Nasihat Rasulullah SAW pada Haji Terakhir

Kisah 1 : Nasihat Rasulullah SAW pada Haji Terakhir

Pada tahun kesepuluh Hijriah (di bulan Dzulhijjah), Rasulullah SAW menunaikan ibadah haji yang terakhir. Ibadah haji ini dianggap sebagai hujjatul wida’. Saat itu, banyak muslimin yang ikut menunaikannya.

Tatkala datang ke Mina untuk menunaikan sebagian amal ibadah haji, Rasul SAW mengumpulkan orang-orang yang berceramah. Setelah mengucapkan pujian terhadap Allah, beliau SAW bersabda, “Wahai manusia!Hari apakah yang paling terhormat di antara hari-hari yang ada?”

Mereka menjawab, “Hari ini.”

Beliau SAW kembali bertanya, “Bulan apakah yang paling terhormat di antara bulan-bulan yang ada?”

Mereka menjawab, “Bulan ini.”

Kembali beliau SAW bertanya, “Kota manakah yang terhormat dari berbagai kota yang ada?”

Mereka menjawab, “Kota ini (Mekah).”

Beliau SAW bersabda, “Hai manusia! Ketahuilah bahwa darah dan harta kalian adalah sebagaimana terhormatnya hari ini, di bulan ini, dan di Mekah ini, sampai kalian berjumpa dengan Allah. Pada hari itu (kiamat) Allah akan memeriksa amal perbuatan kalian. Ketahuilah apakah aku telah menyampaikan tugasku?”

Mereka menjawab, “Ya (Anda telah menyampaikannya).”

Beliau saw bersabda, “Ya Allah saksikanlah!”

Kemudian beliau SAW melanjutkan, “Wahai manusia ketahuilah! Barangsiapa memiliki amanat, hendaklah mengembalikan kepada pemiliknya, dan ketahuilah bahwa darah dan harta muslimin itu tidak halal, melainkan dengan kerelaannya. Janganlah kalian berbuat zalim terhadap diri kalian sendiri, dan sepeninggalku janganlah kalian menggunakan cara-cara orang-orang kafir.”

 

Kisah 2 : Rasulullah SAW Menangis

          Rasulullah SAW melewati seorang wanita yang tengah menyalakan api di tungku untuk memasak roti. Wanita itu memiliki seorang anak kecil yang duduk di pangkuannya. Ketika matanya tertuju pada Rasulullah , wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, kami mendengar Anda bersabda, ‘Sesungguhnya Allah lebih menyayangi hamba-Nya daripada (kasih sayang) seorang ibu kepada anaknya.’ Apakah hal itu benar?”

          Rasulullah SAW berkata, “Benar.”

          Wanita itu berkata, “Seorang ibu tidak akan tega melemparkan anaknya ke api tungku ini, maka bagaimana mungkin Allah melemparkan hamba-Nya ke dalam api neraka?”

          Kemudian Rasulullah SAW menangis dan bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menyiksa dengan api neraka kecuali orang yang enggan mengucapkan la Ilaha Illallah (tiada Tuhan yang patut disembah melainkan allah).”

 

Kisah 3 : Keutamaan Shalawat

          Rasulullah SAW bersabda, “Ketika aku melakukan perjalanan ke langit, aku melihat malaikat yang memiliki sejuta tangan. Setiap tangan memiiki sejuta jari-jemari.”

          Malaikat itu berkata, “Saya mengetahui jumlah tetesan hujan yang turun di gurun atau di lautan. Saya mengetahui jumlah tetesan hujan mulai dari pertama kali diciptakan sampai sekarang ini. Akan tetapi, ada sesuatu yang saya tak mampu menghitungnya.”

          Rasulullah SAW bertanya, “Apa itu?”

          Malaikat itu berkata, “Setiapkali umat Anda berkumpul dan bersama-sama mengucapkan shalawat atas Anda, maka saya tidak mampu menghitung pahala shalawat tersebut.” (Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad)

          Rasulullah SAW menceritakan tentang salah satu tanda-tanda kebesaran Allah yang disaksikannya di malam Mikraj, “Aku melihat malaikat yang separuh tubuhnya salju dan separuh lainnya api. Malaikat ini senantiasa berkata, ‘Wahai tuhan yang telah menyatukan api dan salju, satukanlah api orang-orang yang beriman di antara mereka!’”

 

Kisah 4 : Dialog Rasul dengan Allah

          Diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib, bahwasannya pada malam Isra Mikraj, Rasulullah SAW bertanya pada Allah, “Ya Allah, amal manakah yang lebih utama di sisi-Mu?” Allah SWT berfirman :

          “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi-Ku daripada sifat tawakkal pada-Ku dan merasa puas dengan pembagian-Ku.”

“Wahai Muhammad, Aku tetapkan kecintaan-Ku kepada para kekasih-Ku. Aku tetapkan kecintaan-Ku kepada orang yang pengasih, yang mengasihi orang lain di jalan-Ku. Dan aku wajibkan cinta-Ku pada orang-orang yang bergantung dan bertawakkal pada-Ku.”

 

“Ketahuilah, kecintaan-Ku tiada batas dan akhir. Kecintaan-Ku terhadap meraka akan terus bertambah. Aku menjadikan tanda-tanda dalam diri mereka. Mereka adalah orang-orang yang memperhatikan makhluk-makhluk-Ku, tidak menampakkan kebutuhan dan kesulitan mereka pada makhluk-makhluk-Ku, menjaga perut mereka dari barang haram. Mereka di dunia tenggelam dalam zikir dan cinta pada-Ku, dan Aku pun meridhai mereka.”

 

“Wahai Ahmad, pabila engkau mencintai-Ku, maka bergaullah dengan manusia paling wara’. Bersikaplah zuhud terhadap dunia dan cenderunglah pada akhirat!”

 

Rasulullah SAW bertanya, “Ya Allah, bagaimana caranya menjadi manusia yang zuhud?”

Allah berfirman :

“Ambillah sedikit dari makanan, minuman, dan pakaian sesuai dengan kebutuhan selama hidup di dunia. Janganlah engkau menyimpannya untuk hari esok. Dan biasakanlah dirimu untuk terus-menerus berzikir pada-Ku.”

 

Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana caranya aku terus-menerus berzikir pada-Mu?”

Allah berfirman :

“Dengan cara menjauhkan diri dari manusia, menyepi, tidak memedulikan pahit dan manisnya dunia, serta mengosongkan perut dan rumahmu dari kenikmatan duniawi. Wahai Ahmad, berhati-hatilah! Janganlah engkau jadikan dirimu seperti anak kecil yang tertipu dengan warna atau sesuatu yang dilihatnya!”

 

Rasulullah SAW memohon, “Ya Allah, bimbinglah aku pada suatu perbuatan yang akan lebih mendekatkanku pada-Mu!”

Allah SWT berfirman :

“Jadikanlah malam harimu menjadi siang dan siang harimu menjadi malam.”

 

Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana caranya?”

Allah SWT berfirman :

“Tidurmu di malam hari ubahlah menjadi shalat, dan makanmu di siang hari ubahlah menjadi kelaparan dengan cara berpuasa. Wahai Ahmad, Aku bersumpah demi keagungan dan kemuliaan-Ku! Pabila seorang hamba memiliki empat sifat mulia, maka Aku pasti memasukkannya ke dalam surga :

Pertama, dia tidak bicara kecuali jika diperlukan.

Kedua, menjaga hatinya dari was-was.

Ketiga, dia meyakini bahwa Aku mengetahui semua keadaannya dan senantiasa mengawasinya.

Keempat, sering berpuasa.”

 

Rasulullah SAW bertanya, “Ya Allah, apa hasil melaparkan diri?”

Allah SWT berfirman :

“Rasa lapar mendatangkan hikmah dan ilmu, serta menjaga hati, mendekatkan pada-Ku, memberikan kesedihan yang langgeng, meringankan beban pengeluaran hidup di tengah masyarakat, mengucapkan kalimat yang benar, dan menyadarkan bahwa hidup (ini harus) dilalui dengan mudah ataukah sulit. Wahai Ahmad, apakah engkau mengetahui di waktu apakah seorang hamba mendekatkan dirinya pada-ku?”

 

Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.”

Allah SWT berfirman :

“Ketika dia lapar dan puasa atau dalam keadaan sujud. Wahai Ahmad, Aku merasa heran terhadap tiga kelompok manusia :

Yaitu, orang yang mengerjakan shalat dan dia mengetahui pada siapakah dia mengangkat tangannya dan dihadapan siapakah dia berdiri, namun dia malah mengantuk.

Aku merasa heran pada orang yang memilki makanan pada hari ini, namun dia malah memikirkan pengeluaran esok hari dan dia bekerja keras untuk mencarinya.

Aku merasa heran terhadap orang yang tidak mengetahui apakah Aku ridha atau murka padanya, tapi dia malah tertawa.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: