KEMENANGAN RAHMAH ATAS GHADHAB (2)

Oleh : Syaikh Jawadi Amuli

 

Kita akan melanjutkan kembali pembahasan ini tentang kemenangan rahmah atas ghadhab. Jadi, manakala agama terpelihara, maka agama akan memelihara (kehidupan) bumi. Karena itu dikatakan, “Barangsiapa terbunuh tanpa sesuatu baginya, maka ia syahid.’ (Nahj al-Fashahah, hadis ke-2820)Barangsiapa yang terbunuh tanpa harta benda, maka ia syahid.”(Uyun Akhbar al-Ridha’Jus II bab 35, hal.124). “Barangsiapa yang terbunuh tanpa (melakukan) ketidakadilan, maka ia mati syahid” (Da’aim al-Islam, Jus I, hal.398)semua  hadis ini adalah manifesto agama yang mengatakan, “Pabila anda membela (difa’) tanah air, maka anda syahid. Jika anda berperang membela kesucian, maka anda syahid.Bila anda terbunuh dalam melakukan difa; untuk menjaga harta anda, maka anda syahid.’ Agama yang berkata demikian,  pabila telah mati, maka syiar-syiarnya akan terkubur. Dan serorang arif ber-hamasi agar agama senantiasa hidup.

Al-Quran dan Nahj al-Balaghah menjelaskan keutamaan difa’.Allah berfirman “Agar kalimat Allah menjadi agung nan tinggi dan kalimat kaum kafir menjadi rendah dan hina.Imam Ali berkata, “Makna (sebuah) peperangan adalah agar kalimat Allah menjadi tinggi dan kalimat kaum zalim menjadi hina.”Dalam Al-Quran digunakan kata kafaru sementara dalam Nahj al-Balaghah diperluas dan diperjelas dengan menggunakan kalimat zalimin.

Seorang arif berkata, “Ya Allah, saya berperang tiada lain dengan nama-Mu dan ingatan kepada-Mu.Maksudnya, agar saya bertauhid, bukan untuk Al-Quran dan minyak, juga bukan untuk Al-Quran dan negara.Tetapi hanya untuk Al-Quran, dan dalam lingkup Al-Quran dan negara.Di bawah naungan Al-Quran (saya melakukan) difa’ dan membela harta benda, kesucian, tanah air, dan tambang minyak.’ Imam Sajjad, untuk memberikan warna irfan dan rahmah pada perang dan hamasah, berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah taufik kepada para pejuang, agar dalam berperang mereka bertauhid kepada-Mu dan bertakbir dengan  nama-Mu; tidak teringat akan anak dan isterinya.

Mengingat isteri, anak, orangtua, saudara dan saudari, tanah dan air (dunia), pertama, akan melemahkan tangannya untuk mengangkat senjata. Kedua, akan melumpuhkan niat dan tekadnya. Sebab, boleh jadi mulanya berniat lantaran Allah, namun selanjutnya lantaran Allah dan anak. Pabila ia memikirkan perempuan, maka ia akan berusaha untuk tetap hidup dan kembali bertemu dengannya. Namun, bila tidak teringat akan semua itu, ia kan terus maju dan tidak akan mundur.

Tujuan di atas terdapat dalam hamasah,  juga terpatri dalam irfan. Seluruh tindakan arif yang berperang atau mendoakan pejuang, merupakan celupan rahmah dan makrifah. Dengan rahmah tersebut, semua perkara baginya telah kamal al-inqitha’ (terputus total, hanya kepada Allah), sebagaimana disebut dalam Doa Sya’baniyyah.

Imam Khomeini juga mengutip Munajat Sya’baniyyah dan Shahifah al-Sajjadiyyah, lantaran dalam munajat tersebut terdapat ruh tauhid.Dalam Munajat Sya’baniyyah kita berdoa, “ilahi, karuniakanlah aku kamal al-inqitha’ kepada-Mu.

Kamal al-inqitha’ ini adalah suatu keadaan ketika seseorang melupakan segala sesuatu (selain Allah) dan ini adalah sebuah nysyan muqaddas (kelupaan yang suci). Lupa segalanya adalah suatu keadaan pabila manusia hanya mengingat Allah, sehinga ia akan ingat segalanya, dan, Allah adalah segalanya; Dialah al-awwal wa al-Akhir wa al-Zhahir wa al-Bathin (Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin).

Pabila seorang merasakan hidangan jamal al-Haqq (Allah), maka pada saat itu ia akan terhuyung, seperti Imam Sajjad, “Wahai Kenikmatanku, wahai Surgaku, wahai Duniaku, wahai Akhiratku, wahai Arham al-Rahimin…”

Namun, pabila seseorang hanya memiliki semangat juang, maka ungkapannya adalah ungkapan para penguasa dan semacamnya, “Jika sehari-hari aku tidak memperolah keuntungan, tanah dan harta benda, maka cukuplah aku memiliki murka; sebab kasih sayangku adalah hartabenda.Adapun, Imam Sajjad berkata, “Duniaku, Akhiratku, Surgaku dan Kenikmatanku adalah Allah.”

Ya awalnya adalah rahmat Allah dan akhirnya adalah rahmat Allah jua.Apa yang beliau pinta, melingkupi juga para pejuang di medan perang. Sebab, beliau melihat bahwa beliau telah mencapai tingkatan untuk meliputi segala sesuatu.Dan, mencapai segala sesuatu itu bergantung pada lepasnya (seseorang) dari segala sesuatu. Pabila kita berlepas dari segala sesuatu; dari perempuan, anak, orangtua, tanah dan air (dunia), maka kita akan mencapai segala sesuatu; mencapai kedekatan pada Tuhan yang segala sesuatu (berasal) dari-Nya. Setelah lepas (dari segala sesuatu), kemudian mencapai (segala sesuatu), ia juga akan mendoakan pejuang (Islam), “Ya Allah, penuhilah hati mereka dengan Diri-Mu.”

Lupa, berada di luar ikhtiar seseorang, tiada seorang pun yang mampu mengontrol “perbatasan” hatinya, sehingga tidak dapat menghambat apa yang melintas ke dalamnya. Boleh jadi, dengan kemajuan sains dan teknologi, manusia mampu menjaring (melingkupi) sebuah planet, sehingga tidak ada yang dapat masuk atau keluar darinya.Ilmu pengetahuan mungkin bisa menjaring globe matahari, sehingga tiada sesuatu yang dapat terlepas atau jatuh ke dalamnya.Namun, itu mustahil untuk sebuah hati. Sebab, ia lebih luas dari tujuh langit dan tujuh bumi.

Sebuah hadis qudsi kira-kira menyatakan demikian, “Langit dan bumi tidak memberikan-Ku tempat, tetapi hati hancur seorang ‘ariflah tempat-Ku.”(Kasyif al-Asrar, hal. 128 dan Tafsir Shadr al-Muta’allihin, jus VI hal.39) inilah rahasianya. Karena itu, bisa saja seseorang menjaring pusat sistem alam semesta, tetapai wilayah hati, tak seorang pun akan mampu melakukannya. Kita tidak mampu menjerat pikiran-pikiran hati.Kita tidak mampu memblokir wilayah hati. Dengan pengertian, apa yang ada dalam hati tidak akan dapat keluar dan apa yang ada di luar hati tidak akan dapat masuk.

Kadangkala, ketika berada di suatu tempat, kita melihat banyak kenangan tentang 10 tahun silam yang muncul dalam benak.Adakalanya pula, tanpa disadari, kenangan-kenangan bersama kekasih tercinta menghilang dalam benak dan menjadi terlupakan.Dengan demikian, ‘lupa’ tidak dapat dibendung dengan ‘ingatan’ pun tidak dapat ditahan.Sedikit banyak mungkin bisa dilakukan, namun secara keseluruhan adalah tidak mungkin. Sebab, hati hanya ada dalam kekuasaan sang Pencipta. Pabila seseorang ingin mengusir kecenderungan hati-nya, ingin melupakan anak, saudara, dan saudari dalam benaknya, ia tidak akan mampu. Inilah “perbuatan” Zat yang membolak-balikkan hati (muqallibal qulub).

Ketika dia mengisi relung hati seseorang, maka hanya Dialah satu-satunya yang akrab dengan hatinya.“Hati seorang mukmin antara dua ujung jari dari jari-jari al Rahman” (Musnad Ahmad, Jus II, hal.173) Dialah yang membalikkan sekehendak-Nya; Dialah pelaku sekehendak-Nya.Dialah  yang mengusir apa yang ada di hati seseorang sekehendak-Nya, dan yang mengisikan sesuatu ke dalam hati seseorang sekehendak-Nya.

Seseorang yang teringat akan dosa yang pernah dilakukannya 20 tahun silam, harus mengakui kesalahannya dan bersujud syukur. Sebab, Allah SWT yang mengingatkannya akan itu, sehingga ia dapat bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah, dengan beristighfar penuh kehinaan dan kembali kepada-Nya. Dan dengan begitu, Allah akan mengampuninya. Celakalah orang yang diingatkan Allah pada dosa yang telah diperbuatnya tetapi tidak bertaubat. Itu adalah kenikmatan dari Allah kepadanya, tapi ia malah tidak memanfaatkannya. Boleh jadi, seseorang, pada beberapa tahun silam, lantaran perbuatan ihsannya, mampu mencapai suatu tingkatan spiritual. Kenangan itu terbayang, dan ia semestinya berucap, “Ya Allah, aku bersyukur kepada-Mu.”

“Ya Allah, Pelindungku… Betapa banyak kejelekanku Kau tutupi; betapa banyak malapetaka yang telah Kau hindarkan; betapa banyak rintangan yang telah Kau singkirkan; betapa banyak bencana yang telah Kau gagalkan, betapa banyak pujian baik yang tak layak bagiku telah Kau sebarkan. “ (Mafatih al-Jinan, Doa Kumail)

Jadi, apapun yang terlintas dalam hati, itu berkat Inayah Allah.Pabila seorang pejuang mendambakan kemenangan, maka ia harus kembali pada tujuannya, li takuna kalimatullah hiyal’ulya’. (Al-Taubah :40). Dan, pabila ia mati syahid, ia syahid dengan kalimat thayyibah; fuztu wa rabbil ka’bah (Bihar al-Anwar, jus XLII, hal.239) inilah yang diajarkan Imam Sajjad. Beliau, di samping berdoa, juga mengajarkan etika berdoa kepada para pejuang Islam.

Doa yang diajarkan kepada kita, “Ya Allah, jadikanlah hati para pembela agama-Mu, yang bertempur di medang perang, penuh dengan rahmat dan ingatan kepada-Mu. Hapuslah ingatan kepada anak dan isteri dari hati mereka, agar mereka berperang hanya lantaran zikir kepada-Mu.”Kita seharusnya tidak berkata, “Karena Allah dan untuk membela anak,” tetapi mengatakan, “Hanya karena Allah.”Yang jelas, di bawah rahmat Allah itu tercakup juga keluarga.Inilah yang disebut “hamasah seorang arif” dan yang di atas disebut “irfan seorang hamasi.’

Jika saja tiada harap dan doa, maka tiada seorang pun yang mampu mengendalikan hati sepenuhnya dalam ikhtiar Zat yang Mahasuci. Sebab, manusia tidak memiliki dua hati;

 

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongga

(dada)nya. (Al-Ahzab :4)

 

          Ya, hati bukanlah tempat bagi rahmat Allah dan selain-Nya.Sebab, rahmat Allah adalah lathif (super halus).Pabila seseorang memiliki 99 persen rahmat Allah dan satu persen rahmat selain-Nya, maka yang satu persen ini ibarat debu yang mengotori 99 persen itu. Sebab, rahmat Allah sangat halus nan lembut. Karenanya, titik-titik rahmat selain Allah itu harus dihilangkan dari dalam hati.Setelah itu, maka pastilah hati hanya untuk Allah dan tidak untuk selain-Nya.Selain Allah itu hanya merupakan sarana, bukan tujuan.Sebab, rahmat dari selain Allah itu bertempat di luar hati, bukan dalam hati.Jika dalam hati tersedia tempat (bagi selain Allah), maka di situ tiada tempat bagi rahmat Allah.

          Allah SWT tidak bersekutu; Dia tidaklah sama dengan selain-Nya. Sebab, Dia Laisa kamitslhihi syai’ (tiada sesuatupun yang menyamai-Nya) dan rahmat Allah juga laisa kamislhi syai;.Karena itu dikatakan, “kuasailah hati kami.”Yakni, penuhilah seluruh ruang hati dengan rahmat-Mu.Agar, tiada kebimbangan dan ketergantungan kepada anak, isteri, dan lain-lain yang berada di luar wilayah hati.

Contoh lain, pabila seseorang menyakiti kita tetapi kita tetap bersikap baik kepadanya, maka tatkala ia menyadari sikap buruknya dan sikap bajik kita kepadanya, ia akan merasa malu kepada kita. Meskipun kita telah memaafkannya, bahkan tanpa celaan sekalipun.Kita tidak hanya tidak mempermalukannya, tidak menggunjingkan dirinya kepada orang lain, bahkan kita bersikap lembut secara sempurna kepadanya. Semakin banyak perbuatan ihsan (bajik) kita, akan semakin dalam perasaan malunya dan kita tidak akan mampu menghapus rasa malu dalam dirinya. Sebab, rasa malu itu bukan kita yang memunculkannya, juga bukan lantaran dirinya.

Ya, seseorang yang beberapa tahun lalu menyakiti kita dan kita memaafkannya, memberi hadiah dan membahagiakannya, maka semakin banyak perbuatan bajik kita kepadanya, akan semakin besar rasa malu dalam dirinya. Ia tidak akan mampu menghapus siksaan batinnya, tidak juga kita.

Akan tetapi, Allah SWT mampu menghapusnya. Artinya, pabila manusia berbuat maksiat dan mencoba menghina kesucian Ilahi, misalnya sengaja tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, Allah SWT akan menerima taubatnya. Ketika Allah memasukkannya ke surga. Allah mencuci seluruh lembaran hatinya; orang tersebut sama sekali tidak akan ingat kalau ia telah berbuat maksiat dan bertaubat, yang dapat membuatnya merasa malu. Dan bagi kaum tawwabin (orang-orang yang bertaubat) tersedia surga khusus, “Engkaulah yang membuka sebuah pintu bagi hamba-hamba-Mu menuju pada maaf-Mu dan Engkaulah yang menamainya pintu taubat.”(Shahifah al-Sajjadiyah, Munajat Tawwabin) Allah SWT berfirman :

Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.(Al-Tahrim:8)

 

Artinya, “Ya Allah!Engkaulah yang membuka sebuah pintu bagi hamba-hamba yang khusus, untuk mengajak mereka kepada rahmat dan Engkau namai itu pintu taubat.Inilah salah satu pintu surga yang khusus dimasuki orang-orang yang bertaubat. Namun, mereka sama dengan para penghuni surga lain. Yang sama sekali tiada dalam ingatan mereka bahwa mereka pernah berbuat maksiat, yang dapat menyebabkan mereka malu di dalam surga.’

Pabila sama-sama mukmin, dua orang yang saling membenci akan masuk surga juga. Namun, apakah kebencian mereka di dalam surga akan muncul kembali? Pabila dalam hati kita bersemayam kebencian terhadap sahabat kita sendiri dan Allah mengampuni dosa-dosa kita serta memasukkan kita ke dalam surga, maka — berdasarkan kaidah — akan terlontar apapun yang ada dalam batin kita. Kesimpulannya, ia akan mengetahui bahwa kita pernah memusuhinya. Lantas, apa yang dapat kita lakukan dengan adanya kebencian (lama) itu?

Allah SWT akan memasukkan kita ke dalam surga setelah menyucikan seluruh relung hati kita.

 

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang

mereka bersaudara.(Al-Hijr :47)

 

Ketika segala dendam dan permusuhan telah lenyap, maka apapun yang ada di hati adalah selain dari itu, karenanya, kita akan melihat bahwa hati saudara kita ibarat kaca dan ia pun demikian. Begitulah Allah, yang tidak membiarkan orang mukmin terhina.

Rahasia semua itu adalah bahwa pabila seseorang itu sattar (suka menutupi aib orang lain) dan menjaga kesucian orang lain, niscaya Allah SWT akan menutupi dan menjaga kesuciannya. Doa ‘arif adalah, “Ya Allah, cucilah hati mereka yang pergi ke medan pertempuran, sehingga tidak mengingat sesuatu melainkan Dikau; dan kuasailah hati mereka untuk (selalu) mengingat-Mu.”

Ali Akbar, putera Imam Husain, dengan hati mutayam (yang dikuasai Allah), berangkat ke medan perang dan sang ayah memberangkatkan puteranya itu juga dengan hati mutayam. Diantara bani Hasyim, yang pertama kali ke medan pertempuran adalah Ali Akbar bin al-Husain ini. Sebab, hati Imam Husain berada dalam mutayam  dan kecintaan terhadap Ali Akbar dalam hati Imam Husain tidak menjadikan beliau menghalangi keberangkatan puteranya. Ini lantaran kalbu Imam adalah kalbu ilahi. Di luar gedung hati Ali Akbar terdapat tempat, namun bukan di dalamnya. Imam Husain pun, di luar relung hatinya, terdapat tempat bagi Ali Akbar, namun bukan di dalamnya. Seluruh taman hati Imam Husain penuh dengan rahmat Allah dan segenap taman hati Ali Akbar pun penuh dengan cinta kepada Allah.

Para imam, lantaran mereka bershibgah Allah, mereka terpuji dan dipuji. Sang ayah tidak menginginkan anaknya dan sang anak tidak mengingingkan ayahnya. Namun, ayah dan anak secara bersama mengingingkan Allah.Karena itu.Allah membalasnya, dan mereka berada dalam kesempurnaan ridha dan mendapatkan pahala dari-Nya.Rahasianya adalah bahwa hati kedua orang itu telah dikuasai oleh zikir kepada Allah.Hal demikian ini dialami Imam Sajjad ketika beliau mendoakan para pejuang Islam. Ketika berperang, maka pertama kali ayah atau anaknya harus dilupakan agar ia dapat berperang secara benar. Imam menyaksikan keadaan ini dari jarak dekat, kemudian beliau mendoakan para pejuang Islam, “Ya Allah kondisikan hati mereka, sehingga (menjadi) terkuasai dengan zikir kepada-Mu.”

Salam atas al-Husain, atas Ali bin al-Husain, atas putera-putera al-Husain, dan atas sahabat al-Husain.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: