan martabat agama  dari semua gempuran musuh. Quran secara  gamblang  membahas ciri-ciri, sifat-sifat, tujuan dan akibat hizbullah dan hizbusyaitan serta efek langsung kedua kelompok tersebut dalam interaksinya dengan  manusia. Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 56 dan Al-Mujadilah ayat 22, dengan gamblang mengambarkan dan menjelaskan identitas  Hizbullah. Di ayat  lain dalam surah Al-Mujadilah 19 dan surah Fathir 6, identitas Hizbusyaitan juga dijelaskan secara detil. Tulisan ini, mencoba mengkaji dan mengungkap identitas dan sifat-sifat hizbullah dalam perspektif Quran. Suatu hal yang lumrah, bahwa identitas suatu golongan tidak hanya dipredikatkan  untuk satu waktu dan tempat, tapi identitas tersebut bisa dipredikatkan  lintas teritorial, zaman dan  bangsa bahkan berlaku sepanjang sejarah umat manusia.

 

Pengertian Hizbullah adalah sahabat, kelompok dan laskar. Untuk itu pengikut Allah SWT dan laskarnya dinamakan Hizbullah sedangkan pengikut syaitan dikatakan Hizbusyaitan. Dikatakan dalam kamus bahasa “Pengikut dan sahabat dinamakan  sesuai keselarasan antara aktifitasnya dengan aturan-aturan riil Ilahi,  orang mukmin dikatakan Hizbullah dan orang kafir dikatakan Hizbusyaitan.”

karenanya Hizbullah sudah ada sejak awal adanya manusia mukmin dalam sejarah kemanusiaan, dan begitu juga sebaliknya akan eksestensi hizbusyaitan dan pengikutnya. Nabi besar Muhammad SAW bersabda, ”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah SWT dan syaitan, Hak dan batil, membimbing dan menyesatkan, lurus  dan sesat, dunia dan akhirat, kebaikan dan keburukan, olehnya segala kebaikan dari Allah SWT dan segala keburukan dari syaitan, laknat Allah baginya.”

 

Ciri-ciri Hizbullah

 Ciri-ciri Hizbullah dalam ayat 55 dan 56 surah Al-Maidah dituturkan bahwa: “Sesungguhnya penolong kamu hanya Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman , yang mendirikan shalatdan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk(kepada Allah). Dan barangsiapa yang mengambil  Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya pengikut  Allah yang pasti menang.”  Dalam ayat diatas, ada tiga ciri-ciri penting Hizbullah yang disinyalir dan ditetapkan Allah : beriman kepada Allah, beriman kepada Rasul-nya dan beriman kepada para imam maksum (suci).

1.   Beriman kepada Allah

Menyakini akan adanya Allah adalah pembeda utama antara seorang  mukmin dan kafir dan juga merupakan rukun paling esensial dalam mazhab tauhid. Akidah yang benar tanpa menyakini adanya Allah sebagai  pencipta alam semesta adalah kebohongan dan kedustaan semata, (menyakini bukan dalam arti taklid buta). Didunia ini tidak sedikit mazhab dan akidah yang eksis, tapi apapun nama dan bagaimanapun adat dan ajaranya kalau akidah tersebut tidak memiliki asas penting diatas maka dilabeli sebagai hizbusyaitan. Masalah ini telah disinggung dengan jelas pada hadis sebelumnya. Untuk itu, orang-orang yang tidak memiliki syarat utama akidah diatas,  mau tidak mau akan masuk dalam kategori pengikut batil; karena senjata paling ampuh syaitan dalam menyesatkan manusia adalah memalingkan manusia dari mengingat Allah, dan orang yang secara totalitas melupakan Allah maka dengan sendirinya adalah golongan hizbusyaitan.  Allah menjelaskan dengan tegas dalam Quran: “Syaitan telah menguasai mereka  lalu mereka menjadikan lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa golongan syaitan itulah adalah golongan yang merugi.”(Surah Al-Mujadillah : 19)

Adapun hizbullah dalam bahasa Quran adalah orang-orang yang menyembah Allah dan hidup berwilayah kepada-Nya, hati-hati mereka hanya terpaut untuk-Nya pemilik segala sumber kesempurnaan. Dan efek terpenting dari manifestasi ketauhidannya  adalah penyerahan totalitas bahwa petunjuk dan pengarah adalah tanggungjawab Ilahi, Allah mengeluarkan mereka dari api kebodohan dan keterbelakangan menuju cahaya kebenaran. Allah berfirman:“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalahpenghuni neraka; mereka kekal didalamnya.”(Al-Baqarah : 257)

Ayat diatas dan lainya, juga disinyalirkan bahwa karena orang mukmin pengikut Allah dan Allah menguasai mereka makanya dinamakan Hizbullah. Di sisi lain Allah telah mengeluarkan mereka  dari lembah kegelapan yang tak bertepi (syirik). Oleh karenanya tidak seorang pun didunia ini yang memiliki kekuatan untuk menghalangi Allah menjadi penguasa bagi seorang mukmin. Kesimpulan dari ciri-ciri awal yakni, beriman kepada Allah adalah tanggungjawab setiap hamba – kelaziman dan keberimanan ini sebagaimana akan diisyaratkan – efeknya adalah ketercahayaan dan keterbebasan  dari segala kegelapan dan kemusyrikan, ini merupakan iradah dan janji Allah dan Dia tidak pernah mengingkari janjinya.

 

2.      Beriman kepada Rasul-Nya

Identitas kedua Hizbullah adalah beriman kepada risalah  Nabi Besar SAW. Keimanan ini merupakan varian dari keberiman kepada Allah. Karena para rasul Allah dan Nabi Muhammad sebagai penghulunya adalah perantara Allah dan mahkluk-Nya. Untuk itu dibeberapa ayat Quran dijelaskan bahwa kelaziman beriman dan taat kepada Allah adalah  beriman kepada nabi-Nya dan ketaatan  kepadanya. Dan begitu juga sebaliknya kelaziman akan keberimanan dan ketaatan kepada nabi adalah keberimanan kepada Allah. Tidak bisa terjadi dikotomi diantara keduanya. Sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”(An-Nisa : 80).

Dan juga firman Allah: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang.”(Al-Imran : 31).

Untuk itu, paradigma dikotomi antara Allah dan rasul-Nya, Quran menyebutkan sebagai paradigma kaum kafir, dan karena paradigma ini mereka dihinakan oleh Quran: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakanantara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman ataukafir).”(An-Nisa : 150).

3.Beriman kepada para Manusia Suci

Identitas ketiga Hizbullah menurut Quran adalah menyakini akan keimamahan para manusia suci. Dengan bertumpu pada riwayat mutawatir dan kesepakatan ulama Ahlul Bait,  maksud dari kalimat “dan orang-orang beriman” dari ayat yang disebutkan sebelumnya, Al-Maidah 55 dan 56, mereka adalah Imam Ali Kw dan generasi-generasi  sucinya. Bahkan kalangan Ahlu sunnah banyak juga yang mengakui bahwa yang bersedekah dalam kondisi rukuk adalah Imam Ali,yang kemudian menjadikan peristiwa tersebut menjadi asbabu nuzulnya ayat diatas.

Almarhum Allamah Thabathaba’i dalam tafsir Mizannya, ia menulis“sebagai tambahan dari semua yang telah dijelaskan, terdapat banyak kitab dan riwayat-riwayat ahlu sunnah yang  menjelaskan bahwa ayat diatas turun berkenaan dengan kemuliaan Imam Ali Kw yang mensedekahkan cincinya dalam kondisi shalat. Untuk itu predikat  dua ayat ini menunjukkan  kekhususan orang dan tidak meliputi keumuman semua manusia.”

Dan dalam tafsir Nemuneh juga dijelaskan “terdapat banyak dalam kitab Islam dan buku-buku rujukan ahlul sunnah, riwayat-riwayat ahlul sunnah  yang menunjukkan bahwa ayat diatas turun berkenaan dengan Imam Ali, sebagian dari riwayat tersebut mengisyaratkan bahwa Imam Ali mensedekahkan cincinnya dalam kondisi rukuk dan sebagiannya tidak menjelaskan kondisi tersebut, tapi semua sepakat bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Imam Ali. Riwayat ini diriwayatkan oleh; Ibn Abbas, Ammar Yasir, Abdullah Ibn Salam, Salamah Ibn kuhail, Anas Ibn Malik, Utbeh Ibn Hakim, Abdullah Abi, Abdullah Ibn Qalib, Jabir Ibn Abdullah Ansari, dan Abu Dzar, Silahkan merujuk kitab ahkakul hak jilid 2 halaman 399 s/d 410, selain 10 orang di atas yang meriwayatkan, Imam Ali sendiri meriwayatkan hal tersebut sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab Ahul sunnah – silahkan merujuk kitab Al Mara’jiat Halaman 155 – yang anehnya dalam kitab ghayatul maram 24 kali hadis diriwayatkan dari jalur ahlul sunnah dan 19 hadis dari jalur Syiah.  –  Minhajul Bara’a jilid 2 halaman 350 – salah satu kitab populer, di dalamnya  hadis ini diriwayatkan dari 30 riwayat dan semuanya dari kitab rujukan  ahlul sunnah. Sebenarnya satu hadis saja cukup menjadi dalil kuat untuk melegitimasi keimamahan Imam Ali.

Imam Shadiq dari kakek besarnya Imam Sajjad, meriwayatkan dan berkata: “ketika ayat suci turun((……. انماولیکمااله)) beberapa muslimin berkumpul di mesjid Madinah, dan mereka mengutarakan  pendapat masing-masing tentang ayat ini. sebagian berpendapat; kalau kita mengingkari ayat ini maka sama dengan  mengingkari semua ayat Quran, tapi kalau kita menerima ayat ini maka dengan sendirinya hak keimamahan Imam Ali  harus kita terima, kita percaya bahwa Nabi SAW jujur dalam perkataannya, tapi kita tidak taat kepada imam Ali, untuk itu maka turunlah ayat berikut: “mereka mengetahui nikmat Allah tapi mereka mengingkari “ Imam menafsirkan ayat ini: “mereka mengetahui keimamahan Imam Ali tapi kebanyakan dari mereka mengingkarinya.

Untuk itu, Allah berfirman:Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yangpasti menang.(Al-Maidah : 56). Mengetahui siapa yang harus diikuti pasca nabi menjadi rukun identitas ketiga hizbullah. Sebagiamana yang telah ditetapkan bahwa kenabian adalah kelaziman dari ketauhidan, dan berwilayah pada imam juga menjadi kelaziman dari risalah kenabian karena mereka merupakan pelanjut estafet duta-duta Allah ditengah umat manusia. Untuk itu, kalau seseorang mengingkari wilayat tersebut maka sama saja mengingkari utusan dan khalifah Allah, kondisi  ini dipaparkan dihadis sebelumnya – dijelaskan mengingkari ayat ini, sesungguhnya sama dengan  mengingkari totalitas ayat Quran dan keseluruhan  ajaran agama.

Diayat lain juga dengan jelas menperkenalkan identitas hizbullah: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkannya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”(Al-Mujadillah : 22).

Dalam ayat suci ini, dua tambahan identitas dan ciri-ciri hizbullah  diisyaratkan dengan jelas sebagai tambahan dari identitas sebelumnya.

4.      Beriman kepada Ma’ad

Beriman kepada hari akhirat merupakan bias dari keberimanan kepada Allah. Mempercayai  akan akhirat dan pengadilan Ilahi di hari kemudian menuntut dan membimbing  manusia untuk tidak  memuliakan aturan atau hukum selain hukum Ilahi, dan tidak ada satu pun duri  yang mampu menghentikan  pergerakannya menuju dekapan Ilahi hingga bapak, ibu, anak-anak dan kaumnya sekalipun. Dan akhirnya surga dan keridhaan Ilahi yang akan menanti mereka.

5.      Istiqamah melawan musuh-musuh Allah 

Allah SWT dalam ayat diatas menta’birkan” لاتجد….” menegaskan bahwa hizbullah yang beriman kepada Allah dan akhirat tidak akan  berteman dan berkompromi  dengan musuh-musuh Allah hingga bapak, ibu, anak-anak dan kaumnya sekalipun. Kekhususan ini mengharuskan keistiqamahan dan menjadikan motto dan yel-yel hidup hizbullah untuk melawan musuh-musuh Allah, yakni tentara iblis, dan mereka tidak pernah berpikir bahwa berjihad  dijalan Allah sebagai hal kecil.

Sekarang sebuah pertanyaan, apa definisi dari  kemenangan? Hizbullah menang dari siapa dan dalam hal apa? Apakah hizbullah hanya menang pada wilayah maknawi dan agama atau hizbullah juga menang dalam urusan dunia? Dan akhirnya, rahasia apa terpendam dalam kalimat “kemenangan hizbullah”? 

 

Yang dimaksud Kemenangan Hizbullah

Allah SWT menamakan orang-orang yang beriman dan berakidah terhadap rukun-rukun ini, dan mengimplementasikan dalam  aktifitas kehidupannya sebagai “Hizbullah”, dan hizbullah yang beberapa kali disinggung dalam ayat sebelumnya ditegaskan sebagai kelompok pemenang, dan orang-orang jujur. 

Allamah Thabatabai menafsirkan surah Maidah ayat 56 dalam tafsir Mizan sebagai berikut:

منیتولاالهورسولهوالذینامنوافانحذباالههمالغالبون” “. kata  تولی   bermakna menjadikan sebagai wali dan “الذینامنوا”  bermakna orang yang mewalikan. Itu mengisyaratkan mukmin……….., yakni  mukmin yang diisyaratkan dalam ayat “انماولیکم”. Dan kalimat “فانحذباالههمالغالبون”  sekilas merupakan kalimat jawaban) جملهجوابشرطdari kalimat bersyaratجملهشرط), tetapi posisi sebenarnya dalam ayat ini bukan kalimat jawaban bersyarat, kalimat  jawaban syaratnya tersembunyi قدیرsebenarnya  ini merupakan kesimpulan dari jawaban premis mayor hingga hukum tersampaikan, kalimat yang tersembunyi  تقدیرdalam ayat ini adalah        ومنیتولفهوالغالبلانهمنحذبوحذبالههمالغالبون-  siapa saja yang menjadikan Allah dan rasul sebagai walinya maka merekalah pemenang karena mereka adalah hizbullah maka hizbullah selalu sebagai pemenang.

Dan dia juga menafsirkan ayat 22 surah mujadadilah اولئکحذباالهالاانحذباالههمالغالبون ….. “ juga mengisaratkan kata  فلاح  juga bermakna kemenangan

والفلاحالظفروادراکالبغیهالتیهیالغلبهوالاستیلائعلیالمراد… (kemenangan yang diraih mengalahkan keinginan dan pemikiran negative).

Kemudian dia berkomentar: makna dari kemenangan adalah tercapainya tujuan dan menguasai  apa yang menjadi keinginan. Dan Allah menetapkan semuanya sebagai harapan terbaik untuk manusia, Allah berfirman:قدافلحمومنون   banyak  ayat yang menjanjikan dalam bentuk mutlak, hal ini kata  “فلاح” juga dimaknai  mutlak dalam mencapai kesenangan hakiki tersebut, dan juga pasti menemukan kebenaran hakikat yang telah dijanjikan serta meraih kemenangan dalam menghadapi musuh-musuh Allah didunia maupun diakhirat. 

Adapun manusia jujur di muka bumi dimana anggota kelompoknya adalah orang-orang saleh dan wali-wali Allah serta pakian mereka adalah ketakwaan  dan kezuhudan, dan kelompok tersebut tertutup rapat bagi syaitan bisa menjadi semangat hidup dalam mencapai derajat tinggi didunia dan diakhirat nanti mereka akan bersemayan dalam keharibaan yang maha kuasa.

Dalam tafsir Nemuneh disebutkan : “Apakah kemenangan hizbullah yang diisyaratkan dalam ayat tersebut, terbatas hanya kemenangan kemenangan maknawi atau meliputi semua kemenangan baik kemenangan materi maupun maknawi?

Tidak ada keraguan bahwa kemenangan yang dimaksud ayat tersebut merupakan kemenangan mutlak bagi semua dimensi kehidupan, sebuah keniscayaan  jika suatu golongan  memiliki syarat yang dimiliki hizbullah yakni memiliki iman kuat, beramal saleh, bekerjasama dan bersatu, berpengetahuan dan siap siaga dalam berbagai kondisi maka akan mencapai kemenangan disemua aspek kehidupan. Kalau kita mengamati kondisi muslimin hari ini yang belum juga menggapai kemenangan dan juga belum menggeliat dari ketertinggalannya, itu dikarenakan tidak memiliki syarat-syarat hizbullah yang telah diisyaratkan diatas. dengan dalil di atas, seyogyanya kekuatan Islam dijadikan power memukul mundur kekuatan musuh dan meretas problem-problem internal Islam, justru yang terjadi, hanya digunakan untuk saling melemahkan kekuatan Islam lainnya.

Untuk itu hizbullah akan menggelar permadani merah menyongsong kemenangan duniawi dan ukhrawi serata kemenangan  kebenaran atas kebatilan, karena keinginan dan iradah musuh  Islam, kontradiksi dengan keinginan dan iradah Allah. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, hizbullah menang berhadapan hizbusyaitan, karena hizbusyaitan dan pengikutnya berharap untuk menghancurkan mukmin dimuka bumi. tapi hakikatnya dalam pandangan Quran sebenarnya ajakan  mereka ke neraka sair(menyala-nyala):

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yangmenyala-nyala”.(Surah. Fathir : 6).

Syaitan gagal mencapai tujuannya secara totalitas, sebagaimana maklum bahwa tujuan utama syaitan adalah memadamkan  cahaya akidah tauhid, risalat, dan wilayat, tapi cahaya Allah tidak akan pernah padam dan pudar sedetikpun dialam ini, dan cahaya Allah meliputi seluruh alam semesta, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya,walau orang-orang kafir membencinya.”(Shaff : 8)

Untuk itu karena Hizbullah memiliki lima identitas sebagaimana yang disinggung dalam ayat sebelumnya yakni; beriman kepada Allah,  rasul-Nya,  para Imam suci, beriman   kepada maad dan istiqamah berjihad melawan musuh-musuh Allah maka mereka mencapai apa yang Allah telah janjikan atasnya.

Ini merupakan kunci utama dan terpenting kesuksesan mereka. untuk itu Allah berfirman:”وایدهمبروحمنه   dan Allah menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya.(Al-Mujadillah : 22). Karena tidak ada kekuatan yang lebih besar dari kekuatan Allah, dan tidak ada kemuliaan yang lebih mulia dari kemuliaan Allah: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yangsabar.”(Al-Baqarah : 249),  Allah bersama dengan orang-orang istiqamah dan bersabar, tanpa karaguan bahwa  mereka pasti   meneguk air kemenangan, kemenangan yang akan mengawal manusia menuju puncak kemanusiaanya sebagai khalifah dimuka bumi. Dan ini merupakan penegasan dan janji  Allah yang terejawantahkan pada  hizbullah.

 

(Disadur dari tulisan Husain Saifi Ilahi)

  1. بحرالدين

    Hizbullah itu pasukan yg berani. Dan berbakti bagi islam

  2. بحرالدين

    Hizbullah itu pasukan yg berani. Dan berbakti bagi islam.saya mendukung pasukan itu dengan jiwa dan raga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: