Wasiat Qurani Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar (1)

Oleh : Syaikh Jawadi Amuli

 

Sebagian wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar didasarkan atas ayat-ayat Al-Quran secara langsung. Sebagian wasiat itu berbicara tentang penghormatan kepada para pembawa Al-Quran, tafsiran Al-Quran, dan aplikasi ayat-ayat Al-Quran dalam kehidupan nyata.

 

Adab Membaca Al-Quran

 

Rasulullah SAW berkata, “Hai Abu Dzar, selayaknya manusia itu merendahkan suaranya di depan Al-Quran agar ia lebih dapat merenungkan secara lebih baik dan lebih maksimal lagi. Begitu juga, kamu harus merendahkan suaramu saat mengantarkan jenazah karena selama mengantarkan jenazah adalah waktu untuk tafakkur. Seseorang akan semakin fokus bertafakkur selama melakukan pembicaraan dengan perlahan-lahan.”

 

Para Pengemban Al-Quran

 

Rasulullah SAW berkata, “Hai Abu Dzar, salah satu cara untuk mengagungkan Al-Quran adalah dengan menghormati orang tua muslim dan menghormati para pengemban Al-Quran.”

 

Orang-orang yang mengemban Al-Quran adalah manusia yang diberi amanah oleh Allah untuk memahaminya. Allah SWT telah menyerahkan amanah ini pada langit dan bumi tetapi tidak ada yang sanggup memikulnya (lihat ayat 72 surah Al-Ahzab). Hanya manusia-manusia adil yang mau menerimanya dan menyampaikannya.

 

Seseorang yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Quran, tapi orang itu tidak mau memahaminya atau tidah mau mentadabburinya dengan cara yang benar atau kalaupun dia mentadabburinya, ia tidak mau mengamalkannya, atau kalau ia mengamalkannya, ia tidak mau menyebarkannya dan mengajarkannya pada orang lain, maka mereka itu adalah manusia-manusia yang tidak mau menerima amanah dari Tuhannya. Al-Quran mengatakan, “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (QS. Al-Jumu’ah : 5). Ayat ini memakai pola tamtsil dan bukan ta’ayun. Jadi tidak ditujukan untuk kelompok tertentu saja. Ayat ini bukan hanya untuk orang-orang Yahudi dan kitab-kitab mereka saja. Tapi berlaku juga untuk umat Islam dan kitab-kitab mereka. Seorang Muslim yang disodori Al-Quran tapi tidak bersedia menjalankannya maka ia tidak berbeda juga dengan orang Yahudi.

 

Ayat Terbaik

 

Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh Abu Dzar tentang ayat yang terbaik, Rasulullah menjawab, “Ayat yang terbaik adalah Ayat Kursi karena di dalam ayat tersebut dikatakan: al-Hayyu al-Qayyum. Dalam ayat itu juga disebut nama Allah Yang Agung. Dalam Ayat itu dibicarakan juga masalah tauhid, ilmu, dan juga kekuasaan Tuhan Yang Mutlak.”

 

 

 

Al-Fatihah adalah surah yang terbaik karena Allah SWT berfirman, “Dan sungguh Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dalam Al-Quran yang agung,” (QS. Al-Hijr : 87). Tidak ada pertentangan antara keduanya karena yang pertama dalam bentuk surah dan yang kedua dalam bentuk ayat.

 

Misi Bersama Para Nabi

 

Abu Dzar bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah di dalam Al-Quran ada masalah-masalah yang juga dicatat dalam kitab-kitab nabi-nabi lain?” Rasulullah SAW menjawab, “Benar, yaitu yang berbicara tentang keutamaan penyucian diri, tahdzib, tazkiyah ruh, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat, sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu. (Yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’la : 14-19)

 

Menurut ayat ini, orang-orang yang beruntung (muflihun) adalah orang-orang yang menanamkan benih-benih tauhid dan fitrah di dalam hatinya. Salah satu penghalang keberuntungan ini adalah kecintaan pada dunia. Tahdzibun nafs dan mengingat Allah selain membawa manfaat dunia juga akan memberikan keuntungan yang lebih besar di akhirat.

 

Tema-tema seperti juga tercatat dalam mushaf-mushaf Ibrahim dan Musa atau juga Injil yang akan membenarkan apa-apa yang datang setelahnya (lihat QS. Al-Maidah : 64). Taurat juga menyinggung tentang proses penyucian diri (tahdzibun nafs).

 

Perbedaan Rendah Diri dan Rendah Hati

 

Kemudian Rasuullah SAW berkata pada Abu Dzar, “Janganlah takut di Jalan Allah!” Tidak usah merasa takut dalam memperjuangkan dan menghidupkan ajaran-ajaran Allah. Wasiat Rasulullah SAW ini didasarkan pada ayat, “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa yang di antara kamu yang murtad (keluar) dari agama-Nya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum. Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah-lembut terhadap orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di Jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa Yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah : 54)

 

Ayat di atas menjelaskan sifat-sifat orang beriman. Ada beberapa poin yang bisa disimpulkan dari ayat tersebut:

 

  1. Perintah tawadhu di depan orang Muslim bukan berarti harus menghinakan diri. Karena seorang Muslim tidak boleh menghinakan diri, baik itu di depan musuh atau di depan kaum Muslim sendiri. Islam tidak mengizinkan seorang pun menghinakan dirinya. Manusia tidak memiliki hak penuh atas kehormatannya, karena harga diri adalah milik Allah SWT. Kehormatan bukan barang pribadi yang bisa digadaikan atau diperjualbelikan sebebasnya. Imam Shadiq mengatakan, “Allah SWT telah menyerahkan perbuatan-perbuatan orang mukmin kepada dirinya mereka sendiri kecuali membiarkan dirinya terhina.” Artinya, harga diri dan kehormatan. Karena jika seorang mukmin menghancurkan harga dirinya maka imannya juga akan lenyap.

 

  1. Orang mukmin tidak akan menyerahkan dirinya pada kekuasaan kaum kafir. Ia akan menghadapi mereka dengan penuh keberanian dan Allah sendiri memberi memuji sifat Rasul SAW dan orang-orang yang beriman, “Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir dan sangat menyayangi sesama mereka.” (QS. Al-Fath : 29)

 

Ayat-ayat ini juga bisa dianggap sebagai nyawa dari hukum internasional yang mengatur kaum Muslim dengan non-Muslim. Orang-orang yang memiliki hati yang lemah dan mudah mengalah terhadap kaum kafir tidak boleh menjadi juru bicara umat Islam.

Islam memberikan aturan agar bersifat keras terhadap orang-orang kafir namun tidak dengan meninggalkan tata krama. Karena itu di dalam hadis dikatakan, “Jika kamu bertemu dengan orang-orang Yahudi dalam satu majelis, maka layanilah dengan baik.”

 

Perintah Bertasbih

 

Rasulullah SAW bersabda, “Hai Abu Dzar, sesungguhnya Allah SWT tidak menyuruhku untuk mengumpul-ngumpulkan harta, tapi Allah SWT menyuruhku untuk bertasbih, bertahmid, dan beribadah, “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kalian termasuk orang-orang yang bersujud dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan,” (QS. Al-Hijr : 98-99).  Dua nash tersebut jika digabungkan hasilnya adalah keyakinan yang juga merupakan hasil dari ibadah. Ibadah itu adalah tasbih, tahmid, dan sujud.

 

Ilmu yang Bermanfaat

 

Rasulullah SAW berkata kepada Abu Dzar, “Tanda keilmuan seseorang ketika ia membaca Al-Quran ia tidak hanya cukup mentadabburinya saja tapi juga ia merendahkan diri di hadapan Allah SWT.” Karena itu Rasulullah SAW selalu berdoa dengan doa ini, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat…”

 

Ilmu itu terbagi kepada beberapa macam: ilmu yang kurang, ilmu yang tidak bermanfaat, dan ilmu yang sempurna dan bermanfaat.

 

Dalam hadis yang terdapat dalam Biharul Anwar jilid 1 halaman 211 dikatakan, “Ilmu itu ada tiga perkara: ayatun muhkamatun (ayat-ayat yang jelas), faridhah ‘adilah (hukum waris yang adil), dan sunah yang dijalankan dan selain itu adalah sisa-sisanya.” Seorang alim yang tidak dapat memanfaatkan ilmunya, artinya ia terhalang dari keberkatan ilmunya. Arti memanfaatkan ilmu versi hadis ini bukan mengajarkan, menulis sebuah karya, atau menyampaikan kepada orang lain, tapi yang dimaksud mengambil manfaat dari ilmu adalah menghidupkan ilmu itu di dalam jiwanya sehingga ia menjadi ahli ibadah (muta’abbid), ahli khusyuk (mutakhasyiyi’) dan ahli tawadhu. Sesuai dengan firman Allah SWT, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Berimanlah kamu kepada (Al-Quran) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Quran) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud. Dan mereka berkata, ‘Mahasuci Tuhan Kami; sungguh. Janji Tuhan Kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isra : 109)

 

Manusia mukmin atau bukan, jika menerima ilmu-ilmu Ilahi akan bersujud mengakui keagungan ilmu Tuhan.

 

Amal saleh itu lahir dari ilmu yang bermanfaat dan amal itu akan memberikan kemuliaan kepada ilmu tersebut. Amal itu tidak akan membiarkan ilmu itu hilang. Seorang alim yang berusaha menyucikan dirinya lebih memilih ketaatan kepada Tuhannya dibanding ketaatan kepada selain Tuhan. Maka itu, ia juga menjadi sumber keberkatan bagi orang lain.

 

(Bersambung……)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: