Dari Redaksi

Edisi 73Dalam catatan sejarah Indonesia, pada bulan Mei setidaknya ada dua peristiwa penting yang sepatutnya tidak dilupakan oleh setiap rakyat Indonesia. Peristiwa tersebut adalah Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah peristiwa Mei lainnya yang terjadi kemudian dan tidak kalah pentingnya adalah Reformasi. Gerakan reformasi merupakan momentum yang sangat penting bagi perubahan kehidupan kebangsaan di negeri ini. Betapa tidak, setelah kurang lebih 32 tahun ‘terpenjara’ oleh kepemimpinan orde baru, akhirnya lewat gerakan massa, rakyat bisa menikmati dan menghirup udara keterbukaan dan kebebasan. Sejatinya, perubahan ini mestinya mengantarkan rakyat dan bangsa Indonesia ke arah kemajuan yang begitu berarti dalam mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain. Namun ironisnya, setelah 16 tahun reformasi bergulir, ternyata yang terjadi hanya sebatas euphoria sehingga arah dan substansi perubahan yang diinginkan tidak kunjung tercapai. Karena itu, tidak mengherankan bila yang kita saksikan dari waktu ke waktu adalah kesalahan-kesalahan yang kita kutuk pada masa orde baru tapi kemudian terulang kembali dalam bentuknya yang lebih massif dan semakin parah. Penyebab utamanya karena kita menyerahkan pengelolaan negeri ini kepada orang-orang yang tidak tercerahkan, baik secara intelektual apalagi secara spiritual. Oleh sebab itu, jika kita ingin bangkit dari keterpurukan,  maka dunia pendidikan harus menjadi fokus perhatian untuk membantu menjadikan manusia-manusia Indonesia menjadi tercerahkan. Seorang mukmin yang arif harus berusaha memahami tanda-tanda zamannya, supaya tidak terpedaya oleh berbagai peristiwa, supaya dapat memberikan makna dalam kehidupannya dan yang lebih penting supaya dapat memberikan reaksi yang tepat dalam kurun waktu yang tepat.Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

 

Dari Redaksi

Edisi 72Dalam situasi perkembangan zaman saat ini, serbuan budaya asing (Barat) semakin merebak dalam lingkup masyarakat muslim. Ironisnya, sekelompok intelektual yang menerima kondisi perempuan di Barat terus konsen dengan topik kebebasan dan persamaan hak-hak perempuan dengan laki-laki. Tanpa memperhatikan  karakter penciptaan khusus perempuan  dan keharusan menjaga serta mengokohkan fondasi keluarga, mereka berusaha menarik perempuan Muslim ke arah tersebut, seperti halnya para perempuan di Barat yang terjebak dalam kondisi yang buruk. Sebaliknya, kelompok yang lain menjaga perempuan dalam kondisi yang tradisional dan jumud, yang terkadang menisbatkan kondisi itu kepada Islam. Mereka tidak siap menerima pandangan sejati Islam menolak maskulinisme serta memberikan kebebasan kepada perempuan dalam batasan-batasan yang dibolehkan. Kedua sikap tersebut pada hakikatnya berada pada dua kutub yang ekstrim. Secara umum, Islam berbeda dengan keduanya karena memperhatikan betul karakter-karakter khusus yang ada pada diri perempuan dan juga menjaga kemaslahatan institusi keluarga. Di samping itu, Islam pun memberikan ruang yang luas bagi kaum perempuan untuk berekspresi sejauh tidak menjatuhkan kehormatan dan harga dirinya sebagai makhluk yang telah dimuliakan oleh Tuhan. Di saat krisis identitas diri melanda kaum perempuan sekarang ini, maka para muslimah sepatutnya kembali menjadikan Islam sebagai way of life, dengan menjadikannya sebagai pedoman dan sumber rujukan nilai, baik bagi kehidupan di dunia ini, terlebih lagi untuk kehidupan di akhirat kelak.  Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam 

Dari Redaksi

sampul edisi 71Kedudukan perempuan dalam Al-Quran dan Islam pada hakikatnya adalah kedudukan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menjelaskan kedudukan perempuan, kita harus mengkaji kedudukan manusia menurut Islam. Secara umum, Islam menganggap bahwa manusia adalah eksistensi yang istimewa dan lebih utama daripada eksistensi-eksistensi materi. Manusia tersusun dari tubuh dan ruh. Manusia adalah eksistensi yang mempunyai tujuan dalam penciptaannya. Tujuan tersebut adalah kesempurnaan jiwa dan kebahagiaan dalam kehidupan, khususnya kebahagiaan ukhrawi. Islam menyebutkan bahwa manusia adalah eksistensi paling utama dan makhluk termulia. Al-Quran mengatakan, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Karena kemuliaan manusia, maka dibebankan kepadanya tanggung jawab-tanggung jawab. Dalam perjalanan kehidupan selanjutnya, manusia sendiri yang kenudian secara perlahan mendistorsi dirinya dari kemuliaan yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Demikian juga yang terjadi pada sebagian kaum perempuan, kerena kecenderungan hewaninya rela mengorbankan kedudukannya yang mulia. Padahal para Nabi as memperingatkan manusia dengan berkata, “Janganlah kamu lupakan dirimu, yaitu diri kemanusiaanmu. Karena jika kamu korbankan diri kemanusiaan demi kecenderungan-kecenderungan hewani, niscaya bahaya yang amat besar akan menimpamu.” Sebab, jika seseorang menganggap kehidupan hewani sebagai tujuan atau sesuatu yang utama, berarti dia telah mencampakkan ruh malakut dan akal kemanusiaannya. Individu semacam ini tidak dapat dihitung sebagai manusia, melainkan hanya hewan yang berwajah manusia. Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam 

Dari Redaksi

Dari Redaksi Edisi 70

Dari Redaksi Edisi 70

Salah satu bentuk manifestasi penghambaan manusia kepada Tuhan, adalah dengan melaksanakan segala hukum dan ketentuan dari-Nya. Karena dengan cara itulah manusia bisa sampai pada kesempurnaan. Karena sejatinya, sebagai makhluk ciptaan memang sepatutnya kita mengungkapkan rasa terima kasih kita kepada pemberi keberadaan lewat jalan menghamba kepada-Nya. Salah satu bentuk ubudiyyah kepada Tuhan ialah dengan mengikuti serta menaati Rasulullah SAW sebagai utusan-Nya. Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa : 80, “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.” Lantas, bagaimana hakikat sesungguhnya dari penghambaan itu? Imam Ja’far Shadiq suatu ketika menjelaskan kepada salah seorang muridnya bernama Unwan al-Bashri yang menanyakan hal tersebut. Menurut beliau, hakikat penghambaan itu paling tidak meliputi tiga hal: Pertama, seorang hamba tidak boleh mengaku sebagai pemilik sesuatu yang diberikan Allah kepadanya. Ia mesti menganggap bahwa segala sesuatu itu milik Allah dan oleh karenanya mesti dimanfaatkan di jalan Allah. Kedua, mengakui kelemahan dirinya dalam mengatur segala urusan. Ketiga, menyibukkan diri dengan melaksanakan segenap perintah Allah. Dari penjelasan itu, kita bisa evaluasi dan introspeksi diri, apakah selama ini kita sudah betul-betul jadi hamba Tuhan, ataukah masih dengan angkuhnya merasa memiliki sesuatu sehingga kita menjadi makhluk yang diperbudak oleh setan dan hawa nafsu kita sendiri. Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

Dari Redaksi

mitsal

mitsal

Keberadaan seorang sosok agung yang hadir ke bumi untuk membimbing umat manusia dalam meraih kesempurnaan, adalah merupakan anugerah dan nikmat dari Tuhan yang sangat besar. Oleh sebab itu, sebagai orang yang bertekad mengikuti beliau, maka mestilah kita berusaha mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari kehadirannya dan tidak menyia-nyiakannya. Karena Rasulullah senantiasa memandang seluruh gerak-gerik dan perbuatan kita. Dalam surah At-Taubah Allah SWT berfirman, “Katakanlah: Beramallah kalian. Maka Allah akan melihat kamu, juga Rasulullah dan orang-orang beriman.” Jadi, selain Allah SWT, junjungan kita juga mengawasi apa yang kita lakukan. Imam Ja’far Shadiq berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Janganlah kalian membuat Rasulullah SAW berduka cita.” Seorang di antara mereka bertanya: “Biarkan aku menjadi tebusanmu, apa yang dimaksud membuat duka Rasulullah?” Ia menjawab: “Tidakkah kalian sadari bahwa amal-amal kalian diperlihatkan kepadanya. Jika beliau melihat kemaksiatan kamu beliau berduka cita. Jangan dukakan hati Rasulullah SAW. Gembirakan dia.” Boleh jadi sekarang ini, beliau menyaksikan dengan sedih perpecahan yang terjadi di kalangan umatnya, kemiskinan dan kemalangan yang terus menerus menimpa para pengkutnya, dan berbagai musibah yang beruntun yang menimpa kaum muslimin di berbagai negeri. Beliau tentu juga menyaksikan kemalasan kita dalam beribadat, tidur kita yang panjang serta keasyikan kita dalam permainan  dunia. Semoga kita semua tidak lagi menambah kesedihan bagi manusia suci pilihan Tuhan ini pada hari-hari mendatang, tapi berusaha untuk senantiasa gembirakan dan bahagiakan hati beliau. Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 145 pengikut lainnya.