Dimensi Akhlak dan Tarbiyah Kebangkitan Husaini

Oleh: Endang Zulaikha

 

Tidak diragukan lagi,  tragedi Karbala merupakan sebuah tragedi berdarah yang melukai kalbu dan menggetarkan hati setiap mukmin dan setiap manusia bebas. Tragedi Karbala bukan hanya merupakan sebuah fenomena yang berkaitan dengan masa lalu, melainkan sebuah peristiwa dan sebuah kenangan pahit yang senantiasa tercatat dalam sejarah dan tak akan pernah usang dengan berlalunya masa, sebagaimana diisyarahkan oleh Zainab al-Kubra dalam khutbahnya pada majelis pertemuan Yazid, “Silahkan kamu menggunakan segala makar dan kelicikanmu, dan juga seluruh upaya dan jerih payahmu. Namun demi Allah! Kamu tidak akan pernah mampu menghilangkan diri kami dari kalbu-kalbu dan benak-benak mereka, dan kamu tidak akan pernah mampu mematikan wahyu yang telah diturunkan kepada kami.”

Pada sisi lain, berdasarkan hukum penciptaan, di dalam diri manusia terdapat sebuah sifat yang diletakkan oleh Tuhan sebagai sebuah amanat, yaitu ‘mencari keteladanan’. Dalam perjalanan hidupnya, manusia harus mencari teladan dalam sosok-sosok manusia sempurna yang akan mampu membimbingnya melintasi lika-liku perjalanan dan mengarahkannya pada lintasan yang benar. Dalam lintasan ini, jika tumbuh kembang manusia berada dalam jalur yang benar dan berada di bawah naungan aspek-aspek yang mendidik, maka dia akan mampu menggapai derajat tertinggi dalam keutamaan dan kesempurnaan manusia, sebuah tingkatan yang bahkan para malaikat pun tidak mampu meraihnya. Akan tetapi jika lintasan yang dilaluinya menyimpang dari arah yang seharusnya, maka hal ini akan mengubahnya menjadi sebuah eksistensi rendah yang bahkan lebih rendah dari binatang.

Dapat dikatakan, tragedi Karbala dari awal hingga akhir merupakan sebuah pagelaran yang dipenuhi dengan pesan-pesan akhlak dan pendidikan yang akan mampu memuaskan siapapun yang menghendaki keteladanan, karena tragedi Karbala, tak hanya merupakan sebuah tragedi yang pahit dan menyakitkan, melainkan merupakan sebuah tragedi istimewa nan luar biasa yang berbeda dengan tragedi-tragedi lainnya. Karena pemimpin yang terbantai dalam tragedi ini adalah penerus risalah dan kenabian, salah satu dari ashabul kisa, manifestasi kebenaran Islam, sang manusia sempurna, cucu Nabi, putra dari dua orang maksum, yang terdidik dan dibesarkan dalam pangkuan suci keluarga Rasulullah SAW.

Ya, Imam Husain adalah sosok manusia Ilahi, yang bangkit dan melakukan revolusi dengan tujuannya yang agung dan mulia, sebuah teladan yang tiada tanding dalam ketegaran, keberanian, kesabaran, kepasrahan, kesetiaan, kecintaan, pengorbanan, dan sebagainya.

Makalah pendek ini mencoba membahas tentang pesan-pesan pendidikan dan akhlak yang beliau sampaikan dalam revolusi Imam Husain.

  

  1. Mendahulukan Kemuliaan Agama di atas Segalanya

Islam ada untuk memenuhi dan menjaga lima hal, agama dan akidah, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Dan filosofi asli seluruh mizan-mizan syar’i dan aturan-aturan fikih baik hukum-hukum perundangan, transaksi, dan persoalan-persoalan politik dan kebutuhan-kebutuhan hidup para muslim, memiliki kaitan yang erat dengan kelima hal ini.

Namun di antara kelima hal tersebut, agamalah yang memiliki nilai tertinggi, dan setiap Muslim wajib mempertahankan hal ini di atas segalanya, dan Imam Husain sebagai pemimpin kebenaran dan sosok teladan bagi para Muslim membuktikan hal ini.

Beliau lebih mengutamakan kemuliaan iman dan agama di atas jiwa, harta dan para putra-putrinya. Demi kelanjutan Islam beliau rela menutup mata dari kehidupan dunia dan dengan revolusinya beliau mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak berdiam diri ketika berhadapan dengan penyimpangan Islam, perusakan nilai-nilai sucinya, dan pemalsuan hadis-hadis yang diciptakan oleh penguasa. Demikian juga revolusi asyura mengajarkan bahwa ketika hukum-hukum Islam tidak lagi dilaksanakan, norma-norma agama telah diliburkan, dan masyarakat telah berubah menjadi sekelompok manusia yang rusak dan jahil, maka berarti telah tiba waktunya untuk melakukan amar makruf dan nahi munkar untuk mengubah dan memperbaharui keadaan.

Ketika hendak keluar dari Madinah beliau bersabda, “Siapapun yang mengikuti dan menerima ucapanku, maka dia akan beruntung dan selamat, dan barang siapa menghindarinya dan keluar dari ketaatannya kepadaku, maka aku akan bersabar hingga Allah memberikan keputusannya antaraku dan dia.”

 

  1. Tauhid Penghambaan

Dalam sirah teoritis dan praktis Al-Husain, sebagaimana para Nabi dan auliya lainnya, implementasi dari tauhid penghambaan sangat jelas terlihat. Berdasarkan nukilan dari Thabari, Kamis sore hari ke sembilan Muharram Umar bin Sa’d telah memberikan perintah untuk menyerang kafilah Imam Husain. Mendengar berita ini kepada saudaranya Abul Fadhl Abbas, Imam bersabda “Wahai saudaraku! Pergilah kepada mereka dan sebisa mungkin mintalah mereka untuk menunda peperangan hingga esok hari supaya malam ini kita bisa melakukan shalat, istighfar dan bermunajat. Karena Allah mengetahui bahwa aku begitu mencintai shalat, membaca Al-Quran, doa dan munajat.”

Keinginan beliau ini merupakan bukti jelas atas pentingnya ibadah dalam kehidupannya sedemikian hingga beliau rela meminta kesempatan penundaan perang dari musuhnya yang licik.

Pada prinsipnya, revolusi Imam Husain adalah untuk menyebarkan dan menghidupkan shalat, Al-Quran dan syiar-syiar tauhid. Tak salahlah jika dalam doa ziarahnya kita menemukan beliau bersabda, “Dan aku bersaksi telah melakukan shalat.”

 

  1. Jujur dalam Ucapan

Imam Husain tidak hanya mengajarkan kejujuran kepada manusia, bahkan dalam kesehariannya pun beliau tidak pernah sekalipun mempergunakan kebohongan sebagai sarana untuk memperoleh tujuan. Dalam khutbahnya sebelum bergerak dari Mekah ke arah Kufah beliau bersabda, “Siapa yang ingin mengorbankan jiwa dan mempersembahkan darahnya untuk bertemu dengan-Nya, maka bergabunglah dengan kami, Insya Allah aku akan bergerak esok hari.” Pada saat yang lain beliau bersabda, “Siapa yang rela mempersembahkan darahnya maka aku akan memberikan secawan anggur kesyahidan kepadanya, bukan kedudukan dunia.”

 

  1. Setia dalam Janji

Ketika Tharhamah bin ‘Adi memohon kepada Imam Husain untuk mengurungkan keberangkatannya ke Kufah dengan mengingatkan pengkhianatan dan ketidaksetiaan penduduk Kufah serta kesiap-siagaan mereka untuk membunuh Imam Husain, beliau bersabda, “Antara aku dan kaum ini terdapat sebuah ucapan yang aku tidak memiliki kemampuan untuk menggagalkannya.”

 

  1.  Memegang Erat Nilai-nilai Islam

Ka’bah memiliki keistimewaan dan nilai yang khas di kalangan para Muslimin. Meski demikian sebagian kelompok masih saja mempergunakan kesucian Ka’bah ini untuk kepentingan politik pribadinya, salah satunya adalah Abdullah bin Zubair yang rela mengobarkan api peperangan di rumah Ka’bah demi keselamatan diri dan tercapainya tujuan. Namun Imam Husain tidak bersedia melakukan hal ini.

Ketika Muhammad Hanafiah menyarankan kepada Imam Husain untuk tinggal di Mekah, beliau bersabda, “Aku khawatir Yazid bin Muawiyah akan menterorku di haram, dan aku menjadi seseorang yang memubahkan dan menghancurkan kesucian Mekah karenanya.”

Demikian juga ketika Abdullah bin Zubair menyarankan hal yang sama, beliau bersabda, “Ayahku mengabarkan kepadaku bahwa kelak akan terdapat sekelompok yang akan menghancurkan kehormatan dan kesucian Ka’bah, dan aku tidak ingin menjadi kelompok yang dimaksudkan.”

 

  1. Sopan

Farazdaq mengatakan, “Aku dan ayahku tengah melakukan perjalanan untuk ibadah haji. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan kafilah Imam Husain yang dilengkapi dengan pedang dan perisai. Aku bertanya, “Kafilah siapakah ini?” Mereka menjawab, “Kafilah Imam Husain.” Aku berjalan ke arahnya, mengucapkan salam dan berkata, “Demi ayah dan ibuku! Wahai putra Rasulullah! Kenapa engkau keluar dari Mekah dengan tergesa-gesa seperti ini?” Bersabda, “Jika aku tidak bergegas, maka mereka akan membunuhku di sini.” Beliau melanjutkan, “Siapakah engkau?” Aku berkata, “Seorang lelaki dari Arab.” Demi Allah, setelah aku mengucapkan hal itu, beliau tidak bertanya lebih lanjut tentangku. Dan inilah akhlak mulia Imam Husain, ketika dalam pertemuan awal, seseorang tidak bersedia memperkenalkan dirinya, maka beliaupun tidak akan bertanya lebih lanjut.

 

  1. Penuh Kasih Sayang

Ketika kafilah hendak berangkat dari Syarraq, Imam Husain bersabda, “Bawalah air sebanyak-banyaknya.”

Siang hari di tengah perjalanan tiba-tiba terdengar suara takbir dari salah satu anggota kafilah, Imam Husain bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Menjawab, “Subhanallah, aku melihat pohon-pohon kurma.” Ketika mereka meneliti dengan cermat, ternyata yang terlihat bukanlah pohon-pohon kurma, melainkan ujung-ujung pedang dan telinga-telilnga binatang tunggangan. Imam Husain memberikan perintah kepada kafilahnya untuk berhenti. Hurr bin Yazid Riyahi dan pasukannya yang kehausan sampai di depan kafilah Imam Husain, melihat keadaan ini beliau lantas memerintahkan kepada kafilahnya untuk memberikan air kepada pasukan Hurr dan binatang-binatang tunggangan mereka. Seorang lelaki bernama Ali bin Tha’an Maharibi mengatakan, “Para sahabat Imam Husain tengah sibuk mengurusi selainnya ketika aku sampai di tempat itu. Imam yang melihat kedatanganku, mendatangiku sambil bersabda, “Dudukkanlah untamu, dan minumlah air ini.” Namun karena aku terlalu terburu-buru minum, air tumpah dari kantongnya, Imam Husain bersabda, “Miringkan tempat air itu.” Tapi aku tidak paham dengan apa yang dia katakan, akhirnya dia sendiri yang mendatangiku dan memiringkan kantong air tersebut supaya tidak tumpah.”

Meski Imam Husain mengetahui siapa yang tengah dihadapinya, namun beliau tetap memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Namun, balasan apa yang mereka berikan kepadanya?

 

  1. Menolak Memulai Peperangan

Dalam sejarah tercatat bahwa Rasulullah SAW menyarankan kepada Imam Ali untuk menasehati para kafir sebelum memulai perang, sehingga dengannya mungkin mereka akan kembali ke jalan yang benar dan memperoleh hidayah. Berdasarkan hal tersebut, sepanjang perjalanan menuju Karbala dan pada hari Asyura, Imam Husain berkali-kali menyampaikan khutbahnya, mungkin mereka akan terhidayahi dan tersadar dari kelalaian mereka.

Pada pertemuan pertama dengan pasukan Hurr, Zuhair bin Qain berkata kepada Imam Husain, “Izinkan aku berperang melawan pasukan ini, karena sebelum pasukan tambahan datang, berperang dengannya merupakan sebuah persoalan yang mudah bagi kita.” Akan tetapi Imam Husain bersabda, “Cara yang aku lakukan bukanlah memulai peperangan.” Dan kalimat ini beliau ulangi lagi ketika Syimr datang dan melihat pembuatan selokan di sekitar kemah kafilah Imam yang dipenuhi dengan jerami dan api, Syimr berkata, “Wahai Husain! Engkau telah tergesa-gesa menyambut api sebelum hari kiamat.” Imam bertanya, “Siapakah ini? Sepertinya Syimr bin Dzil Jausyan.” Para sahabat berkata, “Benar.” Bersabda beliau, “Sesungguhnya engkaulah yang lebih pantas untuk itu.” Kepada Imam Husain, Muslim bin Ausajah berkata, “Izinkanlah aku menancapkan anak panah ini ke dadanya, dia adalah seorang yang fasik, musuh Tuhan dan pembesar para zalim.” Akan tetapi Imam Husain bersabda, “Sesungguhnya bagiku tidak ada cara untuk memulai pembunuhan terhadap mereka.”

 

  1. Memaafkan Kesalahan Musuh

Ketika Hurr yakin bahwa perang melawan Imam Husain merupakan sebuah persoalan yang pasti, dia memutuskan untuk bergabung dengan Imam Husain, dan sesampai di hadapan beliau, dia berkata, “Wahai putra Rasulullah, jiwaku sebagai tebusanmu, akulah yang telah melarangmu untuk kembali dan akulah yang menggiringmu hingga sampai ke tanah tak berumput dan berair ini. Demi Allah, aku tidak pernah menyangka kejadian akan berakhir seperti ini, kepada diriku sendiri aku berkata untuk mengikuti sebagian dari perintah mereka supaya mereka tidak menganggapku keluar dari ketaatan, dan aku menyangka mereka akan menerima usulanmu. Jika saja aku mengetahui hal ini dari awal, maka aku sama sekali tidak akan terjebak dalam kesalahan seperti ini. Sekarang aku menyesal dan akan kembali ke jalan yang benar, aku ingin mengorbankan diriku untukmu dan mati di sisimu, apakah masih ada pintu taubat untukku?”

Imam Husain bersabda, “Tentu, Allah telah menerima taubatmu. Siapakah namamu?” Menjawab, “Hurr bin Yazid Riyahi.” Bersabda beliau, “Dan sebagaimana ibumu telah memberikan nama ini kepadamu, engkau benar-benar hurr (bebas). Engkau bebas di dunia dan di akhirat. Sekarang turunlah dari kudamu dan kemarilah.” Hurr berkata, “Lebih baik aku tetap berada di sini, dan sekarang aku ingin berperang melawan musuh.” Bersabda, Lakukanlah apa yang engkau inginkan.”

 

  1. Tidak Membeda-bedakan

Para ahli sejarah menulis, “Ketika Ali Akbar gugur dan terjatuh di atas tanah, Imam Husain mendatanginya, berdiri di dekatnya dan meletakkan wajahnya di atas wajah putranya. Dan hal yang sama beliau lakukan pula untuk Aslam, seorang budak Turki. Ketika budak ini jatuh tersungkur di medan laga, Imam Husain mendatanginya, memeluknya, menempelkan wajahnya pada wajah budak ini. Dengan nafas yang tersekat Aslam berkata, “Adakah seseorang yang beruntung sepertiku, saat ini putra Rasulullah menempelkan wajahnya di wajahku.” Setelah mengatakan hal itu Aslam pun gugur dan mereguk cawan syahada.

 

  1. Kesetiaan dan Pengorbanan

Salah satu unsur yang terlihat sangat memberikan pengaruh dan penentu dalam revolusi Asyura adalah kesetiaan dan pengorbanan, sebuah kecintaan malakuti yang bersumber dari rahmat Ilahi.

Ketika kita membaca doa Arafah yang merupakan salah satu simbol ketinggian spiritual Imam Husain, maka kita akan mengetahui bagaimana kesyahidan ini bisa menjadi lahan yang menghidupkan kesetiaan tiada tara di sahara Karbala, sedemikian hingga para sahabat rela meletakkan jiwa tercintanya dalam tingkatan yang paling ikhlas dan mempersembahkannya untuk yang dicintainya.

Ketika hendak keluar dari Madinah, kepada Bani Hasyim, Imam Husain bersabda, “Aku memilih jalan yang akan mengantarkan kesyahidan bagi siapapun yang bergabung denganku, dan siapa yang tidak menginginkan hal ini maka tidak akan memperoleh kemenangan.”

Dengan ibarat lain, gerakan ini pasti akan menghasilkan kemenangan, ketika terdapat kesetiaan, pengorbanan dan kesyahidan di dalamnya. Jika seseorang menganggap bahwa gerakan ini merupakan sebuah persoalan yang wajib dari sisi keawjiban agama dan syariat, maka dia harus bangkit dan menyadarkan umat Muslim dari tidur lelapnya supaya dunia Islam menemukan lintasannya secara benar, meskipun hal ini harus dilakukan dengan mengorbankan jiwa. Hidup dan mati bukanlah tujuan, masih terdapat tujuan yang lebih suci dan lebih tinggi dari hal-hal tersebut. Seluruh kepentingan dan keuntungan-keuntungan pribadi dan sosial akan lebur dalam lintasan untuk memperoleh tujuan yang tinggi ini.

Imam Khomeini mengatakan, “Semakin dekat dengan hari Asyura dan hari kesyahidan, para pemuda semakin bersemangat dan berlomba-lomba untuk segera mereguk kesyahidan, karena mereka menyadari bahwa aku datang untuk melaksanakan kewajiban Ilahi, aku datang untuk mempertahankan Islam …”

Kondisi seperti ini banyak termanifestasi di Karbala. Di antaranya adalah yang dilakukan oleh Abul Fadhl Abbas yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi membawakan air untuk kafilah Husain, Sa’id bin Abdullah Hanafi yang berdiri di hadapan shaf shalat Imam dan meletakkan wajah dan dadanya sebagai perisai supaya Imam terbebas dari ancaman tombak dan anak panah.  Dan masih banyak contoh lainnya.

 

  1. Keberanian Husain

Sayyid Muhsin Amin mengatakan, “Dan inilah Husain, yang mengusir pasukan penyerang dengan pedangnya dan mematahkan pertahanan musuh di kanan dan kirinya sehingga mereka melarikan diri layaknya domba-domba yang ketakutan terhadap rubah dan kocar-kacir tak terkendali layaknya sekerumunan belalang yang kebingungan. Dan inilah Husain, yang ketika terjatuh dari kudanya, dengan tubuh yang telah dipenuhi oleh luka, tetap melawan para musuhnya dengan gagah, segagah saat berada di atas punggung kudanya. Dan Husain pulalah yang keberanian dan kejantanannya telah menciutkan dan merontokkan nyali para musuhnya, bahkan ketika dia telah tersungkur di atas tanah, berada di ambang kesyahidan, dan bahkan saat musuh hendak memenggal lehernya. Dan Husainlah jualah yang keberaniannya senantiasa memunculkan kengerian dan ketakutan di wajah para musuhnya.”

Kehidupan Imam Husain dan revolusi Asyura merupakan sebuah teladan terlengkap yang akan tetap abadi dalam sejarah manusia, yang di dalamnya menampakkan manifestasi-manifestasi terindah dari seorang sosok yang terdidik secara sempurna.

Masih begitu banyak pesan-pesan moral dan pendidikan lainnya yang terkandung di dalam tragedi agung ini, poin-poin di atas hanyalah setetes air dari samudra nan luas, namun demikian harap kami, semoga tulisan ini mampu sedikit menghilangkan rasa dahaga. Amin ya Rabbal Alamin. (Tulisan ini pernah dimuat pada Jurnal Maarif).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: