RISALAH PANDANGAN DUNIA (20)

Oleh : Muhammad Nur

  Argumentasi Tauhid

Argumentasi Pertama

          Sebelum menjelaskan argumentasi pertama, kami akan menjelaskan dua pendahuluan; Pertama, terdapat pembahasan penting di antara para filosof berkenaan dengan fundamental wujud dan keiktibaran quiditas (ishâlah al-wujud wa i‘tibâriyah al-mâhiyah). Sebagian meyakini fundamental wujud dan sebagian meyakini fundamental quiditas. Fundamental wujud meyakini bahwa yang menjadi dasar dan inti dalam realitas eksternal adalah wujud. Wujud atau keberadaan  merupakan dasar akan setiap aktualitas dan quiditas-quiditas yang berbeda-beda adalah hasil dari abstraksi seperti quiditas manusia, quiditas hewan, quiditas tumbuhan, dan lain-lain. Dalam istilah filsafat, quiditas-quiditas adalah sesuatu yang didapatkan dengan mengabstraksi batasan-batasan wujud dan karena batasan wujud adalah ketiadaan maka yang menjadi dasar bagi realitas eksternal adalah wujud. Pandangan yang lain mengatakan bahwa yang quiditaslah yang menjadi dasar bagi realitas alam eksternal dan yang menjadi sumber bagi setiap aktualitas, bukan wujud. Namun kami tidak ingin membahas lebih jauh pembahasan ini, yang ingin kami tekankan dalam kesempatan ini bahwa keyakinan kami menyatakan bahwa wujudlah sebagai dasar akan realitas eksternal dan menempatkan pandangan fundamental wujud sebagai salah satu pendahuluan dalam pembahasan ini. Kedua, konsep wujud berlaku sama dalam mempredikatkannya kepada seluruh entitas-entitas alam keberadaan, secara istilah konsep wujud disebut dengan univocal (musytarak ma‘nawî). Untuk menjelaskan persoalan ini, kami akan menjelaskan makna dari musytarak.

          Kata musytarak adalah sebuah kata yang dapat dipredikatkan secara sama terhadap objek yang berbeda-beda. Musytarak ini terbagi menjadi dua bagian; equivocal (musytarak lafzî) dan univocal (musytarak ma‘nawî). Equivocal adalah kata yang sama yang dapat dipredikatkan kepada objek yang berbeda-beda yang mana dalam setiap penggunaan tertentu yang digunakan memiliki makna tertentu yang terpisah dari makna-makna penggunaan lainnya, misalnya kata syir [bahasa persia] adalah kata equivocal yang digunakan dalam makna susu, singa, dan keran air. Maka dalam hal ini kita mengatakan bahwa kata syir adalah equivocal, maksudnya masing-masing dari makna di atas memiliki makna yang terpisah dari makna-makna lainnya.

          Univocal adalah kata yang hanya memiliki satu makna meskipun dipredikatkan kepada berbagai objek yang berbeda-beda, maksudnya dalam seluruh penggunaannya hanya dipahami satu makna saja darinya. Sebagai contoh kata ‘air’ dapat dipredikatkan kepada objek yang berbeda-beda seperti air laut, air  kolam, air manis, air hujan, air sumur, dan lain-lain. Jika kita cermati dengan baik contoh-contoh di atas, meskipun semuanya dari objek yang berbeda-beda akan tetapi dapat dipredikatkan kata air pada seluruh objek tersebut dan kata air hanya memiliki satu makna. Dalam kata lain, pemahaman yang dipersepsi dari kata air dalam setiap entitas adalah pemahaman kata air itu sendiri yang dipersepsi dari entitas lainnya. Perbedaan itu ada pada ikatan-ikatan yang ditambahkan pada kata air yang menunjukkan penggunaan kata air yang berbeda-beda. Inilah yang disebut dengan univocal. Kata ‘wujud’ juga demikian halnya, maksudnya meskipun digunakan dan dipredikatkan pada objek yang berbeda-beda – seperti Tuhan, entitas-entitas non-materi atau materi – akan tetapi kata ‘wujud’ memiliki makna yang sama pada seluruh objek tersebut atau hanya memiliki satu makna. Prinsip ini menjadi dasar pada pendahuluan kedua.

Pemaparan Argumentasi Pertama

          Setelah menjelaskan dua pendahuluan di atas, saatnya menjelaskan argumentasi pertama mengenai tauhid;

          Tak diragukan lagi bahwa pada alam realitas eksternal terdapat eksistensi di mana keberadaannya menjadi sebab bagi keberadaan lainnya. Begitu pula sebaliknya, terdapat eksistensi yang keberadaannya merupakan akibat oleh keberadaan lainnya. Berdasarkan pada pembahasan sebelumnya, eksistensi akibat adalah keberadaan fakir dan bergantung, dalam istilah filsafat disebut dengan kebergantungan (‘ain al-rabht) itu sendiri kepada eksistensi sebab. Berlawanan dengan hal tersebut, eksistensi sebab adalah eksistensi kaya, tak bergantung, dan independen terhadap akibat. Namun, jika dalam rangkaian kausalitas terdapat keberadaan yang jika dinisbahkan terhadap keberadaan lainnya menjadi sebab bagi keberadaan lainnya dan jika dinisbahkan terhadap eksistensi di atasnya dirinya menjadi akibat, maka tentunya wujud seperti ini, meskipun menjadi sebab bagi keberadaan lainnya akan tetapi dari sisi bahwa dirinya merupakan akibat oleh keberadaan lain maka keberadaan tersebut bukan keberadaan yang kaya secara sempurna dan keberadaan yang independen secara mutlak, terkecuali pada sebuah keberadaan yang merupakan sebab dari segala sebab di mana tak ada lagi sebuah keberadaan di luar dirinya yang diasumsikan sebagai yang mengadakan dirinya. Wujud seperti itu tentunya kaya secara sempurna dan independen secara mutlak (wâjib al-wujûd).

          Berdasarkan pendahuluan kedua, dalam mengargumentasikan konsep tauhid yang telah dijelaskan sebelumnya di atas, kami telah menjelaskan bahwa meskipun terdapat rangkaian keberadaan yang disebut dengan sebab dan terdapat rangkaian yang lain yang disebut dengan akibat, akan tetapi baik keberadaan sebab maupuan keberadaan akibat keduanya memiliki kesamaan pada sisi kewujudannya. Jika kita asumsikan keberadaan A adalah sebab bagi keberadaan B, maka pada asumsi ini, meskipun A dan B adalah dua keberadaan yang berbeda akan tetapi keduanya memiliki kesamaan dari sisi kewujudannya. Konsep wujud dipredikatkan kepada keduanya secara sama. Namun dari sisi yang lain, perbedaan keduanya tidak mungkin dihindari karena yang satu adalah wujud sebab dan yang lainnya adalah wujud akibat, yang satu adalah wujud fakir dan yang lainnya adalah wujud kaya.

          Berdasarkan hal ini, ada pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak kita; yaitu adanya perbedaan yang terjadi di antara keberadaan yang ada, dari manakah asalnya dan faktor apa yang menyebabkannya? Mengapa yang satu sebab dan yang lain adalah akibat? dan pada akhirnya apa yang menyebabkan yang satu adalah wujud faqir dan bergantung sedangkan yang lain adalah wujud kaya dan independen.

          Dalam menjawab pertanyaan ini, bisa diasumsikan bahwa sisi kesamaan wujud-sebab dan wujud-akibat adalah terletak pada keberadaan keduanya. Namun perbedaan tersebut kembali kepada sesuatu di luar dari lingkaran eksistensinya. Di sini, berdasarkan pendahuluan pertama pada argumentasi ini, kita akan melihat bahwa jawaban seperti ini tidak tepat karena sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa tidak ada sesuatu yang ada pada alam realitas eksternal kecuali wujud dan yang ada hanya wujud semata.

          Oleh karena itu, jika kita mengatakan perbedaan antara sebab dan akibat kembali kepada sesuatu di luar dari lingkaran wujud, maka hal ini bertentangan dengan prinsip pada pendahuluan pertama bahwa yang fundamental adalah wujud. Berdasarkan hal ini maka tak ada jalan lain kecuali kita mengatakan bahwa baik sisi perbedaan maupun sisi kesamaan pada rangkaian kausalitas berada pada wujud. Maksudnya kita akan mengatakan, jika keberadaan A adalah sebab maka hal tersebut berasal dari kualitas wujudnya dan jika keberadaan B adalah akibat maka hal tersebut juga berasal dari kualitas wujudnya. Oleh sebab itu, maka sisi kesamaan pada dua wujud A dan B berada pada wujud, begitu juga sisi perbedaan pada keduanya berada pada wujud.

          Mungkin agak sulit memahami persoalan di atas dengan baik. Maka untuk memahami persoalan di atas dengan baik, kami akan mengambil sebuah perumpamaan cahaya. Jika kita mengasumsikan cahaya lilin dan cahaya matahari, maka kita akan melihat kesamaan di antara keduanya, yaitu pada sisi cahaya. Namun, terdapat perbedaan yang signifikan di antara keduanya, pertanyaannya adalah dimanakah letak perbedaan di antara keduanya? Apakah dapat dikatakan bahwa cahaya matahari adalah rangkapan dari cahaya dan sesuatu selain cahaya sedangkan cahaya lilin hanya cahaya semata dan tidak ada sesuatu yang lain yang ditambahkan padanya? Atau sebaliknya, cahaya matahari sangat sederhana sedangkan cahaya lilin adalah cahaya yang disertai dengan selain cahaya?

          Jawaban seperti itu adalah jawaban yang tidak tepat. Jawaban yang benar bahwa kedua cahaya tersebut memiliki sisi kesamaan pada cahaya dan pada saat yang sama pada sisi cahaya itu sendiri terdapat perbedaan, dalam pengertian bahwa yang satu cahayanya lemah dan yang satu cahayanya kuat, sama sekali tidak ada sesuatu yang keluar dari lingkaran cahaya. Dalam kata lain, hakikat cahaya memiliki tingkatan kualitas; ada cahaya lemah dan ada cahaya yang kuat. Perbedaan entitas-entitas cahaya berasal dari derajat cayaha (kuat dan lemah) yang merealitas dalam wujud. (Bersambung…

Diterjermahkan dari Buku : “Ămuzesy-e ‘Aqâ‘id” Tim Penulis : Mohsen Gharaveyân, Mohammad Reza Ghulâmî, Sayed Mohammad Husain  Mirbâqerî).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: