RISALAH PANDANGAN DUNIA (3)

KENABIAN

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki fitrah dimana unsur fitrawilah yang senantiasa mendorong manusia untuk mencari kesempurnaan dan kebahagiaan. fitrah yang dimilliki oleh manusia ini  terkadang menimbulkan pertanyaan tertentu dalam benak manusia. Selain pertanyaan yang kami paparkan sebelumnya pertanyaan lainnya adalah bagaimana kita bisa meraih kebahagiaan hakiki dan kesempurnaan puncak tersebut? aturan–aturan apa saja yang harus dimiliki oleh seseorang yang bisa mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dan kesempurnaan hakiki?

Sejauh mana keurgensian pertanyaan diatas bergantung pada sejauh mana kedua persoalan dari pandangan dunia tersebut dapat membuktikan bahwa kebahagiaan abadi manusia akan mewujud pada alam lainnya. Kebahagiaan abadi tersebut tidak dapat kita raih di alam dunia ini akan tetapi dunia ini sebagai tempat beramal yang dengannya kita bisa  sampai kepada kesempurnaan hakiki. Berdasarkan hal ini tentunya menjadi sebuah keniscayaan untuk membangun sebuah rangkain aturan yang benar bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu dari sini kita bisa melihat keurgensian masalah kenabian sebagai salah satu masalah mendasar pandangan dunia.

Keurgensian masalah kenabian dari sisi lain adalah karena hal tersebut mengkaitkan antara “awal” dan “akhir” serta menunjukkan peran Sang Khalik dalam memberikan hidayah bagi manusia menuju kesempurnaan mutlak dan kebahagiaan hakiki.

Dalam pembahasan inilah yang akan menjelaskan secara konkrit apakah jalan dalam meraih kebahagiaan dan kesempurnaan hakiki harus ditentukan dari Sang Pencipta atau tidak. Dalam kata lain manusia dapat menempuh dan menentukan jalannya sendiri untuk sampai pada tujuan yang dimaksud dan tanpa membutuhkan alam non materi.

Persoalan kenabian diartikan sebagai mata rantai yang mengkaitkan antara persoalan–persoalan pandangan dunia dan persoalan ideologi. Karena kunci persoalan kenabian yang meniscayakan pembahasan mab’ats (diutusnya atau diangkatnya seorang rasul). Di sisi lain bahwa persoalan kenabianlah yang menentukan “harus” dan “tidak harus” kehidupan demi untuk tercapainya kesempurnaan akhir. Hal ini juga menunjukkan pentingnya persoalan kenabian sebagai persoalan ketiga yang mendasar dalam pandangan dunia.

Setelah kita menjelaskan tiga persoalan penting dalam pandangan dunia yaitu ontologi, antropologi dan kenabian, serta menjelaskan kenapa ketiga persoalan di atas diselaraskan dengan persoalan tauhid, ma’ad dan nubuwwah. Di sini akan terlihat dengan jelas mengapa ketiga hal diatas memiliki peranan yang sangat penting dalam memberikan hidayah bagi manusia menuju kesempurnaannya yang hakiki. Para utusan agama senantiasa menghimbau kepada manusia untuk memikirkan dan berkontemplasi akan masalah–masalah tersebut dan mereka menyebut persoalan–persoalan tersebut sebagai prinsip agama.

Kita bisa lihat terdapat banyak ayat dengan penjelasan yang beragam yang senantiasa mengajak manusia untuk bertadabbur dan memikirkan masalah–masalah tauhid dan ma’ad. Pentingnya persoalan ini semata–mata untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan dan kebahagiaan yang hakiki.

Kita bisa saksikan betapa Al-Quran begitu menekankan persoalan tauhid, misalnya dalam surah Ibrahim ayat 10 ; Apakah ada keragu-raguan tentang Allah, pencipta langit dan bumi?” Begitu juga bisa kita saksikan para Nabi pada awal–awal risalahnya senantiasa bangkit melawan segala jenis kemusyrikan.

Kita bisa saksikan pula begitu banyak Al-Quran yang menjelaskan hal–hal berkenaan dengan masalah ma’ad. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan ma’ad adalah sebuah persoalan yang sangat urgen. Bahkan ada beberapa ayat yang secara jelas mengatakan bahwa ma’ad adalah sebuah persoalan yang di dalamnya sama sekali tidak terdapat keragu–raguan (laraibafihi).

Begitu juga ada banyak ayat yang menjelaskan keurgensian  masalah nubuwwah dan diturunkannya Al-Quran. Segala hal diatas menunjukkan betapa pentingnya posisi ketiga persoalan pandangan dunia yaitu tauhid, nubuwwah dan ma’ad.

Beberapa Jenis Pandangan Dunia

Setelah kita menjelaskan konsep pandangan dunia dan sejauh mana keurgensian pandangan dunia tersebut. Selanjutnya kita bisa mengklasifikasikan pandangan dunia tersebut menjadi empat bagian. Kategori pembagian ini berdasarkan metode pengetahuan dan pondasi pengetahuan. Mari kita lihat keempat pembagian tersebut dan selanjutnya kita mencoba menganalisa dan mengkritiknya.

1. Pandangan Dunia Ilmu

Ilmu secara bahasa bermakna pengetahuan secara mutlak. Akan tetapi secara istilah memiliki penggunaan yang berbeda–beda, diantaranya adalah :

  1. Sebuah keyakinan yang pasti yang biasa diperlawankan dengan keragu–raguan.
  2. Serangkaian masalah–masalah yang memiliki objek permasalahan yang bersifat umum dan general dan mengelilingi satu titik poros pembahasan seperti ilmu matematika, ilmu fisika, ilmu kedokteran dst.
  3. Serangkain persoalan–persoalan dimana metode yang digunakan adalah metode eksperimentasi. Seperti fakultas–fakultas ilmu eksperimentasi.

Kata ilmu dalam istilah pertama jika dikonversi ke dalam bahasa ingris adalah “knowledge”. Kemudian kata ilmu dalam istilah yang ketiga jika dikonversi ke dalam bahasa ingris adalah “science”. Jika kita bandingkan istilah ilmu yang ketiga dengan yang pertama dan kedua, istilah ilmu yang ketiga lebih spesifik dibandingkan istilah pertama dan kedua. Hal ini disebabkan karena ilmu eksperimentasi hanya merupakan bagian kecil saja dari serangkaian pengetahuan–pengetahuan yang ada. Di sisi lain ilmu dalam istilah kedua mencakup filsafat sedangkan ilmu dalam istilah ketiga sama sekali berlawanan dengan filsafat.

Dengan memahami istilah di atas kita harus memahami bahwa yang dimaksud dengan pandangan dunia ilmu adalah pandangan dunia sains. Dalam kata lain bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu dalam istilah ketiga yaitu sebuah jenis pandangan dunia yang diolah dari ilmu–ilmu eksperimentasi dimana dalam mengklarifikasi permasalahannya  hanya bertumpu pada persepsi indrawi.

2. Pandangan Dunia Filsafat

Filsafat adalah sebuah kata yang berasal dari yunani yang bermakna cinta kepada pengetahuan. Kata filsafat digunakan dalam dua peristilahan :

  1. Istilah klasik : maksudnya adalah sebuah pengetahuan yang meliputi seluruh ilmu–ilmu primer (bukan ilmu sekunder seperti bahasa dsb). Kemudian dibagi ke dalam dua bagian yaitu teoritis dan praktis.
  2. Istilah modern : yaitu sebuah pengetahuan yang biasanya diperhadapkan dengan ilmu–ilmu sains. Oleh karena itu filsafat dalam makna ini hanya memiliki makna metafisika dimana metodenya adalah metode rasionalitas dan non eksperimentasi. Oleh karena itu yang dimaksud dengan pandangan dunia filsafat adalah sebuah pandangan dunia dimana metode yang dipakai adalah metode rasionalitas dalam menjelaskan permasalahannya.

3. Pandangan Dunia Agama

Kata agama dalam bahasa bermakna ketaatan, balasan, aturan dst. Secara istilah bermakna serangkaian akidah, hukum, aturan–aturan, akhlak, hukum individu dan hukum sosial yang datang dari Allah SWT melalui wahyu yang diturunkan kepada para utusan agama.

Berdasarkan istilah diatas  yang dimaksud dengan pandangan dunia agama adalah sebuah pandangan dunia dimana persoalan di dalamnya dibahas melalui pendakatan wahyu dan metode pembuktiannya adalah dengan pendekatan teks–teks yang ada.

4. Pandangan Dunia Irfan

Kata irfan dalam bahasa bermakna pengetahuan atau makrifat. Sedangkan secara istilah adalah sebuah pengetahuan yang didapatkan melalui pendekatan syuhud dan qalbi dimana akal tidak memiliki peran sama sekali dalam mendapatkan pengetahuan tersebut. Seorang Arif Hakiki akan sampai pada sebuah tahapan dimana dia akan  menyaksikan seluruh ciptaan sebagai mazhar atau manifestasi dari Al-Haq setelah menjalani sayr suluk irfani. Dia akan menyaksikan tidak ada satu keberadaan manapun di alam ini yang berdiri sendiri, semuanya bergantung secara totalitas kepada Allah SWT.

Berdasarkan hal diatas yang dimaksud dengan pandangan dunia irfani adalah sebuah pandangan dunia yang bersandar kepada pengetahuan syuhudi dan hudhuri dan tentunya tidak bersandar sama sekali kepada argumentasi akal apalagi kepada eksperimentasi indrawi.

Analisa dan Kritik atas Beberapa Pandangan Dunia

Setelah kami menjelaskan secara singkat beberapa pandangan dunia di atas, selanjutnya kami akan mencoba mengeritik dan menawarkan satu pandangan dunia yang menurut hemat kami lebih cocok digunakan dari yang lainnya.

  • Oleh karena pandangan dunia ilmiah hanya didasari pada data–data indrawi dan satu–satunya metode yang memiliki validitas yang benar menurut mereka adalah indrawi dan eksperimentasi, maka tentunya pandangan seperti ini tidak bisa menjelaskan problema mendasar pandangan dunia, bahkan menurut hemat kami pandangan seperti ini tidak bisa menafsirkan dengan benar persoalan–persoalan ontologi, antropologi dan kenabian Dari sisi yang lain bahwa setiap ilmu eksperimentasi hanya membahas berkenaan dengan objek tertentu dan sangat terbatas. Oleh karena itu persoalan dan aturan yang ada di dalamnya pun hanya berkenaan dengan objek tersebut dan tentunya tidak bisa digeneralisasikan kepada setiap keberadaan, padahal di sisi lain bahwa pandangan dunia berkenaan dengan setiap keberadaan dan alam eksistensi. Oleh karena itu bahwa dikarenakan pandangan dunia adalah sebuah pandangan universal tentang eksistensi termasuk hubungan fenomena–fenomena yang timbul darinya, dan juga bahwa persoalan–persoalan mendasar pandangan dunia di luar dari wilayah indrawi dan eksperimentasi maka sebuah pandangan dunia tidak mungkin bersifat saintifik dan ilmu–ilmu eksperimentasi tidak mungkin menyelesaikan persoalan tersebut.
  • Pandangan dunia agama adalah sebuah pandangan dunia yang hanya bersandar pada teks–teks agama dalam membuktikan permasalahannya. Akan tetapi dalam membuktikan keberadaan Tuhan dan membuktikan keniscayaan seorang Nabi dibutuhkan sebuah argumentasi rasional. Salah satu bukti persoalan di atas adalah bahwa Al-Quran sendiri mendemonstrasikan melalui argumentasi rasional sebagian persoalan–persoalan pandangan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan dunia agama saja tanpa argumentasi akal dan filsafat tidak dapat menyelesaikan persoalan–persoalan pandangan dunia.
  • Pandangan dunia irfan adalah sebuah pandangan dunia yang didapatkan melalui syuhud dan hudhuri. Oleh karena itu pandangan dunia irfan bersifat personal dan tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Karena itu pula interpretasi terhadap alam dan eksistensi melalui pendekatan irfan sama sekali tidak bisa dibuktikan kepada orang lain, terkecuali pengetahuan yang didapatkan hudhuri tersebut ditransformasikan kepada orang lain melalui bahasa filsafat dan argumentasi. Namun harus dipahami bahwa jika demikian halnya tidak bisa lagi dipahami sebagai pandangan dunia irfan dan bahkan yang lebih dominan adalah bingkai filsafatnya. Di sisi lain kami meyakini bahwa irfan yang benar adalah irfan yang hanya diperoleh melalui pendekatan syariat atau agama. Dan karena agama sendiri dibangun berdasarkan prinsip filsafat dan rasionalitas maka irfan juga pada akhirnya membutuhkan akal dan filsafat. Oleh karena itu pandangan dunia irfan tidak akan punya makna tanpa dibantu oleh syariat dan rasionalitas. Kesimpulannya bahwa pandangan dunia irfan dengan sendirinya tidak mungkin menyelesaikan persoalan pandangan dunia.

Dari beberapa hal yang kami kemukakan diatas kita bisa menyaksikan  dengan baik bahwa hanya metode filsafat yang bisa menyelesaikan persoalan pandangan dunia dengan baik. Hal ini dikarenakan ; pertama, pada prinsipnya substansi pandangan dunia memang bersifat filosofis. Akallah yang berhak memberikan sebuah asumsi terhadap alam non materi dan menganalisa hukum–hukum universal wujud. Di sisi lain kita menyaksikan bahwa setiap pandangan dunia – selain pandangan dunia filsafat – butuh kepada filsafat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: