Isra Mikraj : Antara Iman dan Akal

Oleh : Almin Jawad

“Addinu huwal ‘aqlu la dina li man la aqlalahu; Agama itu akal, tidak beragama bagi mereka yang tidak mempergunakan akalnya” -Hadis-

Bagi sebagian orang, peristiwa Isra Mikraj dianggap tidak boleh diterima oleh akal. Peristiwa itu merupakan sesuatu yang harus diterima oleh iman, ia termasuk ke dalam masalah akidah. Isra Mikraj adalah peristiwa ketika iman kita diuji. Apakah keimanan kita tunduk pada akal, atau akal kita yang sepenuhnya tunduk pada wahyu.

Untuk itu, beberapa orang menjadikan ketundukan akal pada wahyu sebagai ukuran keimanan seseorang. Anda akan tergolong mukmin jika menerima begitu saja kebenaran peristiwa Isra Mikraj tanpa perlu anda pahami. Saya ingin mempertanyakan, betulkah peristiwa Isra Mikraj itu tidak masuk akal? Saya berpendapat, agama itu harus diuji oleh akal; bahkan agama hanya khusus untuk orang-orang yang berakal. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan hal itu. Jadi, alangkah mengherankan kalau kemudian agama tidak boleh diterima akal. Untuk memahami apakah Isra Mikraj itu masuk akal atau tidak, kita harus menjernihkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan masuk akal itu.

Umumnya, orang menyebut sesuatu itu masuk akal untuk tiga hal; pertama, orang beranggapan bahwa sesuatu itu tidak masuk akal jika sesuatu itu tidak empiris. Yang dimaksud dengan empiris adalah hal-hal yang bisa diukur (verifikasi), bisa dilihat dengan panca indera, bisa dilacak secara material, serta tidak gaib. Banyak orang yang mengatakan kalau hal-hal yang gaib itu tidak masuk akal. Menurut saya, itu tidak benar. Yang gaib ataupun yang lahir, sama-sama masuk akal. Bila luka disembuhkan dengan mercurochome atau obat merah, kemudian kita bisa lacak secara empiris mengapa obat merah itu bisa menyembuhkan luka, maka orang mempercayainya sebagai hal yang masuk akal. Tetapi ada juga orang yang menyembuhkan luka dengan membaca Al-Fatihah atau mantra tertentu yang diambil dari ayat-ayat Al-Quran. Nenek saya dapat melakukannya. Ia mengobati luka saya dengan membaca Al-Fatihah: dia tiup luka itu, dan luka itu tertutup kembali. Saya menyaksikannya sendiri. Itu bukan tidak masuk akal; hanya saja tidak bisa dilacak secara empiris. Itulah hal-hal gaib.

Kedua, orang menganggap sesuatu tidak masuk akal kepada hal-hal yang menyimpang dari rata-rata. Pernah di suatu majelis ilmu, saya menceritakan tentang kekuatan Imam Ali bin Abi Thalib Kw dalam perang Khaibar. Dalam kisah itu, Imam Ali mengangkat pintu benteng Khaibar sendirian kemudian dijadikan tameng. Setelah perang usai, pintu benteng Khaibar itu bahkan dijadikan jembatan. Beberapa orang mencoba mengangkat pintu benteng Khaibar itu tetapi tidak sanggup. Belum selesai saya bercerita, seorang hadirin berkata, “Heran, Anda ini orang yang rasional tapi mempercayai cerita-cerita yang tidak masuk akal seperti itu.” Dia menganggap cerita Imam Ali mengangkat pintu, yang amat berat sendirian yang tidak bisa diangkat oleh puluhan orang lain, sebagai cerita yang tidak masuk akal. Padahal, ia sebetulnya bisa lebih bijak dengan mengatakan, “peristiwa itu keluar dari rata-rata kebiasaan orang”. Dalam Guinnes Book of Records dicatat ada orang yang bisa menarik pesawat yang sedang lepas landas dengan giginya. Ada juga orang yang menarik mobil dengan kedua daun telinganya. Itu bukan tidak masuk akal, itu hanya menyimpang dari rata-rata. Bahkan, dalam ilmu Statistik,  ada yang dinamakan dengan kurva bel. Di dalamnya selalu terdapat data yang menyimpang dari rata-rata. Ini berarti, yang menyimpang dari rata-rata itu tidak berarti bahwa data itu tidak masuk akal. Karena yang masuk akal itu bukan hanya yang rata-rata atau yang biasa saja.

Ketiga, banyak orang yang menganggap sesuatu itu tidak masuk akal karena ketiadaan pengetahuan atau tidak memahaminya. Bagi saya, inilah cara berpikir yang paling primitif diantara cara berpikir sebelumnya. Orang yang berpikir dengan cara seperti ini sering menjeneralisir apa yang tidak dipahaminya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, meskipun sesuatu itu dipahami oleh orang lain. Saya ingin mengingatkan, hendaklah kita tidak mudah menganggap sesuatu itu tidak masuk akal hanya karena kita belum memiliki ilmu tentang sesuatu itu; hanya karena akal kita belum sampai di situ. Sehingga kita mengatakan bahwa peristiwa Isra Mikraj itu tidak masuk akal, dan karena itu, tidak usah diterima oleh akal melainkan harus diterima dengan iman saja.

Menurut saya, peristiwa Isra Mikraj itu adalah peristiwa yang sangat masuk akal dan bahkan sangat logis. Hanya saja memang peristiwa ini tidak empiris, tidak tunduk pada hukum-hukum fisika biasa. Bagi saya, semua ajaran agama itu bisa kita renungkan melalui akal kita. Dalam bukunya Isra Mikraj; Sebuah Pandangan Alternatif, Nashir Makarim Syirazi mengatakan bawa hakikat-hakikat agama yang telah terbukti kebenarannya mesti memiliki keselarasan dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang sudah pasti kebenarannya.

Saya ingin menjelaskan peristiwa Isra Mikraj itu secara analogis untuk memperoleh pahaman yang logis. Hal ini menunjukkan berbagai macam cara orang menjelaskan Isra Mikraj, bergantung tingkat akalnya masing-masing.

Alkisah, seekor lalat higgap di atas susu yang diminum seorang penumpang yang sedang menunggu pesawat terbang. Ketika orang itu naik pesawat (boarding), lalat itu ikut menempel pada pakaiannya dan ikut terbang ke Singapura. Saat pesawat itu kembali ke Jakarta, lalat itu ikut lagi. Di bandara Jakarta, lalat itu bercerita kepada lalat-lalat lain yang tengah berkerumun bahwa ia baru saja kembali dari Singapura. Lalat yang lain mengatakan bahwa ini tidak masuk akal sambil mengatakan bahwa kemampuan terbang lalat pada dasarnya hanya beberapa kilometer saja. Bagaimana mungkin ia terbang ke Singapura dan kembali lagi ke Jakarta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Abdul Gafur, seorang kolomnis di Harian Pelita, yang mengisahkan cerita di atas, mula-mula gelisah memikirkan peristiwa Isra Mikraj sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Begitu mendengar cerita lalat itu, kegelisahannya hilang. Seperti Abdul Ghafur, saya juga mengalami kebingungan dalam memahami peristiwa Isra Mikraj. Tetapi kebingungan saya segera hilang setelah membaca cerita di atas. Kini, kepada anda, saya juga ingin mengisahkan cerita itu untuk menghilangkan kebingungan anda perihal peristiwa Isra Mikraj.

Berdasarkan satu hadis, saya sangat percaya bahwa agama itu sangat mudah diterima oleh akal. Walaupun banyak orang yang mengatakan hadis ini dha’if, tetapi hadis ini memiliki matan yang benar. Hadis itu berbunyi: “Addinu huwal ‘aqlu la dina li man la aqlalahu; Agama itu akal, tidak beragama bagi mereka yang tidak mempergunakan akalnya”. Jadi dalam peristiwa Isra Mikraj, kita tidak usah ragu menggunakan akal kita. Jangan gunakan alasan iman untuk mematikan akal dan untuk menghambat pikiran kita. Sekali-kali jangan katakan ‘sesuatu tidak masuk akal’ hanya karena anda tidak memahaminya.

Akan tetapi, akal saja tidak cukup. Kita percaya bahwa di dalam agama Islam, akal bukanlah satu-satunya cara untuk mengetahui sesuatu; paling tidak ada tiga cara. Cara yang pertama ialah dengan penginderaan; seeing is believing. Kita mengetahui sesuatu setelah kita melihatnya. Menurut Al-Quran, cara itu adalah cara yang paling elementer tingkatannya. Cara yang kedua, kita bisa mengetahui adanya sesuatu lewat akal pikiran kita, walaupun indera kita tidak melihatnya. Cara yang ketiga –belum ada nama untuk cara ini– sebagian orang menyebutnya dengan rasa. Tetapi perasaan itu sangat rendah dan bahkan sering keliru dalam memahami sesuatu. Jadi sebut saja itu mengetahui dengan kalbu. Menurut ahli Irfan, kita bisa mengetahui sesuatu tidak lewat akal, tidak juga lewat penginderaan, tetapi melalui riyadhah, dengan mendekatkan diri kita kepada Allah. Allah akan memberikan ilmu itu jika kita benar-benar bertaqarrub kepada-Nya. Jadi, ada ilmu yang diberikan Allah secara langsung kepada seseorang setelah ia mendekati-Nya. Dengan kata lain, ada ilmu yang diperoleh hanya dengan menjalankan ibadat-ibadat tertentu. Kadang-kadang ilmu seperti itu boleh jadi bertentangan dengan kedua cara yang lain itu. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: