Dari Redaksi

edisi 75Bulan Ramadhan adalah bulan bagi kita untuk menjadi tamu Allah. Hidangan yang disajikan Allah SWT bagi hamba-Nya pada bulan ini adalah hidangan spiritual atau maknawi, yaitu dibukanya seluruh pintu rahmat, ampunan serta dilipatgandakannya balasan dan pahala yang dikerjakan hamba-hamba-Nya pada bulan ini. Ibadah puasa pada Ramadhan merupakan salah satu bentuk hidangan Allah yang bertujuan untuk mencapai derajat takwa, sesuai dengan penjelasan Al-Quran. Kata “takwa” termasuk salah satu di antara kata-kata agama yang banyak dikenal dan sering diucapkan. Takwa adalah kekuatan jiwa dan moral yang ada dalam diri seseorang, sebuah kekuatan yang mampu mencegah seseorang dari perbuatan dosa, sekalipun berbagai perbuatan dosa ada di hadapannya. Takwa, memberikan pengaruh pada jiwa seseorang dan mencegah diri agar tidak tergelincir ke lembah dosa. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa salah satu hasil dari ketakwaan adalah dapat memberikan pengaruh pada ruh (jiwa) berupa kecerahan pandangan, sehingga pandangan seseorang menjadi terang. Sebagaimana diketahui bahwa di luar diri, kita dapat menyaksikan gelap dan terang, maka dalam diri ini, kita dapat merasakan adanya gelap dan terang. Dalam diri seseorang sedemikian terangnya sehingga seakan-akan ada lampu, sebaliknya dalam diri seorang yang lain terasa gelap karena lampu yang ada dalam jiwanya padam. Karena itu, orang yang menempa dirinya dengan baik dalam madrasah Ramadhan, sejatinya dapat keluar dari bulan mulia ini dan memberikan energi yang positif dalam menyebarkan proses pencerahan diri pada lingkungan di sekitarnya, sehingga dapat terpelihara dan terjaga dari segala kesalahan, dosa serta maksiat. Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

Dari Redaksi

10602893_4428531527241_340812123_nSebagai wujud penghambaan kepada Sang Pencipta, maka dalam konteks membentuk tatanan bermasyarakat, pemerintahan yang yang berlandaskan nilai-nilai Islam memiliki peran yang sangat penting. Dimana ia mendeklarasikan Allah sebagai tujuan dan terminal akhir kafilah kemanusiaan, yang di dalamnya watak-watak Ilahiah menjadi rambu-rambu perjalanan menuju pada tujuan besarnya. Keadilan, pengetahuan, kekuasaan, kebajikan dan pengampunan membentuk arah tujuan kafilah suci masyarakat manusia. Setiap langkah kepada tujuan ini dan setiap keberhasilan yang diraih akan menguak berbagai cakrawala baru, menambah dorongan, serta kian memperteguh manusia untuk terus melanjutkan perjalanan kafilahnya. Sebagai makhluk terbatas, manusia tidak akan bisa mencapai Allah Yang Mahamutlak dan Tidak Terbatas. Akan tetapi setiap langkah yang diayunkan dan diarahkan kepada-Nya akan membuahkan kebajikan sekaligus mendorongnya untuk semakin melipatgandakan seluruh ikhtiar yang mungkin sanggup dilakukannya. “Sesungguhnya Aku akan memberi petunjuk kepada mereka yang berjihad karena Aku di atas jalan-jalan-Ku.” Oleh sebab itulah, sepanjang tujuan yang dipatrikan dalam hati adalah Allah, maka gejolak antusiasme manusia atau masyarakat yang bernaung di bawah payung pemerintahan yang didasari nilai-nilai Islam, tidak akan pernah padam. Dengan demikian, sistem keyakinan pemerintahan Islam – yang didasarkan keimanan kepada Allah, sifat-sifat-Nya dan menjadikan Allah sebagai tujuan akhir gerak pembentukan budaya manusiawi yang hakiki – merupakan satu-satunya sistem keyakinan yang sanggup membantu serta memberi energi yang tak habis-habisnya kepada umat manusia untuk menjemput masa depannya. Itulah salah satu alasan mengapa Islam tidak ingin tujuan mutlaknya diganti dengan tujuan yang relative (terbatas). Wallahu a’lam bisshawab.

Wassalam

Dari Redaksi

Edisi 73Dalam catatan sejarah Indonesia, pada bulan Mei setidaknya ada dua peristiwa penting yang sepatutnya tidak dilupakan oleh setiap rakyat Indonesia. Peristiwa tersebut adalah Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah peristiwa Mei lainnya yang terjadi kemudian dan tidak kalah pentingnya adalah Reformasi. Gerakan reformasi merupakan momentum yang sangat penting bagi perubahan kehidupan kebangsaan di negeri ini. Betapa tidak, setelah kurang lebih 32 tahun ‘terpenjara’ oleh kepemimpinan orde baru, akhirnya lewat gerakan massa, rakyat bisa menikmati dan menghirup udara keterbukaan dan kebebasan. Sejatinya, perubahan ini mestinya mengantarkan rakyat dan bangsa Indonesia ke arah kemajuan yang begitu berarti dalam mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain. Namun ironisnya, setelah 16 tahun reformasi bergulir, ternyata yang terjadi hanya sebatas euphoria sehingga arah dan substansi perubahan yang diinginkan tidak kunjung tercapai. Karena itu, tidak mengherankan bila yang kita saksikan dari waktu ke waktu adalah kesalahan-kesalahan yang kita kutuk pada masa orde baru tapi kemudian terulang kembali dalam bentuknya yang lebih massif dan semakin parah. Penyebab utamanya karena kita menyerahkan pengelolaan negeri ini kepada orang-orang yang tidak tercerahkan, baik secara intelektual apalagi secara spiritual. Oleh sebab itu, jika kita ingin bangkit dari keterpurukan,  maka dunia pendidikan harus menjadi fokus perhatian untuk membantu menjadikan manusia-manusia Indonesia menjadi tercerahkan. Seorang mukmin yang arif harus berusaha memahami tanda-tanda zamannya, supaya tidak terpedaya oleh berbagai peristiwa, supaya dapat memberikan makna dalam kehidupannya dan yang lebih penting supaya dapat memberikan reaksi yang tepat dalam kurun waktu yang tepat.Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

 

Dari Redaksi

Edisi 72Dalam situasi perkembangan zaman saat ini, serbuan budaya asing (Barat) semakin merebak dalam lingkup masyarakat muslim. Ironisnya, sekelompok intelektual yang menerima kondisi perempuan di Barat terus konsen dengan topik kebebasan dan persamaan hak-hak perempuan dengan laki-laki. Tanpa memperhatikan  karakter penciptaan khusus perempuan  dan keharusan menjaga serta mengokohkan fondasi keluarga, mereka berusaha menarik perempuan Muslim ke arah tersebut, seperti halnya para perempuan di Barat yang terjebak dalam kondisi yang buruk. Sebaliknya, kelompok yang lain menjaga perempuan dalam kondisi yang tradisional dan jumud, yang terkadang menisbatkan kondisi itu kepada Islam. Mereka tidak siap menerima pandangan sejati Islam menolak maskulinisme serta memberikan kebebasan kepada perempuan dalam batasan-batasan yang dibolehkan. Kedua sikap tersebut pada hakikatnya berada pada dua kutub yang ekstrim. Secara umum, Islam berbeda dengan keduanya karena memperhatikan betul karakter-karakter khusus yang ada pada diri perempuan dan juga menjaga kemaslahatan institusi keluarga. Di samping itu, Islam pun memberikan ruang yang luas bagi kaum perempuan untuk berekspresi sejauh tidak menjatuhkan kehormatan dan harga dirinya sebagai makhluk yang telah dimuliakan oleh Tuhan. Di saat krisis identitas diri melanda kaum perempuan sekarang ini, maka para muslimah sepatutnya kembali menjadikan Islam sebagai way of life, dengan menjadikannya sebagai pedoman dan sumber rujukan nilai, baik bagi kehidupan di dunia ini, terlebih lagi untuk kehidupan di akhirat kelak.  Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam 

Dari Redaksi

sampul edisi 71Kedudukan perempuan dalam Al-Quran dan Islam pada hakikatnya adalah kedudukan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menjelaskan kedudukan perempuan, kita harus mengkaji kedudukan manusia menurut Islam. Secara umum, Islam menganggap bahwa manusia adalah eksistensi yang istimewa dan lebih utama daripada eksistensi-eksistensi materi. Manusia tersusun dari tubuh dan ruh. Manusia adalah eksistensi yang mempunyai tujuan dalam penciptaannya. Tujuan tersebut adalah kesempurnaan jiwa dan kebahagiaan dalam kehidupan, khususnya kebahagiaan ukhrawi. Islam menyebutkan bahwa manusia adalah eksistensi paling utama dan makhluk termulia. Al-Quran mengatakan, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Karena kemuliaan manusia, maka dibebankan kepadanya tanggung jawab-tanggung jawab. Dalam perjalanan kehidupan selanjutnya, manusia sendiri yang kenudian secara perlahan mendistorsi dirinya dari kemuliaan yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Demikian juga yang terjadi pada sebagian kaum perempuan, kerena kecenderungan hewaninya rela mengorbankan kedudukannya yang mulia. Padahal para Nabi as memperingatkan manusia dengan berkata, “Janganlah kamu lupakan dirimu, yaitu diri kemanusiaanmu. Karena jika kamu korbankan diri kemanusiaan demi kecenderungan-kecenderungan hewani, niscaya bahaya yang amat besar akan menimpamu.” Sebab, jika seseorang menganggap kehidupan hewani sebagai tujuan atau sesuatu yang utama, berarti dia telah mencampakkan ruh malakut dan akal kemanusiaannya. Individu semacam ini tidak dapat dihitung sebagai manusia, melainkan hanya hewan yang berwajah manusia. Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 152 pengikut lainnya.