WILAYAT DALAM IRFAN DAN TASAWUF (2)

Oleh : Ruhullah Syams

Nubuwwat dalam Irfan

Tuhan adalah awal dan akhir, Dia mempunyai zahir dan batin. Dalam irfan, batin Tuhan disebut gaib mutlak, dimana ia adalah unitas hakiki dan kemurnian Zat. Hakikat Tuhan ditinjau dari dimensi memanifestasi pada maujud-maujud maka ia disifati dengan sifat zuhur dan dari manifestasi di luar ini terjadilah multiplisitas. Maqam batin adalah wujud Ilahi dan maqam zuhur adalah keberadaan makhluk-makhluk. Maqam zuhur tempatnya multiplisitas dan multiplisitas ini bersumber dari nama-nama dan sifat-sifat beragam Haq SWT. Sebab setiap nama dari nama-nama Haq SWT menuntut suatu mazhar khusus dan setiap mazhar menuntut nama tertentu.

Sebab setiap nama Tuhan secara mutlak meminta zuhur dan wilayah khusus di alam luar maka kemestian dari itu terjadinya saling pertentangan di antara nama-nama. Tapi untuk menghindari saling pertentangan tersebut diperlukan suatu mazhar yang mengadili secara adil di antara mereka sehingga setiap mazhar tersampaikan kepada kesempurnaan yang layak untuknya. Hakim adil ini yang merupakan mazhar seluruh nama-nama dan sifat-sifat Haq SWT, tidak lain adalah nabi hakiki atau hakikat Muhammadi SAW.

Keniscayaan setiap dari nama-nama Tuhan dalam hadhrat wahidiyyah adalah kesempurnaan Zati mereka zuhur secara mutlak; kendatipun keniscayaan nama-nama lainnya berada di bawah radius pancaran  mereka. Sebagai contoh, asma jamal meniscayakan zuhur jamal secara mutlak dan jalal berada di bawah radius pancarannya; dari sisi lain asma jalal menginginkan jamal berada dalam radius pancarannya dan berada dalam pengaruhnya.

Hukum Ilahi meniscayakan bahwa di antara asma-asma-Nya, keadilan berkuasa dan setiap dari mereka zuhur berasaskan keadilan. Oleh karena itu, asma a’zham Allah yang menjadi hakim mutlak terhadap seluruh asma-asma bertajalli dengan dua asma al-hakam al-adl dan memberlakukan keadilan di antara mereka.

Maqam kenabian dalam setiap alam, menjaga batas-batas Ilahi dan mencegah keluarnya dari batas keadilan. Nabi SAW adalah orang yang zuhur dengan dua asma al-hakam al-adl dan dengannya tercegalah pemutlakan tabiat dan berlakulah keadilan.

Abdurrazzak Kasyani (wafat 736 H), dalam mendefinisikan nubuwwat menyatakan, Nubuwwat adalah pemberitaan hakikat-hakikat Ilahiyyah, yakni tentang makrifat Zat Haq SWT, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hukum-hukum-Nya.

Dalam definisi ini terkandung isyarah derivasi nubuwwat dari kata naba yang bermakna berita. Namun dalam istilah, tidak semua pemberitaan dikatakan nubuwwat. Akan tetapi hanya pemberitaan hakikat-hakikat yang berhubungan dengan zat, asma, sifat-sifat, dan hukum-hukum Ilahi yang disebut nubuwwat.

Syarafuddin Dawud Qaishari berkata: Nubuwwat diambil dari kata naba dan itu bermakna berita dan dalam istilah adalah bitsah dari sisi Allah untuk menyampaikan berita, memberi petunjuk bagi hamba-hamba-Nya, dan memberi hidayah bagi mereka jalan pertumbuhan dan kesempurnaan.

Dalam definisi ini tidak semua pemberitaan dari Tuhan disebut kenabian. Tetapi pemberitaan dari seseorang yang dibangkitkan dari sisi Tuhan untuk  memberi petunjuk kepada masyarakat dan memberi hidayah kepada mereka dalam jalan pertumbuhan dan kesempurnaan insani yang disebut kenabian. Oleh karena itu, hanya jalan kenabian yang dapat menyampaikan seorang hamba kepada Tuhan dan adapun jalan murni akal serta pemikiran manusia, semuanya itu tidak menjamin untuk dapat menyelamatkan dan menyempurnakan manusia serta menyampaikan mereka kepada Tuhan.

Nabi adalah seseorang yang dibangkitkan Tuhan di tengah-tengah manusia untuk memberi petunjuk kepada mereka jalan kesempurnaan yang telah ditakdirkan bagi mereka dalam hadhrat ilmiyyah. Nubuwwat dan bitsah bagi seseorang merupakan hak khusus Ilahiyyah yang tidak diperoleh dengan jalan berusaha. Sumber pemberian ini adalah faidh aqdas, kendatipun seluruh mazhar menuntut maqam kenabian ini. Oleh karena itu, kenabian senantiasa disertai dengan mukjizat untuk membuktikan kebenaran klaim kenabiannya dan membedakan antara nabi benar dan nabi palsu.

Arif Sayyid Haidar Amuli mendefinisikan nubuwwat demikian ini, nubuwwat adalah pemberitaan tentang hakikat-hakikat Ilahi dan makrifat-makrifat Rabbani dari sisi zat, sifat, dan asma; dan nubuwwat sendiri terbagi dua, yaitu nubuwwat ta’rifi dan nubuwwat tasyri’i. Pertama, pemberitaan terhadap makrifat zat, sifat, asma, dan perbuatan; kedua, pemberitaan terhadap semua (perkara yang disebutkan) ditambah dengan tablig hukum-hukum, pengadaban akhlak, pengajaran hikmah, dan penegakan politik. Dan bagian dari kenabian ini mempunyai kekhususan risalah.

Dalam definisi ini, nabi diambil dari akar kata inba’ dan kenabian dibagi atas kenabian ta’rifi dan tasyri’i, dimana kenabian ta’rifi mencakup pemberitaan terhadap makrifat-makrifat Ilahiyyah tentang zat, sifat, dan perbuatan, sedangkan kenabian tasyri’i,  di samping pemberitaan makrifat Ilahiyyah tersebut juga meliputi penyampaian syariat, akhlak, hikmah, dan penegakan keadilan serta politik.

Menurut Imam Khomeni,  kenabian (nubuwwat) adalah penampakan dan penyataan hakikat-hakikat Ilahiyyah, asma, dan sifat rububiah dalam maqam ‘aini (luar) yang sesuai dengan inba’ (pemberitaan) hakikat ghaibi dalam maqam ilmiyyah.   

Dalam definisi Imam Khomeni ini disebutkan untuk nubuwwat dan inba’ dua maqam. Pertama, maqam ‘aini (luar) yang merupakan penampakan hakikat-hakikat Ilahiyyah, asma, dan sifat rububiah, dan kedua, maqam ilmiyyah dimana pemberitaan ghaibi mengambil bentuk di dalamnya. Oleh karena itu, nabi dalam konteks ini seseorang yang menampakkan hakikat-hakikat Ilahiyyah, yakni makrifat-makrifat yang berhubungan dengan zat, sifat, dan asma hadhrat Haq SWT yang sesuai dengan maqam ilmiyyah.

Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi membagi kenabian kepada kenabian ta’rifi dan tasyri’i, dimana menurutnya kenabian ta’rifi tidak akan pernah terputus, sebab ia merupakan mazhar ism al-wali dan misdak inni jaailun fil ardhi khalifah (QS, 2 : 30). Dan kenabian ta’rifi ini juga disebut kenabian umum, karena ia untuk semua keturunan Adam As. Tentang matlab ini Ibnu Arabi berkata: Kenabian ta’rifi adalah mutlak kenabian, kenabian umum dan juga dikatakan kenabian batin. Kenabian ini tidak akan terputus dan berakhir, bahkan langgeng sampai hari kiamat.

Adapun nabi menurut Ibnu Arabi adalah seseorang yang mendapatkan wahyu dari sisi Tuhan dengan perantara malaikat dan wahyu tersebut mengandung syariat dimana dirinya konsisten kepada syariat tersebut. Dan jika dia diutus dengan syariat itu kepada masyarakat maka dalam hal ini dia juga adalah Rasul.

Dari penjelasan Ibnu Arabi tentang nabi tersebut di atas, jelaslah yang dimaksud adalah kenabian syariat, dimana seseorang mendapatkan wahyu dari sisi Tuhan dengan perantara malaikat yang disampaikan kepadanya dalam bentuk wahyu syariat serta dirinya mesti konsisten kepada syariat dan hukum-hukum dari Tuhan tersebut. Dan jika syariat itu juga diperuntukkan untuk disampaikan kepada masyarakat maka dia di samping sebagai nabi juga adalah seorang rasul.

Oleh karena itu, menurut Ibnu Arabi, kendatipun kenabian dari dimensi kenabian wahyu tasyri’i terputus dengan kenabian Khatamul Anbiyaa SAW, akan tetapi kenabian dari dimensi kenabian ta’rifi (yang juga merupakan tingkatan wilayah Muhammadi)  tidak pernah terputus, sebab kenabian ini merupakan mazhar ism al-wali   yang juga disebut kenabian umum dan berlaku untuk semua keturunan Adam As.    

Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW bersabda: “Saya telah nabi sementara hadhrat Adam As masih di antara air dan tanah.” Riwayat ini menerangkan tentang hakikat Muhammadiyah, dimana hakikat ini merupakan pusat dan pusaran alam eksistensi dan cakupan hakikat kenabiannya meliputi seluruh tingkatan-tingkatan gaib dan syuhud alam imkan.

Suatu poin perlu diketahui bahwa menurut Ibnu Arabi, setiap kenabian dari Nabi Adam As sampai nabi paling akhir, tidak satupun dari mereka memiliki kenabian kecuali mereka peroleh dari misykat-misykat Nabi Khatam SAW, kendatipun keberadaan tinat (tanah) hadhrat Khatam SAW dari sisi zaman terakhir dari mereka. Sebab hakikat Nabi Khatam SAW sebelum kenabian para nabi, Rasul SAW secara batin dan ruhani telah ada dan mereka memperoleh kenabian dari hakikat dan ruhani tersebut, karena itu beliau bersabda: “Saya telah nabi sementara hadhrat Adam As masih di antara air dan tanah”, dan para nabi lainnya tidak ada mereka nabi sebelumnya kecuali ketika mereka dibangkitkan serta diutus.

Wilayat

Sebagaimana telah diisyaratkan, wilayat ditinjau secara bahasa mempunyai makna pertolongan, kepemimpinan, dan kecintaan. Dan kata wali, wilayat, maula, auliya, dan sejenisnya yang semuanya dari derivasi maddah waly (huruf wau,lam,ya) merupakan kata-kata yang sangat banyak digunakan dalam Al-Quran. Kata-kata tersebut dalam bentuk kata benda, kata kerja, tunggal, dan jamak disebutkan dalam Al-Quran dalam jumlah 233 kali. Banyaknya penggunaan kata ini beserta derivasinya dalam Al-Quran menunjukkan tingkat keurgenan masalah yang berhubungan dengannya.

Wilayat dalam Istilah Irfan

Dalam istilah ahli irfan, wilayat digunakan berhubungan dengan kedekatan kepada Allah SWT. Yakni berkenaan kecintaan atau mahabbah yang termanifestasi dalam bentuk hubungan antara muhibb (pencinta) dan mahbub (yang dicintai) atau murid dan murad. Ketika hamba fana dari dirinya dan menemukan  kebaqaan pada Haq SWT maka sang hamba telah mendapatkan wilayat. Dan hal itu terjadi ketika Haq  SWT mengambil alih perkaranya sampai Dia menyampaikannya kepada maqam qurb (kedekatan) dan tamkin (ketenangan). Adapun makna sempurna wilayat mendapatkan realitasnya ketika hamba di samping fana dalam Tuhan, akhlaknya juga berganti dengan akhlak Ilahi dan dengan akhlak Allah dia berakhlak serta dengan sifat-sifat Allah dia merealitas; sedemikian rupa hingga ilmunya, kuasanya, kehendaknya, dan perbuatannya semuanya adalah ilmu, kuasa, kehendak, dan perbuatan Ilahi. Hamba ini merupakan misdak dari hadits: “Sang hamba senantiasa mendekat kepada-Ku dengan nawâfil  (ibadah-ibadah sunnat) sehingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya, penglihatannya, lisannya, tangannya, dan kakinya. Dan dengan-Ku dia mendengar, melihat, berbicara, dan berupaya.”  Kedekatan ini yang merupakan hasil melaksanakan nawâfil masyhur dengan sebutan qurb nawâfil dan dia membawa pesalik hingga maqam kecintaan. Dan karena dia sampai pada maqam ini maka pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, dan kakinya semuanya menjadi realitas manifestasi Haq SWT.

Wilayat adalah suatu hakikat universal yang mempunyai kekhususan-kekhususan demikian ini:

1.    Suatu dimensi dari dimensi-dimensi Zati Haq SWT.

2.    Pangkal penampakan dan mabda determinasi (penentuan).

3.    Tersifati dengan sifat Zati Ilahi.

4.    Sebab zuhurnya hakikat-hakikat ciptaan.

5.    Sebab penentuan nama-nama Ilahi dalam hadhrat Ilmiyyah.

Hakikat wilayat seperti hakikat wujud, dia bertajalli pada seluruh hakikat dan dia mengalir dalam seluruh hakikat dari wajib, mumkin, mujarrad (non-materi), dan materi.

Wilayat dari sudut pandang lain bermakna berbuat dalam ciptaan secara Haq SWT menurut tinjauan batin dan ilham –bukan wahyu- sesuai dengan perintah Tuhan. Pengertian ini berhubungan dengan dimensi aplikatif wilayat di antara makhluk dan ciptaan. Para wali Tuhan yang fana dari dirinya dan langgeng bersama Haq SWT, dia berbuat di tengah-tengah ciptaan secara Hak SWT, bukan atas dasar dirinya.

  1. Bukankah Aksara Allah itu sendiri adalah wahyu, yang kemudian tumbuh berkembang pemahamannya dalam diri manusia…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: