RISALAH PANDANGAN DUNIA (25)

Oleh : Muhammad Nur

 Tauhid dalam Uluhiyah

Yang dimaksud dengan tauhid Uluhiyah bahwa hanya Tuhan saja yang layak dan mesti disembah dan wujud lainnya tidak layak memiliki posisi Uluhiyah. Dalam Quran terdapat banyak ayat dalam mengisyarahkan pembagian tauhid ini. Misalnya pada ayat ‘laa ilaha illallah’, biasanya setelah kalimat ini diikuti dengan ‘tak ada sesuatu apa pun yang layak disembah kecuali Allah SWT’.

Beberapa ayat-ayat lainnya yang berkenaan dengan tauhid dalam Uluhiyah adalah berikut ini: pada surah An-Naml : 60 “. . . Apakah bersama Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah kaum yang menyimpang (dari kebenaran). Ayat 61 : “. . . Apakah bersama Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. Ayat 62 : . . . Apakah bersama Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati-(Nya). Ayat 63 : “. . . Apakah bersama Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).

Sebagaimana yang terlihat pada beberapa ayat di atas, istifham (kalimat dalam bentuk pertanyaan) yang digunakan pada ke empat ayat di atas adalah istifham inkari (bentuk pertanyaan yang pada hakikatnya tidak bertanya, namun pertanyaan yang berisikan pengingkaran) dan menafikan adanya tuhan yang lain bersama Allah SWT.

Pada surah Al-Baqarah : 163, “Dan Tuhan-mu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Juga pada surah Thaha : 98, “Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia.” Juga pada surah As-Shaffat : 4, “Sesungguhnya Tuhan-mu benar-benar Esa.” Pada ayat terakhir ini terdapat huruf ‘inna’ dan ‘lam’ yang menunjukkan penegasan atas tauhid dalam Uluhiyah. Juga terdapat beberapa ayat lainnya dalam Quran, namun demi menjaga keringkasan pembahasan ini, kami tidak akan menyebutkan semuanya.

Konsep Ilah

‘Ilah’ secara gramatikal bahasa arab berdasarkan wazan (timbangan) fiʻâl dan dengan makna isim mafʻȗl. Dalam penerjemahan bahasa biasanya diterjemahkan dengan kata ‘yang disembah’, seperti ‘kitâb’ dalam pemaknaan ‘maktȗb’ atau ‘yang ditulis’. Mesti dipahami bahwa terkadang pada sebagian kata, yang diinginkan darinya adalah makna kelayakan dan potensi terhadap makna aslinya. Misalnya kata ‘kitâb’, terkadang digunakan pada sesuatu yang belum ditulis, namun memiliki potensi atau kelayakan untuk ditulis. Misalnya dilihat dari sisi bahwa pembahasan tersebut layak untuk ditulis, maka berkenaan dengan hal tersebut kita menggunakan kata ‘kitâb’. Salah satu makna kata Quran adalah bacaan, meskipun pada waktu tertentu kitab tersebut tak dibaca, namun meskipun demikian, penyebutan kitab tersebut dengan Quran tetap saja benar. Karena Quran adalah sebuah kitab yang dapat dibaca dan layak dibaca. Kata ‘ilah’ juga bermakna demikian yaitu terkadang dimaknai dengan sesuatu yang layak disembah.

Setelah menjelaskan makna kata ilah, kita bisa mendapatkan maksud ayat-ayat yang berkenaan dengan tauhid Uluhiyah bahwa tak satupun wujud yang layak disembah kecuali Allah SWT dan sembahan hakiki hanya pada Tuhan yang tunggal dan esa.

Kritik ; Jika menurut Quran, tak ada satu pun wujud yang layak disembah kecuali Tuhan dan ayat-ayat yang telah disebutkan secara keseluruhan menunjukkan pada maqam tauhid Uluhiyah, lalu bagaimana pada sebagian ayat-ayat Quran di mana kata ‘ilah’ bisa ditujukan pada lebih dari satu wujud. Maksudnya kata ini digunakan dalam bentuk jamak atau dualitas. Sebagai contoh pada surah An-Nahl : 51, “Allah berfirman, “Janganlah kamu menyembah dua tuhan (ilahaynitsnayni); sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” Juga pada surah Maryam : 81, “Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan (âlihatan) selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi nilai kemuliaan bagi mereka.

Pertanyaannya, apakah penakbiran dengan kata ‘dua tuhan’ dan ‘sembahan-sembahan’ bertentangan dengan tauhid dalam Uluhiyah?

Jawab ; Tuhan menjelaskan sebagian besar ayat-ayat yang ada di dalam Quran, disesuaikan dengan anggapan dan asumsi orang-orang yang berlawanan dengan-Nya. Pada ayat di atas juga demikian halnya bahwa, kata ‘ilah’ bisa dikaitkan pada lebih dari satu wujud sebagaimana yang ditunjukkan oleh pemikiran dan keyakinan kaum musyrikin. Menurut kaum musyrikin, selain Tuhan, terdapat wujud lain yang layak disembah dan dipertuhankan. Oleh karena itu, mereka terkadang takluk dan pasrah dihadapan berhala-berhala batu, kayu, terkadang pula dihadapan matahari atau bulan dan seterusnya. Oleh karenanya mereka pun menyembahnya. Berkenaan dengan pemikiran ini, dalam menghadapi anggapan salah kaum musyrikin, Quran juga menggunakan kata ‘ilah’ yang mana menurut kaum musyrikin ‘ilah’ menunjukkan berhala-berhala yang mereka sembah. Namun dalam ayat-ayat tersebut, Quran sama sekali tidak bermaksud untuk menjelaskan bahwa berhala-berhala tersebut adalah hakikat sembahan.

Dengan memperhatikan pada apa yang telah kami sampaikan, akan terlihat dengan jelas jawaban terhadap kritikan berkenaan dengan kalimat ‘laa ilaha illallah’. Makna kalimat tersebut sama sekali tidak bermakna bahwa terdapat beberapa ‘ilah’ dan sembahan-sembahan yang lain disamping Allah SWT. Tentunya hanya satu wujud saja di antara wujud yang ada yang  menunjukkan hakikat realitas, wujud tersebut adalah wujud Allah SWT semata. Bahkan makna ayat tersebut bahwa hanya Allah SWT semata yang layak disembah. Ayat-ayat yang telah dijelaskan sebelumnya – misalnya ayat “Apakah bersama Allah ada tuhan (yang lain)?” – menegaskan perkataan sebelumnya dalam menafikan segala bentuk kelayakan dalam penyembahan terkecuali kepada Allah SWT.

Kelaziman di antara Pembagian Tauhid

Setelah menjelaskan makna kata ‘ilah’ yaitu wujud yang disembah, maka pertanyaan selanjutnya, siapakah wujud yang layak disembah tersebut? dan apa yang melazimkan bahwa hanya Dia satu-satunya yang layak disembah?

Melalui pandangan dan analisa yang jernih, kita akan mengetahui bahwa wujud yang layak disembah dan manusia memang selayaknya bersujud dalam berhadapan dengan-Nya disebut dengan ‘rabb’. Sebagaimana yang telah kami uraikan makna ‘rabb’ pada pembahasan sebelumnya bahwa, hanya Dia Sang Pemilik dan Pengatur seluruh makhluk pada alam eksistensi termasuk keberadaan manusia. Hanya Dia yang dapat mengatur segala urusan kita secara independen dan tanpa butuh izin pada siapa pun. Berdasarkan hal ini pula, hanya wujud seperti ini yang dapat mempengaruhi diri kita dalam perjalanan puncak kesempurnaan yang secara fitrawi kita memiliki kecenderungan ke arah tersebut. Kesimpulannya, ‘rabb’ merupakan sebuah keberadaan di mana seluruh perkara alam – termasuk diri kita – berada  ditangan-Nya. Diri kita adalah yang dimiliki, penyembah dan hamba, sedangkan Dia adalah Sang Pemilik, Raja, dan Tuhan kita. Dengan memperhatikan hal ini, kita menyadari bahwa hanya wujud seperti ini yang mampu membuat manusia pasrah dan tunduk dengan kecintaan di hadapan-Nya. Manusia meletakkan diri-Nya sebagai wujud yang disembah. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa antara tauhid dalam Uluhiyah dengan tauhid dalam rububiyah terdapat hubungan yang saling melazimkan di mana keduanya merujuk kepada objek yang satu. Baik itu tauhid dalam Uluhiyah dan tauhid dalam rububiyah, keduanya merujuk kepada satu wujud yang tunggal yaitu wujud Allah SWT.

Di sisi lain, dalam menjelaskan konsep ‘rabb’, kami katakan bahwa yang dimaksud dengan pemilikan yang dinisbahkan kepada Tuhan, sama sekali bukan dalam pengertian iktibari atau kesepakatan. Namun yang dimaksud adalah pemilikan secara hakiki yang berkaitan dengan penciptaan. Maksudnya,  jika yang dimaksud bahwa Tuhan sebagai pencipta seluruh fenomena-fenomena eksistensi, maka pemilik secara hakiki juga hanya bagi-Nya. Oleh karena itu, ketika kita mengatakan bahwa Tuhan sebagai pemilik keberadaan, maka pertama-tama kita menerima bahwa Dia sebagai pencipta seluruh keberadaan ini. Di sini bisa kita simpulkan bahwa antara rububiyyah dan khaliqiyyah (penciptaan) terdapat hubungan yang kuat dan saling melazimkan. Sampai di sini, telah jelas bahwa dikarenakan pada rububiyyah bisa ditarik darinya pemahaman malikiyyah (pemilikan) maka juga akan melazimkan khaliqiyyah (penciptaan).                                    

Diterjermahkan dari Buku : “Ămuzesy-e ‘Aqâ‘id” Tim Penulis : Mohsen Gharaveyân, Mohammad Reza Ghulâmî, Sayed Mohammad Husain  Mirbâqerî).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: