Kenabian dalam Nalar Quran (Risalah (1) Vol. 3)


Oleh : Muhammad Nur

Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mendiskusikan seputar persoalan tauhid. Pada kesempatan kali ini, kami ingin menyuguhkan seputar persoalan kenabian dengan menelusuri teks-teks yang ada dalam Quran. Penelusuran melalui teks ini sangat penting, khususnya dalam persoalan kenabian, karena kita dapat memahami tujuan dan maksud dari Allah SWT atas keberadaan para Nabi tersebut sebagai utusan Ilahi.

Sebagaimana dipahami sebelumnya dalam pembahasan tauhid, bahwa Allah SWT sebagai hakikat yang absolut dan tak terbatas dan tentunya bukan hanya memiliki segala kesempurnaan eksistensi namun juga sebagai sumber segala kesempurnaan. Kesempurnaan Ilahi ini kemudian menjelma dalam bentuk nama yang disebut dengan asmaul husna. Masing-masing dari nama-nama Tuhan ini menunjukkan kesempurnaan yang dimiliki oleh Allah SWT. Dan oleh karena realitas Ilahi tak terbatas dan absolut maka nama-nama-Nya pun demikian halnya.

Salah satu dari nama Tuhan adalah Maha-Bijaksana. Nama Tuhan Maha-Bijaksana ini tentu terkait dengan nama Tuhan lainnya, misalnya Maha-Mengetahui, Maha-Adil, dan nama-nama lainnya. Melalui pendekatan nama Tuhan ini, kita bisa mengatakan, setelah Tuhan mencipta, Tuhan juga menunjukkan pada hamba-Nya mana jalan yang benar untuk sampai pada kesempurnaan yang dimaksud. Karena jika Tuhan hanya mencipta lalu membiarkannya maka akan bertentangan dengan kesempurnaan Tuhan lainnya yaitu sebagai Maha-Bijaksana dan Maha-Pemberihidayah. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dengan sifat Tuhan yang Maha-Bijaksana dan Maha-Pemberihidayah maka Tuhan tidak hanya mencipta tapi juga menunjukkan jalan pada ciptaan-Nya dan hamba-Nya agar manusia sampai pada tujuannya yang hakiki.

Dimensi kesamaan ajaran para Nabi dalam Quran

Sebagaimana dipahami bersama, jika kita memandang dari sisi ruang dan waktu maka para Nabi terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Para Nabi Secara periodik, ada yang lebih dahulu dan ada yang lebih akhir.  Maksudnya bahwa keterpisahan jarak beserta ruang dan waktu disebabkan oleh keniscayaan materi. Namun demikian, hal yang mesti dipahami bahwa para Nabi secara substansi adalah hakikat yang tak terpisahkan dan suatu realitas yang tersambung dari awal hingga akhir.

Rahasia mengapa para Nabi merupakan hakikat yang terbentang dan tersambung dari awal hingga akhir, dikarenakan para Nabi merupakan manifestasi agung Ilahi. Oleh karenanya, sebagaimana Allah SWT memanifestasikan dirinya dalam nama-nama-Nya dan nama-nama-Nya pun kemudian memanifestasikan dirinya dalam beragam bentuk, namun pada saat yang sama nama-nama tersebut merupakan satu hakikat yang tunggal yang tersambung dari awal hingga akhir. Mengikuti hal tersebut, maka para Nabi pun merupakan satu hakikat yang tersambung dari awal hingga akhir sebagai manifestasi nama agung Ilahi. Hal ini menyadarkan kita bahwa hakikat kebenaran juga merupakan suatu realitas yang tunggal yang tersambung dari awal hingga akhir, mengikuti para Nabi sebagai manifestasi dari hakikat kebenaran dari para Nabi yang juga merupakan manifestasi dari Ilahi.

Dari sini pun dapat dipahami bahwa kebatilan sebagai lawan dari hakikat kebenaran  adalah suatu hal yang terpisah-pisah serta terceraiberai dan karena itu pula kebatilan tak memiliki realitas yang tunggal. Jika hakikat kebenaran itu eksistensinya tetap maka kebatilan adalah kesirnaan dan tak memiliki pondasi.

Ajaran para Nabi, melalui hakikatnya yang tersambung dari awal hingga akhir, maka para Nabi pada hakikatnya penyambung masyarakat manusia dari dahulu hingga akan datang. Jika kita mengikuti realitas ini, maka filsafat sejarah dapat dibingkai berdasarkan filosofi hakikat kenabian bahwa para Nabi merupakan pondasi dalam seluruh masyarakat manusia sebab itu tak heran jika jumlah para Nabi bukan hanya 25 saja bahkan lebih. Hal ini juga menegaskan bahwa realitas eksistensi dibangun berdasarkan hakikat kebenaran. Jika kebatilan muncul dipermukaan, kebatilan ini tak kan abadi dan segera akan kembali pada hakikatnya yaitu kesirnaan. Oleh karena itu, Allah SWT menciptakan alam ini dan kemudian meletakkan para Nabi dan Rasul di dalamnya sebagai hakikat yang terbentang dan tersambung dari awal hingga akhir. Dalam surah At-Taubah : 33 Allah SWT berfirman, “Dia-lah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” Ayat ini menjelaskan bahwa akhir dari ciptaan realitas alam ini tak mungkin dengan kezaliman namun dengan keadilan. 

Allah SWT berkata kepada Rasulullah SAW dalam surah An-Nahl : 123 “Ikutilah agama Ibrahim.” Selanjutnya kepada kita juga mengatakan dalam surah Hajj : 78 “(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.” Allah SWT menyuruh kita dari dahulu untuk mengikuti tradisi para Nabi. Tradisi ini senantiasa dijaga oleh Allah SWT karena di dalamnya terdapat pemikiran Ilahiah dan pemikiran Ilahiah yakni tauhid inilah yang kemudian tersebar dalam seluruh generasi manusia dan kemanusiaan. Namun berbeda dengan tradisi orang-orang zalim, misalnya berkenaan dengan Namrud dan Firaun Allah SWT berfirman dalam surah Al-An’am : 45, “Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya.” Begitu juga dalam surah Al-A’raf : 72 “Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” Sebagaimana juga dalam surah Al-Anfal : 8 “Agar Allah menetapkan yang hak dan membatalkan yang batil.”

Berkenaan dengan hal ini, ada perumpaan yang menarik yang disampaikan oleh Allah SWT dalam surah Ar-Ra’ad : 17 “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, lalu mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” Dalam ayat ini pertama-tama Allah SWT menjelaskan bahwa anugerah Ilahi ini turun bagai air hujan, manusia menampung anugerah tersebut bergantung pada kadar ukurannya masing. Semakin luas wadahnya maka semakin luas pula dalam menampung anugerah Ilahi. Selain itu pula, perumpamaan dalam ayat ini menjelaskan bahwa jika memang hal tersebut adalah sebuah kebenaran maka tentu akan memberikan faedah dalam masyarakat dan jika memberikan faedah dalam masyarakat maka kebenaran tersebut akan kekal dan tetap di bumi. Namun berbeda dengan kebatilan, karena kebatilan tak memberikan faedah dalam masyarakat maka kebatilan cepat berlalu dan sirna.

Allah SWT dalam surah Qashash : 51 berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami turunkan ayat-ayat (Al-Quran) ini kepada mereka secara berturut-turut agar mereka ingat.” Ayat ini menjelaskan posisi Nabi sebagai perantara yang menyambungkan perkataan Ilahi agar sampai kepada masyarakat. Kemudian pada ayat lain Allah SWT berfirman dalam surah mukminun : 44 “Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) para rasul Kami berturut-turut.” Ayat ini menegaskan ketersambungan antara satu Rasul dengan Rasul lainnya dan ayat ini menyebutnya dengan ketersambungan yang mutawatir atau berturut-turut. Berbeda dengan orang-orang zalim dan inkar, Allah SWT berfirman dalam surah Saba : 19 “Dan Kami jadikan mereka kisah (sebagai pelajaran bagi orang lain) dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.” Oleh karenanya, para Nabi adalah hakikat yang tunggal, yang senantiasa hadir dalam masyarakat, dan kemudian memberikan efek. Dari sini kita dapat mengerti pentingnya memahami tradisi dan sirah para Nabi bahwa ketika realitas manusia tersambungkan dengan hakikat kebenaran maka dirinya pun akan menjadi sebuah realitas yang tetap.

Dalam surah At-Ttaubah : 32 Allah SWT berfirman, “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya”, dan juga dalam surah Shaff : 8 “Tapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” Cahaya Ilahi tidak mungkin dimatikan, meskipun ada yang ingin mencoba mematikannya namun mereka takkan mungkin mematikannya, karena cahaya Ilahi ini sampai kepada masyarakat melalui wahyunya. Cahaya Ilahi yang berupa wahyu ini senantiasa bersinar dan bahkan Allah SWT sendiri yang menjaganya sehingga pancaran sinarnya sampai kepada seluruh manusia. Berdasarkan hal ini, jika ada yang menganggap bahwa di alam ini terkadang cahaya Ilahi yang bersinar dan terkadang api kezaliman yang menerangi manusia, tentu anggapan ini adalah anggapan yang tidak tepat karena cahaya Ilahi tak akan pernah padam.

Kemudian dalam beberapa ayat selanjutnya, seperti dalam surah Maryam : 41 “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (Al-Quran) ini.” Surah Maryam : 51 “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Musa di dalam al-Kitab (Al-Quran) ini.” Surah Maryam : 16 “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran.” Surah Maryam : 56 “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka kisah) Idris di dalam Al-Quran.” Surah Shad : 41 “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub.”

Ayat-ayat sebelumnya menunjukkan kepada kita bahwa tradisi mereka yaitu tradisi para Nabi sebelumnya senantiasa hidup hingga saat ini sehingga Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW agar menceritakan Nabi-Nabi sebelumnya. Dan juga dalam surah Al-An’am : 90 Allah SWT berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka ikutilah petunjuk mereka.” Yang Allah SWT perintahkan kepada kita adalah mengikuti petunjuknya karena petunjuk ini adalah hidayah Ilahi dan hidayah Ilahi ini senantiasa berlangsung terus menerus. Karenanya terkadang hidayah ini dalam bentuk sirah Nabi Ibrahim, terkadang dengan sirah Nabi Musa, terkadang dengan sirah Nabi Isa, dan juga terkadang dengan sirah Nabi-Nabi lainnya. Dan saat ini kita berada dalam sirah Rasulullah SAW.  (Bersambung……)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: