MENUJU GERBANG TAKWA

Oleh : MUHAMMAD NUR

Pertama, perbaikilah dirimu

Kebanyakan dari kita lebih banyak melihat keluar dari pada melihat ke dalam diri kita sendiri. Hal tersebut termasuk salah satu penghalang dalam proses tazkiyatun nafs dan sair suluk kepada Allah swt.Karena menyebabkan lalai terhadap diri kita sendiri. Ciri orang berakal, pertama ia melihat dirinya baru kemudian ia melihat diluar dirinya. Namun, mereka yang tidak berakal lebih banyak melihat diluar dirinya dari pada melihat dirinya sendiri.

Berkenaan dengan hal diatas, terdapat perkataan yang begitu indah dari Amirul mukminin Ali as dalam menjelaskan surah Al-infithar ; 6 يا أَيُّهَا الْإِنْسانُ ما غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَريمِ artinya ; Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhan-mu Yang Maha Pemurah? dari ayat diatas Amirul Mukminin menjelaskan ; “ Wahai manusia, hal apakah yang membuatmu berani berbuat dosa dan engkau begitu sombong dihadapan Allah swt ? faktor manakah yang membuat engkau begitu senang menghancurkan dirimu sendiri ? bukankah penyakit ini telah membuatmu hancur ataukah engkau tak bisa lagi bangun dari tidurmu ? mengapa engkau tak bisa mengasihani dirimu sendiri sebagai mana engkau mengasihani yang lainnya ?

Bukankah ketika engkau menemukan seseorang yang sedang beridiri dibawah panas teriknya matahari, engkau berikan dia perlindungan ? setiap engkau melihat orang sakit engkaupun larut dalam sakitnya, bahkan terkadang air matamu menetes olehnya dengan kasih sayang yang kamu miliki ?lalu, hal apakah yang membuat engkau begitu sabar dengan derita yang engkau miliki dan hal apa jua yang tidak membuat engkau menangisi dirimu sendiri ? bukankah tidak ada orang lain yang lebih mengasihi terhadap dirimu kecuali dirimu sendiri ? tidur kelalaianlah yang telah menutupi seluruh matamu, yang akan terobati dengan kesadaran”

Namun, ketika kita mengatakan bahwa syarat untuk memperbaiki orang lain adalah kita harus memperbaiki diri kita terlebih dahulu. Hal ini bukan berarti bahwa kita terbebas dari persoalan “ Amar Makruf Nahi Munkar “.Tidak ada seorangpun yang berhak mengatakan bahwa; “ karena hingga saat ini saya belum memperbaiki diri saya, oleh karena itu saya tidak berhak menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam masyarkat “. Setiap orang diharuskan untuk memperbaiki dirinya sedini mungkin.

Terkadang kita mengatakan ; “ kami ini bukanlah seorang dokter yang kemudian berhak untuk mengobati seseorang “. Perkataan tersebut adalah sebuah perkataan yang benar. Bahkan, tidak seorang pun yang boleh memaksa kita untuk mempelajari ilmu kedokteran, karena ilmu kedokteran membutuhkan potensi tertentu, pengorbanan materi dan termasuk membutuhkan usia tertentu. Oleh karena itu, jika kita tidak dapat mengobati seseorang, hal tersebut bukanlah salah kita, karena memang kita memiliki keahlian tentangnya. Namun, jika ada seseorang yang memiliki problema akhlak, kita tidak berhak mengatakan bahwa ; “ karena saya belum memperbaiki diri, oleh karena itu saya tidak berhak untuk menegurnya “. Karena manusia senantiasa diharuskan untuk memperbaiki dirinya. Memperbaiki diri adalah tugas kita semua. Tapi dalam tahap awal perbaikan diri akan terlihat susah, tapi tidaklah demikian halnya. Hal demikian hanyalah anggapan kita saja bahwa hal tersebut susah.

Oleh karena itu sungguh mudah untuk memperbaiki diri, kita saja yang menganggapnya susah. Itulah sebabnya mengapa Amirul Mukminin Ali as mengatakan bahwa ; “ lihatlah, tidak ada orang yang berakal yang menangisi kondisi orang lain, tapi ketika dia melihat kondisi dirinya sendiri dia tidak menangisinya “. Orang yang berakal ketika berhadapan dengan makanan yang tersedia di meja makan, dia akan mengenyangkan dirinya dan mengenyangkan orang yang lapar lainnya. Begitu pula dengan makanan ruh dan memperbaiki akhlak. Manusia seharusnya mengenyangkan dirinya dari kelaparan dan dahaga dengan kemulyaan – kemulyaan akhlak, kemudian ia pun berusaha untuk mengenyangkan yang lainnya. Setelah ia memperbaiki dirinya, ia harus berusaha memperbaiki yang lainnya. Jika kita tidak memperbaiki diri kita, pada hakekatnya kita tidak mencintai “ amar ma’ruf “ dan tidak membenci kemungkaran. Sebab jika tidak demikian, maka seharusnya kita telah mengamalkan “ amar ma’ruf “ dan mencegah yang mungkar.

Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib dalam do’anya ; “ Ya Rabbi, berikanlah padaku qalbu yang memahami dan lisan yang dipenuhi dengan pertanyaan “. Qalbu adalah salah satu potensi yang mampu memahami dengan jernih, dan lisan yang dipenuhi dengan pertanyaan artinya bahwa ia akan menanyakan apapun yang ia tidak ketahui.

Faktor Kelalaian

Lalai memiliki faktor yang bermacam – macam. Salah satu faktornya yang penting adalah gambaran – gambaran yang muncul dalam benak kita dimana gambaran tersebut muncul diluar ihktiar kita atau gambaran – gambaran yang tidak kita inginkan. Untuk menjelaskan hal tersebut, ada beberapa pendahuluan yang ingin kami jelaskan.

Setiap pekerjaan yang ingin kita kerjakan, disaat memulainya tentulah kita belum mahir dalam akan pekerjaan tersebut. Artinya kita belum begitu lihai atau belum mencapai tingkatan “ mujtahid “ dalam perbuatan tersebut. Dalam istilah lainnya, perbuatan tersebut belum “ malakah “ dalam diri kita. Itulah sebabnya mengapa pekerjaan tersebut begitu sulit kita kerjakan pada awalnya. Nanti pada suatu saat kita telah mahir atau menguasainya, dalam istilahnya pekerjaan tersebut telah “ malakah “ bagi kita, barulah pada saat itu kita mudah mengerjakannya. Para Nabi Allah swt dan para wali-NYA mengerjakan perintah – perintah agama dengan cepat dan mudah. Sebagaimana Nabi Nuh as atau Rasulullah saw disebut sebagai hamba yang bersyukur. Karena mereka begitu mudahnya memanjatkan syukur kepada Allah swt.

Allah swt kepada Rasulullah saw berfirman dalam surah Al-‘ala ; 8. artinya ; “Akan kami mudahkan bagimu perbuatan yang sulit”. Makna dari ayat tersebut bahwa engkau untuk perbuatan – perbuatan baik telah mudah bagimu, bukan maksud dari ayat tersebut bahwa perbuatan yang baik telah dimudahkan bagimu. Berkenaan dengan Nabi Musa as, dalam surah Taha ; 26 ; “ dan mudahkanlah untukku urusanku “. Perbedaan antara ayat yang ditujukan pada Rasulullah saw dan Nabi Musa as adalah substansi zat manusia yang sedemikian rupa sehingga perbuatan – perbuatan yang baik dengan mudahnya terpancar dari dirinya. Sedangkan ayat kedua adalahperbuatan – perbuatan baik baginya telah dimudahkan. Ayat pertama ditujukan pada Rasulullah saw sedangkan ayat ke dua ditujukan pada Nabi Musa as.

Ala kulli hal, makna dari ayat tersebut adalah bahwa wujud Rasulullah memiliki substansi yang sangat mulia yang dengan mudahnya perbuatan – perbuatan baikterpancar darinya. Para Ahlul Bait Rasululullah demikian pula halnya. Jika orang lain sangat sulit memberikan sebuah pengorbanan dengan memberikan makanan mereka kepada faqir miskin, akan tetapi Ahlul Bait as dengan mudahnya melakukan hal tersebut. Sebagaimana yang terdapat dalam surah Al-insan ; 8. artinya “ dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan “. Perjalanan perubahan manusia juga demikian halnya. Pertama perbuatan baik tersebut kita lakukan dengan sangat sederhana, namun secara perlahan – lahan perbuatan tersebut dilakukan secara ijtihad dan “ malakah “. Setelah perbuatan tersebut menjadi malakah barulah kemudian kita melakukan perbuatan tersebut dengan sangat mudah.

Gambaran – gambaran yang hadir dalam benak kita demikian pula halnya. Pertama mungkin saja diawali dengan pembicaraan, pendengaran, hadir dalam sebuah majelis, membaca buku dll, kemudian secara perlahan – lahan gambaran tersebut mengaktual dalam benak kita, dan jika gambaran tersebut terkumpul sedemikian banyak, maka akan memungkinkan kita akan menyenangi akan gambaran tersebut dan jika demikian halnya maka pada akhirnya muncul dalam bentuk “ malakah nafsani “, artinya bahwa gambaran tersebut telah menjadi bagian dari jiwa kita. Oleh karena itu, dalam tahap inilah gambaran tersebut dengan sangat mudah muncul dan bertengger dalam benak kita yang dengannya kita mudah melupakan Tuhan.

Manusia secara alamiah terus menerus memikirkan masalah – masalah kelezatan materi. Ketika seseorang sibuk bekerja, bukan Cuma badannya saja yang sibuk bekerja, pikirannyapun sibuk bekerja. Disinilah letak keharmonisan antara zahir dan bathin. Maksudnya ketika seseorang disibukkan dengan kelezatan maka hatinya pun akan tertuju pada kelezatan tersebut dan tidak akan pergi kemana – mana. Hati dan badannya kedua – duanya tertuju pada kelezatan tersebut. Seseorang yang hatinya terikat pada harta, ketika ia merasakan kelezatan pada hartanya maka hati dan badannya tertuju pada harta dan kelezatan dalam menggunakan harta tersebut. Akan tetapi ketika ia sholat, badannya ruku dan sujud akan tetapi hati dan ruhnya tertuju pada harta.

Lalai dalam Ibadah

Diantara hal – hal yang bagi kita semua begitu menyedihkan adalah disaat kita beribadah, pikiran kita tertuju pada yang lainnya. Misalnya ketika kita sholat atau ketika kita bermunajah sebagai seorang hamba kepada Allah swt – dimana sholat merupakan washilah yang paling baik dalam bermunajah sebagai seorang hamba kepada Allah swt – tapi sungguh menyedihkan karena kita tidak mengerti apa yang kita katakan dalam sholat kita. Kita tidak sadar akan pengetahuan – pengetahuan yang ada dalam sholat kita. Bacaan sholat yang kita bacapun tidak mampu hinggap dalam benakkita, bahkan kita memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan ibadah kita.

Terkadang kita sholat sesuai dengan syariat, kita memelihara hal – hal yang wajib dan sunnah pada wudhu’ dan sholat kita, namun jiwa kita tidak hadir dalam sholat tersebut. Walaupun sholat ini secara fiqih tidak bermasalah, akan tetapi dari sisi akhlaq sholat ini tidak memiliki efek sama sekali. Menghadirkan hati dalam sholat bukanlah persoalan yang mudah, walaupun sholat tersebut hanya dilakukan beberapa menit saja. Jika kita bisa menjaga sholat kita dengan menghadirkan hati kita dalam sholat, artinya kita mengetahui pada siapakah kita berbicara maka yakinlah sholat kita akan memberikan efek pada perkara – perkara lainnya. Namun karena kita tidak mampu menghadirkan hati kita disaat kita menunaikan sholat yang kita lakukan hanya beberapa menit saja, maka dalam perkara lain pun sholat kita tidak memberikan efek yang berarti.

Sholat adalah jembatan. Jembatan ini tidak akan membantu jika seseorang lalai dalam melewatinya. Jika manusia lalai, maka dia akan jatuh. Karena jembatan ini lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. Dalam surah Al-mu’minun ; 74 Allah swt Berfirman ; “ dan sesungguhnya orang – orang yang tidak beriman pada akhirat benar – benar menyimpang dari jalan ( yang lurus ) ini “.

Namun disini terdapat kelaziman yang saling timbal balik. Sholat yang benar maka akan mencegah kita dalam berbuat keburukan, dan perbuatan buruk akan mencegah manusia dalam melakukan sholat dan termasuk ibadah – ibadah lainnya. Seorangyang sebelum melakukan sholat tidak memperhatikan akan hal – hal yang haram atau halal, maka dia tidak akan mendapatkan taufik dalam menghadirkan jiwanya dalam sholat, bahkan dia tidak tahu pada siapa saat ini dia berbicara. Maka Al-qur’an akan berkata pada orang ini ; “ maka celakalah bagi orang – orang sholat, adalah mereka yang lalai dari sholat mereka “. Surah Al-maun ; 4 – 5.

Ibadah akan memberikan efek dalam pembersihan jiwa dan tazkiyatun nafs jika mereka yang beribadah memiliki pengetahuan terhadap muatan – muatan sholat serta meyakininya dan menghadirkan pengetahuan tersebut dalam benaknya. Tapi jika kita lalai dalam ibadah kita, maka kita tidak memiliki jalan lagi dalam proses tazkiyatun nafs. Lalai dalam pandangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah ulatnya jiwa. Ketika cermin hati kita yang jernih dipenuhi dengan ulat, maka cermin tersebut tidak akan menunjukkan sesuatu. Jika ibadah kita dijangkiti dengan kelalaian dan ulat, maka kita tidak memiliki jalan dalam memperbaiki jiwa. Sholat yang kita lakukan lima kali dalam sehari adalah untuk menolong manusia dari kelalaian. Itulah rahasianya mengapa kita sangat dianjurkan untuk melakukan sholat sunnah, karena kebanyakan dari kita lalai dalam sholat kita.

Terkadang kita duduk bersama teman – teman kita, berbicara hal – hal yang sederhana tanpa pernah merasakan letih dan lelah sama sekali. Tapi kita merasa letih untuk berdiri melaksanakan sholat. Hal ini disebabkan karena kita belum merasakan keindahan ketika kita bermunajah kepada Allah swt. Secara psikologi jika kita berbicara dengan seseorang yang tidak sejiwa atau tidak kita senangi, tentunya hanya membosankan. Oleh karena itu, jika kita ingin mengetahui apakah Allah swt senang terhadap kita atau tidak, kita cukup melihat kondisi kita ketika kita membaca qur’an dimana ketika kita membaca qur’an Allah swt sedang berbicara pada kita, dan kita juga melihat kondisi kita waktu sholat dimana ketika kita sholat kita sedang berbicara kepada Allah swt. Nah, pada kondisi tersebut apakah kita merasakan kebosanan atau kebahagiaan ?

Iklan
  1. makasih ini ngebantu bgt,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: