RISALAH PANDANGAN DUNIA (22)

Oleh : Muhammad Nur

 

Pemaparan Argumentasi Kedua

Jika kita asumsikan terdapat dua wajibul wujud, maka berdasarkan premis pertama yang diuraikan untuk argumentasi ini, akan melazimkan relasinya terhadap setiap mumkin wujud dapat memakai pakaian eksistensi. Maksudnya akan terjadi emanasi wujud dan pemberian wujud oleh dua wajibul wujud tersebut . Karena sebagaimana yang kami uraikan sebelumnya, kelaziman dari wajibul wujud adalah meniscayakan emanasi. Jika salah satu dari dua wajibul wujud tersebut tidak dapat memberikan wujud maka akan bertentangan dengan realitasnya sebagai wajibul wujud.

Di sisi lain, dikarenakan wajibul wujud merupakan sebab sempurna terhadap wujud akibat, maka berdasarkan kepada premis kedua argumentasi ini, akibat – jika dilihat pada dirinya sendiri – sama sekali tidak memiliki independensi pada wujudnya sendiri. Oleh karena itu, dikarenakan diasumsikan terdapat dua sebab sempurna dalam mewujudkan setiap entitas yang mumkin, maka akan melazimkan sebuah entitas mumkin wujud menerima pakaian eksistensi dari dua wajibul wujud. Maksudnya satu entitas mumkin – pada saat yang sama dirinya adalah satu entitas – memiliki dua wujud dan hal ini tentunya mustahil karena ke-dua-annya satu pada saat ke-satu-annya adalah kontradiksi dan tentunya mustahil.

Kritik; boleh jadi ada yang mengatakan, apa salahnya jika hanya salah satu dari dua wajibul wujud  yang menciptakan entitas mumkin tersebut, sedangkan wajibul wujud yang lainnya tidak menciptakannya, atau asumsi lainnya meskipun kedua wajibul wujud tersebut sama-sama ingin menciptakan entitas tersebut, akan tetapi entitas mumkin tersebut hanya menerima wujud dari salah satu dari kedua wajibul wujud tersebut dan menolak wujud dari wajibul wujud lainnya. Oleh karena itu, berdasarkan pada asumsi tersebut tidak akan melazimkan ‘satu entitas wujud dimana pada saat yang sama memiliki dua wujud’.

Jawaban; dengan memperhatikan dua premis yang telah kami uraikan dalam mengawali argumentasi ini, tak satu pun dari dua kritikan tersebut yang benar. Alasannya karena jika kita menerima premis pertama maka kita tidak bisa mengatakan salah satu dari wajibul wujud tersebut tidak menciptakan karena tidak sesuai dengan realitas dirinya sebagai wajibul wujud. Selanjutnya jika kita menerima premis kedua maka kita pun tidak bisa mengatakan bahwa akibat memiliki pilihan [terserah dirinya] di dalam menerima wujud dari salah satu kedua wajibul wujud tersebut. Oleh karena itu, jelas bahwa kedua asumsi tersebut tidak benar.

Tauhid dalam Sifat

Tauhid dalam sifat – sebagaimana yang telah kami isyaratkan pada awal pembahasan tauhid – menjelaskan bahwa sifat-sifat wajibul wujud tidak di luar dari zat-Nya. Sifat-sifat tersebut menyatu dengan zat Tuhan. Oleh karena itu, sama sekali tidak terdapat kemajemukan di dalam zat Tuhan. Kemajemukan yang kita sebut sebagai sifat-sifat pada Tuhan adalah abstraksi dari pikiran kita.

Terdapat beragam pandangan berkenaan dengan persoalan yang telah disebutkan di atas. Beragam dalil dan argumentasi di bangun dalam menafikan atau menetapkan persoalan di atas. Dalam kesempatan kali ini, kami akan memaparkan argumentasi dalam membuktikan asumsi tersebut dan menjelaskan tauhid dalam sifat melalui argumentasi rasional (‘aqlî). Namun sebelum menjelaskan argumentasi tersebut, kami akan menjelaskan istilah ‘wajib bizzat’ dan ‘wajib bilghayr’ terlebih dahulu karena argumentasinya berkaitan dengan kedua istilah tersebut.

Wajib Bizzat dan Wajib Bilghayr

Dalam pandangan filsafat, secara garis besar kita dapat membagi segala sesuatu yang wujud dan secara aktual memiliki eksistensi menjadi dua bagian. Maksudnya entitas yang ada secara aktual tersebut, apakah entitas tersebut wajib bizzat atau wajib bilghayr. Yang dimaksud dengan wajibul wujud bizzat – sebagaimana yang telah kami uraikan sebelumnya – adalah sebuah keberadaan yang secara esensi (zâtî) ada dan tidak bergantung pada segala faktor dan sebab eksternal. Dalam keberadaannya sama sekali tidak membutuhkan kepada entitas eksternal di luar dari zat dirinya sendiri.

Sedangkan yang dimaksud dengan wajib bilghayr adalah sebuah keberadaan di mana wujudnya niscaya. Dalam kata lain pada dirinya tidak mungkin dinafikan wujud, akan tetapi bukan dikarenakan pada zat dirinya sendiri, namun dikarenakan sebab sempurnanya ada sehingga meniscayakan wujudnya ada dan ketiadaan dinafikan padanya. Alasannya karena dengan adanya sebab sempurna maka niscaya akibatnya pun ada, dan selama sebab sempurna ada dan tegak maka meniscayakan akibatnya pun ada. Berdasarkan hal ini dikatakan bahwa wujud akibat niscaya adanya, yaitu keberadaan bagi akibat menjadi wajib. Namun jelas wajibnya keberadaan wujud akibat bukan dari zat akibat itu sendiri akan tetapi dari sebab. Di sinilah perbedaan mendasar antara wajib bizzat dan wajib bilghayr. Keniscayaan wujud wajib bilghayr bukan dari zatnya namun berasal dari luar zatnya.

Contoh; ketika anda menuangkan gula pada air, gula itu akan manis. Di sini bisa kita katakan selama gula berada di dalam air maka air tersebut tetap manis. Maksudnya gula pada air tanpa adanya bahan lain yang dicampurkan padanya dan hanya gula saja yang dilarutkan pada air maka manis menjadi niscaya bagi air dan tidak akan dinafikan padanya. Karekteristik manis pada air telah menyatu dan tidak mungkin ke-manis-an dinafikan pada keduanya. Tidak mungkin air manis dan gula manis pada saat yang sama keduanya manis sekaligus tidak manis. Oleh karena itu keduanya memiliki karekteristik yang sama pada saat itu. Namun tentunya jelas bahwa, terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya, yaitu manisnya air disebabkan oleh gula yang dilarutkan padanya. Dalam hal ini karekteristik tersebut di luar dari zat air akan tetapi manisnya gula bukan dari yang lain namun dari zat gula itu sendiri.

Pada alam eksistensi dan wujud juga terlihat dengan jelas bahwa, segala yang ada secara aktual, wujudnya adalah niscaya karena jika sebab sempurnanya ada maka tidak mungkin akibat tidak ada. Dalam istilah filsafat dijelaskan, adalah badihi segala jalan untuk ketiadaan baginya telah tertutup dan wujudnya sampai pada batasan niscaya sehingga meniscayakan entitas tersebut ada saat ini. Di sisi lain kita mengetahui bahwa keberadaan-keberadaan tersebut secara zâtî tidak memiliki wujud akan tetapi keberadaannya diberikan oleh wajibul wujud bizzat (Tuhan). Selama seluruh syarat-syarat dan yang meniscayakan keberadaannya ada serta tidak ada penghalang di antaranya maka wujud bagi keberadaan-keberadaan tersebut adalah niscaya. Namun jika sebab sempurna keberadaan tersebut tidak ada maka keberadaan tersebut juga pasti tiada dan ketiadaan baginya adalah niscaya.

Setelah menjelaskan kedua istilah tersebut yaitu wajib bizzat dan wajib bilghayr, sekarang kami akan menjelaskan tauhid dalam sifat.

Pemaparan Argumentasi

Asy‘arî meyakini bahwa sifat-sifat Ilahi adalah bukan zat Tuhan itu sendiri. Maksudnya sebagaimana sifat-sifat yang kita miliki di luar dari zat diri kita dan sifat-sifat tersebut adalah diperoleh, maka sifat-sifat Ilahi juga demikian halnya, bahwa sifat-sifat tersebut tidak zâtî bagi Tuhan akan tetapi sifat-sifat Ilahi tersebut bersifat qadîm. Sejak azali sifat-sifat tersebut senantiasa bersama Tuhan dan Tuhan disifatkan kepada sifat-sifat tersebut.

Dalam menanggapi pandangan Asy‘arî tersebut, kami katakan bahwa sifat-sifat Ilahi yang anda yakini di luar dari zat Ilahi dan bersifat qadîm, apakah sifat-sifat tersebut secara zâtî adalah wajibul wujud atau mumkin wujud? Dan apakah sifat-sifat itu ada oleh suatu sebab eksternal atau dalam kata lain wajib bilghay ?

Jika sifat-sifat tersebut juga adalah wajib bizzat maka akan melazimkan wajibul wujud menjadi berbilang (banyak) di mana pada pembahasan tauhid zat telah kami buktikan ketidakmungkinan berbilangnya wajibul wujud. Kemudian jika sifat-sifat itu secara zâtî adalah mumkin wujud maka tentunya sifat-sifat tersebut adalah akibat dan untuk mewujud butuh kepada sebab. Sekarang, sebab tersebut hanya ada dua kemungkinannya, apakah zat wajibul wujud itu sendiri yaitu objek yang disifati akan sifat-sifat tersebut adalah sebab mewujudnya sifat-sifat tersebut dan yang mewujudkan sifat-sifat tersebut, ataukah wajibul wujud yang lain yang mewujudkan sifat-sifat tersebut. Kemungkinan kedua adalah kemungkinan yang tidak benar karena tetap saja akan melazimkan wajibul wujud menjadi berbilang dan anggapan tersebut tidak benar. Oleh karena itu hanya ada satu kemungkinannya yaitu bahwa sifat-sifat tersebut merupakan makhluk dari zat itu sendiri.

Sekarang pertanyaan selanjutnya, apakah zat wajibul wujud memiliki sifat-sifat tersebut kemudian menciptakannya? Dan atau zat wajibul wujud tidak memiliki sifat-sifat tersebut namun kemudian mewujudkannya? Jelas, yang mewujudkan atau yang menciptakan niscaya memiliki kesempurnaan-kesempurnaan akibatnya pada tingkatan yang lebih sempurna karena yang tak memiliki sebuah sifat tidak dapat memberikan sifat tersebut kepada keberadaan lainnya. Oleh karena itu secara rasio tidak dapat dikatakan bahwa Tuhan yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut menciptakan sifat-sifat tersebut. Jadi, hanya ada satu asumsi yang benar yaitu bahwa Tuhan niscaya memiliki sifat-sifat tersebut sehingga dapat menciptakannya. Inilah yang dimaksud bahwa sifat-sifat Tuhan adalah zâtî bagi dirinya dan sifat-sifat tersebut tidak di luar dari zatnya.                            

Diterjermahkan dari Buku : “Ămuzesy-e ‘Aqâ‘id” Tim Penulis : Mohsen Gharaveyân, Mohammad Reza Ghulâmî, Sayed Mohammad Husain  Mirbâqerî).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: