Rahbar : Wahai Syiah dan Sunni, Bersatulah!!!

Pemimpin Besar Revolusi Islam atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei pada kunjungannya ke provinsi Kermanshah yang memasuki hari keenam, berbicara di hadapan masyarakat kota Paveh dan Uramanat. Dalam kesempatan itu, Rahbar mengingatkan upaya musuh yang terus menerus menebar perselisihan antara Syiah dan Sunni.

“Bangsa Iran yang bersatu telah memadukan antara kesetiaan kepada Islam dan cita-cita Revolusi Islam dengan logika, kemajuan ilmu, ekonomi dan partisipasi di berbagai kancah politik dan sosial yang semuanya melahirkan parameter yang menjadi petunjuk arah bagi gerakan agung bangsa-bangsa di kawasan,” jelas Rahbar dalam pidatonya.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei juga menandaskan, “Berkat kemenangan Revolusi Islam, serta partisipasi dan keterlibatan rakyat dalam berbagai persoalan negara, dunia saat ini memandang bangsa Iran sebagai bangsa Muslim yang pandai dan arif serta bangsa yang terdepan dan maju di berbagai bidang. Dengan mengandalkan identitas kolektif ini, bangsa Iran bisa memainkan peran besar di era Kebangkitan Islam.”

Menurut Rahbar, pandangan antusias bangsa-bangsa di kawasan terhadap bangsa Iran ini merupakan kesempatan yang bagus untuk berperan lebih besar dalam membangun opini umum dunia Islam.

Dalam pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa bangsa Iran dan Republik Islam Iran tidak mengklaim diri sebagai pemimpin bagi bangsa-bangsa di kawasan.

“Setiap bangsa harus mengandalkan potensi, kemampuan dan jatidirinya masing-masing untuk memilih jalan yang diinginkan. Tapi tak diragukan bahwa bangsa-bangsa di kawasan menaruh perhatian yang khusus kepada bangsa Iran karena melihat potensi dan kapabilitas yang dimiliki bangsa Iran dalam 32 tahun terakhir,” jelas beliau.
Rahbar mengingatkan kembali bahwa musuh mengenal dengan baik potensi bangsa Iran untuk menjadi teladan. Karena itu, musuh-musuh Islam dan Iran berusaha keras mencegah terbentuknya persepsi yang memandang Republik Islam Iran sebagai panutan di kawasan.

Beliau menyebut upaya menebar perselisihan antara Syiah dan Sunni baik di Dunia Islam maupun di dalam wilayah Iran sebagai agenda strategis musuh saat ini. Beliau menambahkan, “Kita umat Islam, baik Syiah maupun Sunni, memiliki banyak kesamaan dalam agama dan akidah. Kita juga mempunyai banyak kepentingan yang sama. Akan tetapi musuh berusaha mengecilkan persamaan-persamaan yang ada untuk mewujudkan target hegemoni mereka.”

Ayatullah al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa keakraban dan solidaritas yang kuat antara Syiah dan Sunni di Iran ibarat pukulan telak atas muka para konspirator. Beliau menandaskan, kelestarian hubungan yang akrab dan bersaudara ini membawa pesan kepada musuh bahwa Iran bukan tempat untuk menebar perselisihan. Sama seperti sebelumnya, bangsa Iran yang bersatu maupun para pejabat negara, baik saat ini maupun di masa mendatang, tak akan mundur menghadapi siapapun dan tekanan apapun.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut perlawanan dan muqamawah yang kontinyu dan sadar sebagai solusi tunggal untuk menggagalkan aksi musuh-musuh Islam dan umat Islam. Kepada umat Islam beliau mengatakan, “Tegarlah menghadapi musuh seperti ketegaran bangsa Iran. Sebab, jika tidak, musuh akan semakin berani. Setelah berhasil memecah-belah antara Syiah dan Sunni mereka akan mencerai-beraikan antara kelompok-kelompok di tubuh Sunni sendiri.”

Lebanon Tidak Akan Bertahan Tanpa Hizbullah

Politisi senior Lebanon menyatakan bahwa negara ini tidak akan mampu bertahan eksis dalam menghadapi agresi rezim Zionis Israel tanpa gerakan muqawamah Hizbullah, dan masa depan Lebanon sangat berkaitan erat dengan gerakan tersebut.

Pemimpin Gerakan Patriotik Bebas (FPM) Michel Aoun, membicarakan berbagai fakta dalam Perang 33 Hari Israel-Hizbullah, dengan radio lokal dan menyatakan, “Kita tidak akan mampu bertahan hidup sebagai sebuah negara tanpa kekuatan perlawanan ini atau tanpa dukungan gerakan muqawamah.” Demikian dilaporkan Daily Star terbitan Lebanon.

Ditambahkannya, “Dari sinilah formula itu muncul, yaitu gabungan antara militer dan muqawamah. Keduanya bersatu dan saling terkait dalam melawan musuh.”

Menyinggung masa depan yang terikat erat dengan berlanjutnya muqawamah Hizbullah, Aoun memperingatkan watak agresif Israel dan keserakahan rezim Zonis untuk mengontrol dan ekspansi.

“Selama Israel tidak menciptakan perdamaian dengan sekitarnya … maka tahun 2006 menjadi tonggak awal dimulainya keruntuhan rezim Zionis dan tidak ada yang dapat mencegahnya karena sangat sulit untuk mengembalikan semangat kepada orang-orang Israel,” tutur Aoun.

Serangan massif Israel ke Lebanon dan bulan Juli 2006, yang dikenal dengan Perang 33 Hari, telah mengakibatkan gugurnya 1.200 warga Lebanon yang mayoritasnya adalah dari pihak sipil.

Sejak saat itu, Israel nyaris setiap hari melanggar zona udara Lebanon.

Pemerintah Lebanon, gerakam muqawamah Lebanon, dan Pasukan PBB untuk Lebanon Selatan (UNIFIL), berulangkali mengecam penerbangan tersebut dan menilainya sebagai pelanggaran nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701. Resolusi tersebut, mengakhiri perang pada Juli 2006 antara Hizbullah dan Israel serta mewajibkan Tel Aviv untuk menghormati kedaulatan Beirut.

Nasrullah: Saya Menyaksikan Ketakutan Hebat di Mata Netanyahu

Sekjen Gerakan Muqawamah Islam Lebanon (Hizbullah), Sayyid Hasan Nasrullah,  tampil di televisi menyampaikan pidatonya dan menekankan bahwa muqawamah tetap berlanjut. Beliau memperingatkan negara-negara Arab untuk tidak melakukan perundingan damai dengan rezim Zionis Israel.

Sayyid Nasrullah menuding Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel berupaya merampas gerakan revolusi rakyat di negara-negara Arab. Dikatakannya bahwa kemenangan telah dekat.

Kantor berita IRNA melaporkan, pidato Sayyid Nasrullah itu dalam rangka memperingati 11 tahun pembebasan wilayah selatan Lebanon dari pendudukan rezim Zionis.

Seraya menyebut Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, sebagai dua tokoh penjajah, Sayyid Nasrullah menegaskan, “Berbagai peristiwa dalam tiga dekade terakhir membuktikan bahwa satu-satunya cara yang efektif adalah muqawamah.”

Dijelaskan beliau, “Ketika saya mendengar sikap dan pernyataan Obama di depan AIPAC dan pidato Netanyahu di Kongres, saya semakin yakin pada jalan yang telah saya tempuh selama ini.”

“Yaitu perlawanan bersenjata rakyat. Adapun solusi gila dan tidak logis yang hanya mengakibatkan kehinaan adalah jalan perundingan yang mereka istilahkan dengan perundingan damai,” ungkap Sayyid Nasrullah.

Jangan Berunding

Lebih lanjut Sayyid Nasrullah menjelaskan, “Setelah saya mendengar pernyataan Obama dan Netanyahu, saya meminta negara-negara Arab untuk menjauhi meja perundingan dengan Israel.”

“Netanyahu dalam dua hari terakhir di Kongres Amerika Serikat, berbicara tetang roket-roket Hizbullah dan Hamas. Ketakutan itu tampak sekali dari matanya dan pernyataan kami adalah bahwa apa hasil dari pidato Obama atau Netanyahu bagi Palestina atau pemerintah Otorita, serta kelompok-kelompok Palestina? Obama kembali menyatakan dukungannya terhadap keamanan rezim Zionis dan keunggulan Israel dibanding negara-negara lain di kawasan,” tegas Nasrullah.

Menyinggung klaim Netanyahu bahwa Baitul Maqdis, selamanya akan menjadi ibukota Israel dan juga masalah nasib pengungsi Palestina, Sekjen Hizbullah menandaskan, “Di Kuwait, Raja Arab Saudi menyatakan bahwa prakarsa negara-negara Arab tidak akan mampu bertahan lama di atas meja perundingan. Setelah pernyatan itu, kini saya meminta negara-negara Arab untuk mundur dari meja perundingan karena memang sudah saatnya.”

Kekalahan Netanyahu Pasti

Sekjen Hizbullah mengatakan, “Kemenangan telah terhampar di depan Anda, di saat kemarin saya menyaksikan kekalahan pada kening Netanyahu.”

Beliau menambahkan, “Muqawamah tetap merupakan sahabat setia yang berkaitan erat dengan tujuan, berbagai penderitaan, dan pengorbanan para syuhada. Seperti yang telah saya kemukakan pada tahun 2006, kini tiba saat kemenangan.”

Sheikh Al-Azhar : Mesir Tak Perlu Bantuan Barat

Sheikh Al-Azhar, Ahmad Tayyib, dalam pertemuannya dengan delegasi Uni Eropa yang berkunjung ke Kairo menekankan bahwa Mesir tidak memerlukan bantuan Barat.

Koran Almesryoon yang dikutip Kantor Berita Fars News melaporkan, Ahmad Tayyib,  menerima delegasi Uni Eropa di Al-Azhar yang dipimpin oleh Bernardino Leon. Pertemuan itu merupakan kunjungan kedua pejabat tinggi Eropa di Al-Azhar pasca lengsernya Hosni Mubarak.

Dalam pertemuan tersebut, Ahmad Tayyib kepada delegasi tersebut menegaskan bahwa Mesir tidak perlu uang dan bantuan Barat. Menurut Tayyib, Barat mempunyai tujuan tertentu dalam membantu Mesir. Di antara tujuannya adalah penyebaran kebudayaan Barat di Mesir yang membuat perempuan-perempuan negeri ini berpakaian ala Barat dan mempengaruhi pemikiran pemuda.

Sheikh Al-Azhar mengatakan, “Kita memerlukan bantuan yang membangun kemajuan ilmu, pendidikan, kesehatan dan pengentasan kemiskinan. Atas dasar syarat ini, kita bisa bekerja sama dengan Barat.”

Dengan tetap menghormati tamunya, Ahmad Tayyib mengatakan, “Kami menolak sistem sekuler di Barat yang berusaha dikembangkan ke negara-negara Islam. Apa yang diharapkan Barat adalah penerapan sistem sekuler. Namun hal ini tak dapat diterima, karena Timur mempunyai kebudayaan dan nilai-nilai tinggi sendiri.”

Meski mengkritik pedas, Ahmad Tayyib kepada tamunya tetap mengatakan, “Kami menyambut segala bentuk dialog dan perundingan dengan Uni Eropa karena pintu Al-Azhar selalu terbuka untuk siapa saja.”

Rakyat Mesir  Tuntut Pemutusan Hubungan Dengan Israel

Rakyat Mesir menuntut pemutusan hubungan negaranya dengan rezim Zionis Israel.

Televisi al-Alam Sabtu  melaporkan, rakyat Mesir berkumpul di depan konsulat rezim Zionis di kota Iskandariyah, Mesir utara dan menekankan pemutusan hubungan dengan Tel Aviv serta pengusiran dubes rezim ilegal ini dari Kairo.

Para demonstran dengan slogan-slogannya, menyuarakan dukungannya terhadap rakyat tertindas Palestina. Aksi demo ini terhitung sejumlah aksi anti Israel yang digelar pasca tergulingnya diktator Hosni Mubarak. Pekan lalu juga terjadi aksi serupa di depan kedutaan besar Israel di Kairo.

KIDUNG SUCI TERAKHIR

IMAM HUSAIN BIN ALI BIN ABI THALIB

Dengan Asma Allah yang Mahakasih dan Mahasayang

Doa ini adalah doa terakhir Imam Husain yang diberikan

kepada putranya, Imam Ali Zainal Abidin.

Menurut riwayat, Imam Husain kembali ke kemah pada saat-saat

terakhirnya di Karbala. Beliau memeluk Imam Ali Zainal Abidin

seraya berkata, “Anakku, aku diberi doa ini oleh nenekmu yang agung

(Sayyidah Zahra) dan dari kakekmu yang agung Rasulullah SAW.

Beliau membaca doa ini ketika hendak memulai Perang Badar dan

Perang Ahzab. Untuk hajat dan kepentingan, kesedihan dan cobaan

yang berat, serta urusan yang besar dan menyulitkan,

hafalkan doa ini olehmu.”

Setelah membacakan doa itu, Imam Husain pergi dari kemah

(memasuki medan laga) dan tidak pernah kembali lagi (syahid).

Dengan haknya Yasin dan Al-Quranul Hakim

Dengan haknya Thaha dan Al-Quran

Wahai Zat yang mampu menyelesaikan

kebutuhan-kebutuhan orang yang meminta

Wahai Zat yang mengetahui

apa yang ada di dalam hati

Wahai Zat yang menyelesaikan

masalah orang yang kesusahan

Wahai Zat yang melapangkan

orang-orang yang bermasalah

Wahai Zat yang mengasihani

orang yang telah lanjut usia

Wahaai Zat yang memberi rezeki kepada anak-anak

Wahai Zat yang tidak memerlukan penjelasan

Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

(Mintalah hajatAnda)

Dengan rahmat-Mu

Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

Ya Arhamar Rahimin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: