Kita Semua Miskin di Hadapan Allah

 Kisah 1  Kita Semua Miskin di Hadapan Allah
Nabi Muhammad SAW sedang duduk di masjid di Madinah memberikan ceramah dan pengajaran kepada beberapa pengikutnya sembari menantikan waktu salat tiba.
Seorang kaya yang mengenakan busana mahal datang dan duduk di hadapan Nabi Muhammad SAW untuk mendengarkan ceramah beliau. Sementara itu seorang lagi juga datang untuk mendengarkan ceramah Nabi SAW dan mengambil tempat duduk di samping si orang kaya tadi.
Orang yang kedua yang datang bukanlah orang kaya, dia adalah seorang miskin. Pakaian lusuh dan sobek yang ia kenakan menandakan betapa miskinnya dia. Si orang kaya tidak senang kalau si miskin duduk di sampingnya. Dia tarik pakaian menarik, baru dan mahalnya lebih dekat, sehingga tidak akan tersentuh oleh pakaian kotor, lusuh dan sobek si miskin.
Nabi Muhammad SAW mengamati apa yang dilakukan oleh si kaya dan merasa kecewa dan terganggu oleh sikap orang kaya tersebut. Beliau bertanya kepada si kaya mengapa dia bersikap seperti itu.
Apakah karena dia berpikir bahwa kekayaannya akan berpindah kepada si miskin, atau karena takut kemiskinan akan mendatanginya? Si orang kaya, yang bukan merupakan orang jahat, menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan merasa menyesal.  Untuk menebus kesalahannya dan menunjukkan betapa menyesalnya dia, dia meminta maaf kepada si miskin dan menawarkan kepadanya separuh dari kekayaannya.
Si miskin berkata kepadanya bahwa dia menerima permintaan maafnya dan memaafkannya, namun tidak menginginkan separuh kekayaannya. Ketika ditanya kenapa, dia berkata bahwa dia takut kekayaan itu akan membuatnya pongah terhadap saudara Muslimnya.
Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah teladan Nabi Muhammad SAW di atas adalah:
Bagi Allah , kaya dan miskin tidak ada bedanya. Orang yang paling dekat kepada Allah adalah orang yang mentaati-Nya dalam seluruh perbuatan.
Sumber Rujukan: Muthahhari, Daastan-e Raastan
Kisah 2    Dan Aku yang akan Mengambil Kayu Bakar
Nabi kita, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah untuk menjadi guru kita. Beliau bersabda “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
Beliau mengajarkan kepada kaum Muslimin dalam banyak jalan. Terkadang beliau mengajar mereka dengan kata-kata dan ceramah-ceramah. Lain waktu, kaum Muslimin berbuat sesuatu di hadapan Nabi Muhammad SAW dan beliau tidak menegur. Maka, mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar, karena kalau tidak, Nabi SAW pasti akan menegur mereka.
Suatu hari, Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat pergi melakukan perjalanan. Setelah berjalan beberapa lama, mereka kelelahan, lalu mereka berhenti sejenak untuk beristirahat.
Mereka memutuskan untuk mendirikan tenda kecil dan memasak makanan. Salah seorang dari mereka berkata bahwa dia akan pergi dan membunuh seekor domba sehingga mereka dapat masak. Yang lainnya berkata bahwa dia akan menguliti kulit domba tersebut sebelum dimasak. Yang lainnya berkata bahwa dia akan menyalakan api dan memasak daging.
Setiap orang berkata bahwa mereka akan melakukan pekerjaan tertentu sehingga mereka dapat melakukannya dengan cepat dan seimbang.  Nabi Muhammad SAW berkata bahwa dia akan pergi mengumpulkan dan membawa kayu bakar dari hutan.
Seluruh sahabat berkata kepada beliau bahwa beliau tidak perlu untuk melakukan apa pun. Mereka yang akan melakukan semua hal ini.
Nabi Muhammad SAW berkata kepada mereka bahwa mereka dapat melakukan pekerjaan ini, akan tetapi Allah SWT tidak menyukai seseorang duduk berdiam diri dan membiarkan orang lain sibuk bekerja.
Nabi SAW juga berkata kepada mereka bahwa meskipun beliau adalah pemimpin mereka, akan tetapi beliau tidak suka mendapatkan perlakuan khusus dari mereka. Karena Allah tidak menyukai orang yang berpikir bahwa dirinya lebih baik dari orang lain.
Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah teladan Nabi Muhammad SAW di atas adalah:
Ketika duduk berdiam diri dan membiarkan orang lain sibuk bekerja, sikap seperti ini akan membuat kita menjadi malas.  Kita harus bekerja bahu-membahu, sehingga pekerjaan yang ada dapat segera diselesaikan dengan cepat dan mudah.
Sumber Rujukan: Muthahhari, Dastan-e Rastan
Kisah 3   Masjid Nabawi
Ketika orang-orang jahat Mekkah melanjutkan tindak kekerasan terhadap Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin, Nabi SAW memutuskan untuk hijrah meninggalkan Mekkah untuk selamanya. Beliau menyampaikan kepada kaum Muslimin untuk berhijrah bersama dengannya ke Madinah, di mana kaum Muslimin yang lainnya menantikan mereka. Gerakan ini disebut sebagai Hijrah Nabi SAW.
Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, kaum Muslimin merasa bahagia dan menyambut mereka dengan hangat. Pekerjaan yang pertama kali yang mereka lakukan adalah membangun sebuah masjid untuk kaum Muslimin.
Beliau memilih sebidang tanah yang dimiliki oleh dua orang anak yatim. Setelah membeli tanah tersebut untuk pembangunan masjid, beliau meminta kaum Muslimin untuk membantunya membangun sebuah masjid yang sederhana.
Seluruh kaum Muslimin membantu dalam melapangkan jalan dan menebang pepohonan dan ilalang. Setelah itu, pekerjaan pembangunan masjid dimulai. Nabi SAW juga turut serta membantu pelapangan jalan untuk pembangunan masjid tersebut.
Masjid Madinah didirikan tidak hanya untuk keperluan ibadah. Kaum Muslimin juga datang ke masjid itu untuk menuntut ilmu. Ketika Nabi SAW hadir di Masjid, mereka mendengarkan sabda-sabda beliau. Dan jika Nabi SAW tidak hadir di Masjid, sahabat-sahabat yang lain yang memberikan pelajaran yang didapatkan dari Nabi Muhammad SAW.
Suatu waktu Nabi SAW memasuki masjid untuk menunaikan salat. Beliau menjumpai dua kelompok di dalam masjid. Kelompok pertama sedang sibuk dengan shalat mereka, kelompok lainnya sedang sibuk belajar dan mengajar. Mereka belajar membaca dan menulis dan mendiskusikan ajaran-ajaran Islam.
Melihat kedua kelompok ini, Nabi SAW bersabda: “Kedua kelompok melakukan hal yang berguna. Akan tetapi Aku adalah seorang pengajar. Aku akan bergabung dengan kelompok yang sedang sibuk belajar dan mengajar.” Lalu Nabi SAW duduk dengan kelompok pelajar.
Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah teladan Nabi Muhammad SAW di atas adalah:
Nabi Muhammad SAW tidak pernah duduk santai sementara orang-orang sibuk bekerja. Ketika masjid dibangun, beliau bekerja sebagaimana yang lain. Mengkaji ilmu-ilmu Islam adalah bagian dari ibadah.
Sumber Rujukan: Al-Garawi, al-Amtsalun Nabawiyyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: