RISALAH PANDANGAN DUNIA (16)

Oleh : Muhammad Nur

                   Pada ayat sebelumnya, yaitu pada surah Yunus ; 22-23 telah dipaparkan bahwa disaat manusia harapannya dari segala hal terputus, khususnya pada perkara-perkara material dimana manusia senantiasa bersentuhan dengannya, pada saat itulah manusia akan kembali kepada Tuhan dan juga menginginkan diri-Nya. Fenomena ini pada hakikatnya sebuah bentuk ilmu hudhuri terhadap Tuhan yang mana secara primordial tertancap didalam inti hakikat manusia. Tugas kita di dunia ini  berusaha untuk mengembangkan serta memperkuat ilmu hudhuri ini melalui prilaku-prilaku ikhtiyar kita.

                   Namun ada hal yang mesti diperhatikan bahwa ilmu hudhuri yang dimaksud bisa saja termanifestasi dalam bentuk di luar dari kesadaran kita, sebagaimana yang bisa ditemukan penjelasannya melalui teks-teks yang ada. Maksudnya terkadang manusia berada pada kondisi dimana seluruh hubungannya dengan di luar dirinya yang bersifat materi terputus sama sekali sehingga dirinya hampir putus asa. Nah, pada saat itulah ia menyandarkan dirinya pada satu titik serta memohon pertolongan pada sesuatu yang bersifat non-materi dan inilah yang dimaksud dengan kehadiran kembali fitrah Ilahi. Akan tetapi harus dipahami bahwa munculnya fitrah Ilahi dalam bentuk seperti di atas tidak memiliki nilai yang lebih dan tidak mempengaruhi kesempurnaan manusia karena fenomena di atas adalah bersifat determinis dan di luar kesadaran dirinya. Fenomena tersebut bisa saja terjadi kapan saja dalam diri manusia.

                   Kesempurnaan manusia hanya bisa diperoleh melalui perbuatan yang disadari atau melalui ikhtiyar dan usaha manusia sendiri. Oleh karena itu jalan untuk memperkuat ilmu hudhuri ini adalah dengan usaha dan ikhtiyar, beribadah dengan ikhlas, hadir dengan qalbu, serta tawajjuh sepenuhnya kepada Ilahi melalui ketaatan mutlak tanpa syarat dan dalam kondisi apapun sehingga dirinya sampai pada derajat tertentu akan kesempurnaan-kesempurnaan manusia. Dalam munajat sya‘bânîyah dijelaskan ; “Ya Ilahi, jauhkanlah diriku dari segala sesuatu selain-Mu, terangilah penglihatan hati kami dalam naungan tawajjuh  kepada-Mu sehingga melalui penglihatan hati ini hijab-hijab cahaya akan terurai dan sampai (wâshil) pada sumber mata air keagungan-Mu. Jadikanlah ruh dan jiwa-jiwa kami hanya bergantung kepada ketinggian-Mu dan kesucian-Mu.”

                   Dalam munajat yang indah ini akan terlihat beberapa tahapan ilmu hudhuri terhadap Tuhan. Namun yang ingin kami sampaikan bahwa eksistensi ilmu hudhuri ini tidak bermakna penafian akan nilai pembahasan-pembahasan akal, bahkan pembahasan-pembahasan rasional justru mampu menguatkan dan memanifestasikan ilmu hudhuri tersebut. Misalnya boleh jadi di saat kita merasa sangat lapar dan merasa sangat terbebani oleh rasa lapar, namun secara tiba-tiba jiwa kita fokus pada sebuah peristiwa, yang menyebabkan rasa lapar itu dilupakan untuk sementara, akan tetapi di saat anda mencium bau makanan dengan seketika rasa lapar itu kembali hadir. Dalam konteks ini mencium bau makanan dikategorikan sebagai ilmu koresponden (ilmu hushûlî) yang akan menyebabkan rasa lapar itu kembali hadir.

                   Pengaruh argumentasi-argumentasi rasional dan ilmu koresponden dalam menghadirkan ilmu hudhuri terhadap Tuhan seperti pengaruh bau makanan dalam menghadirkan rasa lapar. Demikian pula Al-Quran menggunakan metode tersebut dalam memperkuat ilmu hudhuri. Misalnya dengan menyebutkan fenomena-fenomena alam materi dan penciptaan alam serta berkontemplasi (tadabbur) terhadapnya merupakan kategori ilmu koresponden. Sebagaimana yang diungkapkan sebelumnya bahwa ilmu hudhuri tidak bisa ditransfer kepada orang lain, yang bisa dilakukan hanya menyediakan sebab-sebab agar ilmu hudhuri tersebut terjadi padanya. Oleh karena itu Al-Quran berkali-kali menyebutkan berbagai fenomena agar fitrah manusia kembali hadir dimana fitrah tersebut secara primordial telah terbenam di dalam inti eksistensi dirinya. Setelah Al-Quran menyebut fenomena-fenomena alam biasanya dilanjutnya dengan kalimat; “Dalam perkara ini merupakan tanda-tanda yang nyata bagi ahli iman, ahli yaqin, dan bagi mereka yang menggunakan pikirannya.” Maksudnya bahwa orang mukmin dan ahli yaqin meyakini akan keberadaan Tuhan akan tetapi keimanan mereka hadir dan bertambah melalui jalan seperti ini.

                   Ada pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak kita bahwa jika Al-Quran menyebutkan berbagai fenomena tersebut hanya sebagai argumentasi dalam membuktikan keberadaan Tuhan, apakah tidak cukup dengan menyebutkan satu fenomena saja? Sebab kita menyaksikan Al-Quran menyebutkan berbagai fenomena dan bahkan ada sebagian yang berulang. Sebenarnya dalam konteks ini Al-Quran ingin mengingatkan manusia atau dalam kata lain ayat-ayat tersebut sebagai tanbîh atau pengingat bagi manusia. Misalnya dalam surah Al-An‘âm, 95-102 :

 إِنَّ اللهَ فالِقُ الْحَبِّ وَ النَّوى‏ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ مُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ذلِكُمُ اللهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ  (Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling (dari kebenaran). QS. Al-An‘âm : 95

فالِقُ الْإِصْباحِ وَ جَعَلَ اللَّيْلَ سَكَناً وَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ حُسْباناً ذلِكَ تَقْديرُ الْعَزيزِ الْعَليمِ                           

(Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan perhitungan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.) QS. Al-An‘âm : 96

وَ هُوَ الَّذي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِها في‏ ظُلُماتِ الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الْآياتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.) QS. Al-An‘âm : 97

وَ هُوَ الَّذي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَ مُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الْآياتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ

(Dan Dia-lah yang menciptakanmu dari seorang diri. Lalu sebagian dari kamu ada yang tetap (sempurna dalam keimanan dan penciptaan) dan ada pula yang tidak tetap. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mau memahami.) QS. Al-An‘âm : 98

وَ هُوَ الَّذي أَنْزَلَ مِنَ السَّماءِ ماءً فَأَخْرَجْنا بِهِ نَباتَ كُلِّ شَيْ‏ءٍ فَأَخْرَجْنا مِنْهُ خَضِراً نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَراكِباً وَ مِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِها قِنْوانٌ دانِيَةٌ وَ جَنَّاتٍ مِنْ أَعْنابٍ وَ الزَّيْتُونَ وَ الرُّمَّانَ مُشْتَبِهاً وَ غَيْرَ مُتَشابِهٍ انْظُرُوا إِلى‏ ثَمَرِهِ إِذا أَثْمَرَ وَ يَنْعِهِ إِنَّ في‏ ذلِكُمْ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

(Dan Dia-lah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan. Setelah itu Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur. Dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.) QS. Al-An‘âm : 99

وَ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكاءَ الْجِنَّ وَ خَلَقَهُمْ وَ خَرَقُوا لَهُ بَنينَ وَ بَناتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ سُبْحانَهُ وَ تَعالى‏ عَمَّا يَصِفُونَ

(Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan) bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.) QS. Al-An‘âm : 100

بَديعُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صاحِبَةٌ وَ خَلَقَ كُلَّ شَيْ‏ءٍ وَ هُوَ بِكُلِّ شَيْ‏ءٍ عَليمٌ

(Dia-lah Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.) QS. Al-An‘âm : 101

ذلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ خالِقُ كُلِّ شَيْ‏ءٍ فَاعْبُدُوهُ وَ هُوَ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ وَكيلٌ

((Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada tuhan selain Dia; pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah pemelihara dan pelindung segala sesuatu.) .) QS. Al-An‘âm : 102

لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصارُ وَ هُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصارَ وَ هُوَ اللَّطيفُ الْخَبيرُ

(Dia tidak dapat digapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat menggapai (melihat) segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.) QS. Al-An‘âm : 103

قَدْ جاءَكُمْ بَصائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَ مَنْ عَمِيَ فَعَلَيْها وَما أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفيظٍ 

(Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu dan tidak berhak untuk memaksamu beriman). QS. Al-An‘âm : 104

وَ كَذلِكَ نُصَرِّفُ الْآياتِ وَ لِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَ لِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ 

(Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat Kami secara berulang-ulang. Biarkanlah orang-orang musyrik mengatakan, “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dan mengambilnya dari orang lain [ahli kitab])”, dan Kami ingin menjelaskan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang mengetahui (dan siap menerima hakikat). QS. Al-An‘âm : 105

                   Dalam beberapa ayat di atas Al-Quran pertama-tama menjelaskan tentang penciptaan-penciptaan Tuhan agar qalbu dan pikiran manusia siap menerima cahaya hidayah Ilahi  sehingga  selanjutnya Allah SWT berfirman ; “Inilah Tuhanmu, maka mengapa kamu masih berpaling (dari kebenaran)?!”. Jika ayat ini diamati dengan seksama maka akan mampu memberikan kesadaran kepada manusia, apalagi dalam ayat ini digunakan kata ‘dza’ yang menunjukkan bahwa manusia secara hakiki bisa menyaksikan Tuhan dengan mata batinnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: