jump to navigation

Dari Redaksi 15 Februari 2014

Posted by buletinmitsal in Tim Redaksi.
Tags:
add a comment
mitsal

mitsal

Keberadaan seorang sosok agung yang hadir ke bumi untuk membimbing umat manusia dalam meraih kesempurnaan, adalah merupakan anugerah dan nikmat dari Tuhan yang sangat besar. Oleh sebab itu, sebagai orang yang bertekad mengikuti beliau, maka mestilah kita berusaha mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari kehadirannya dan tidak menyia-nyiakannya. Karena Rasulullah senantiasa memandang seluruh gerak-gerik dan perbuatan kita. Dalam surah At-Taubah Allah SWT berfirman, “Katakanlah: Beramallah kalian. Maka Allah akan melihat kamu, juga Rasulullah dan orang-orang beriman.” Jadi, selain Allah SWT, junjungan kita juga mengawasi apa yang kita lakukan. Imam Ja’far Shadiq berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Janganlah kalian membuat Rasulullah SAW berduka cita.” Seorang di antara mereka bertanya: “Biarkan aku menjadi tebusanmu, apa yang dimaksud membuat duka Rasulullah?” Ia menjawab: “Tidakkah kalian sadari bahwa amal-amal kalian diperlihatkan kepadanya. Jika beliau melihat kemaksiatan kamu beliau berduka cita. Jangan dukakan hati Rasulullah SAW. Gembirakan dia.” Boleh jadi sekarang ini, beliau menyaksikan dengan sedih perpecahan yang terjadi di kalangan umatnya, kemiskinan dan kemalangan yang terus menerus menimpa para pengkutnya, dan berbagai musibah yang beruntun yang menimpa kaum muslimin di berbagai negeri. Beliau tentu juga menyaksikan kemalasan kita dalam beribadat, tidur kita yang panjang serta keasyikan kita dalam permainan  dunia. Semoga kita semua tidak lagi menambah kesedihan bagi manusia suci pilihan Tuhan ini pada hari-hari mendatang, tapi berusaha untuk senantiasa gembirakan dan bahagiakan hati beliau. Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

Dari Redaksi 24 Januari 2014

Posted by buletinmitsal in Tim Redaksi.
Tags:
add a comment

Mitsal Edisi 68Dalam sebuah Hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Di atas setiap orang yang berbuat baik itu terdapat orang yang baik hingga orang itu terbunuh (syahid) di jalan Allah. Maka, jika dia telah terbunuh (syahid) di jalan Allah, tidak ada lagi kebaikan di atasnya.” Dari ungkapan tersebut, bisa dikatakan bahwa Baginda Rasulullah telah memberikan pemahaman kepada kita tentang arti syahadah atau kesyahidan, yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam pandangan Islam. Oleh karena itulah, para nabi, rasul dan wali-wali Allah, senantiasa merindukan kesyahidan. Pada akhir kalimat dalam surat Imam Ali kepada Malik al-Asytar (Panglima Perangnya), ia berkata, “Aku memohon kepada Allah agar Dia menutup usia saya dan usia Anda dengan kebahagiaan dan syahadah, dan kita akan kembali kepada-Nya.” Saat itu, Imam Ali sebagai pemimpin tertinggi sementara Malik al-Asytar adalah panglima pasukan yang diutus ke Mesir. Dalam surat itu, Imam Ali Kw memberikan nasehat untuk Malik yang diakhiri dengan ajakan untuk meraih syahadah. Jadi, kebahagiaan yang dimaksud adalah syahadah. Sehingga, tiadanya kesedihan sedikit pun dalam menghidupkan agama hingga mencapai syahadah adalah kepribadian Malik Asytar dan paham Ali bin Abi Thalib. Kita tentu masih ingat peristiwa di malam hijrah, saat Rasulullah SAW meminta Sayyidina Ali menggantikannya di tempat pembaringan. Dengan senang hati Imam Ali memenuhi perintah tersebut tanpa ada sedikit pun rasa kuatir, gentar apalagi takut.  Mengapa? Karena dengan begitu, ia dapat mempersembahkan jiwanya demi kelangsungan nilai-nilai Ilahiah dalam ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Semoga kita mampu mendidik diri kita dalam meneladani para kekasih-kekasih Allah tersebut.  Wallahu a’lam bisshawab.

Wassalam…

Dari Redaksi 24 Januari 2014

Posted by buletinmitsal in Tim Redaksi.
Tags:
add a comment

mitsal Edisi 67Bila Muharram tiba, selaku Muslim yang mencoba memahami sejarah secara utuh, ingatan kita segera tertuju pada sebuah peristiwa tragis sepanjang kehidupan di alam semesta ini, itulah Asyura atau Tragedi Karbala. Tragedi Asyura tentu tidak hanya untuk diratapi, namun juga untuk diresapi. Tragedi terbesar dalam sejarah umat Islam dan kemanusiaan itu tidak semestinya diperlakukan  hanya sebagai sebuah fakta historis semata yang melulu menjadi tema diskusi klasik dan objek ratapan semata. Al-Husain menyambut syahadah itu  dengan kerelaan, sebagaimana ungkapannya, “Jika kematianku adalah tumbal dan syarat bagi tegaknya agama Muhammad, maka, hai pedang-pedang ambillah tubuhku!” Yang lebih perlu untuk diratapi adalah kebenaran dan keadilan yang menjadi tujuan pengorbanan dan prinsip Al-Husain, “Tidakkah kalian lihat kebenaran telah diabaikan dan kepalsuan tidak lagi dicegah!” begitu pekik Al-Husain mejelang perlawanan kolosalnya terhadap kurcaci-kurcaci kebiadaban. Akhir-akhir ini, di berbagai tempat, oleh sekelompok orang atas nama agama, berupaya semaksimal mungkin untuk memadamkan syiar keluarga Nabi SAW, syiar Asyura dan Karbala. Seolah ingin melanjutkan usaha sistematis yang bermaksud mendelegitimasi kedudukan keluarga Nabi serta menghilangkan peran penting mereka dalam panggung sejarah Islam. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tapi Allah SWT akan senantiasa memancarkan cahaya-Nya, walaupun orang kafir dan munafik  tidak menyukainya. Dan tragedi Karbala tidak boleh ditinggalkan apalagi dilupakan, melainkan harus selalu dikabarkan dan diberitakan agar umat Islam mampu memahami sejarah secara baik dan benar. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Wassalam     

Dari Redaksi 13 Desember 2013

Posted by buletinmitsal in Tim Redaksi.
Tags:
add a comment
Buletin Mitsal

Buletin Mitsal

Dalam Al-Quran surah At-Tin ayat 4-5, Allah SWT berfirman, “Sungguh, telah Kami ciptakan manusia dalam susunan yang paling baik. Kemudian, Kami mengembalikan  mereka pada yang paling rendah dari yang rendah.” Ketika menafsirkan ayat tersebut. Seyyed Hossein Nasr menulis, “Manusia diciptakan dalam susunan yang terbaik, tetapi kemudian ia jatuh  pada kondisi bumi berupa perpisahan  dan keterjauhan dari asal usulnya yang ilahiah.” Ibadah haji sesungguhnya merupakan simbol dari prosesi perjalanan manusia untuk kembali kepada fitrah kemanusiaannya, kembali kepada kesempurnaan dirinya. Karena selama ini, kehidupan telah melemparkan kita dari kemanusiaan kita. Kita telah jatuh menjadi makhluk yang lebih rendah. Bukannya menjadi khalifah Allah, malahan kita justru telah menjadi binatang dalam wujud manusia. Namun begitu, di saat tertentu, kita selalu merindukan untuk kembali kepada hakikat diri kita. Para jamaah haji adalah serombongan kafilah yang ingin kembali menjadi manusia, menggapai kesempurnaan sejatinya. Dalam ungkapan Jalaluddin Rumi, kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Ketika suara keluar, yang terdengar adalah  jeritan pilu, dari pecahan bambu yang ingin kembali ke rumpunnya semula. Kita hanya akan hidup sebagai bambu sejati bila kita kembali ke tempat awal kita. Kita hanya akan menjadi manusia lagi bila kita kembali kepada Allah. “Sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita kembali.” (QS. Al-Baqarah : 156) Negeri kita saat ini, butuh kehadiran haji yang mabrur yaitu para haji yang sejati yang dapat menyebarkan berkah ke sekitarnya serta mengubah dimensi kebinatangan kepada fitrah kemanusiaan yang hakiki. Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

Dari Redaksi 30 Oktober 2013

Posted by buletinmitsal in Tim Redaksi.
Tags:
add a comment

Edisi 65Sebagian ulama akhlak menyebutkan bahwa syarat pertama dalam melawan nafs  dan berjalan menuju al-Haq adalah tafakkur. Dalam nash Al-Quran dan hadis banyak kita temukan tentang hal ini. Sebagai contoh di dalam surah Al-Baqarah disebutkan, “Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian berpikir.” Sementara di dalam hadis Imam Ali Kw pernah bersabda, “Bertafakkur mengantarkan  pada kebaikan dan pengamalannya.” Mengapa tafakkur ini begitu penting? Karena dengan tafakkur, seseorang bisa meraih tingkat ibadah yang lebih tinggi dan berkualitas. Itulah sebabnya dalam teks yang lain dikatakan, “Bertafakkur sesaat adalah lebih baik daripada ibadah setahun.” Lantas bagaimana cara dalam melakukan tafakkur dengan cara yang benar dan membuahkan hasil? Tahap awal, apabila seseorang ingin bertafakkur, ia harus memiliki modal pengetahuan yang menjadi sandaran  dalam tafakkurnya. Setelah seseorang mendapatkan pengetahuan, maka ia sudah dapat memulai proses berpikir. Sebagai contoh pengetahuan tentang ma’ad atau akhirat. Mulanya kita bisa bertanya pada diri sendiri, manakah yang lebih kekal eksistensinya, akhirat atau dunia? Tanpa berpikir rumit, kita bisa mengetahui bahwa akhirat adalah lebih kekal dan lebih abadi. Selanjutnya pertanyaan yang lain, antara sesuatu yang lebih kekal dengan yang lainnya, manakah yang akan ia pilih dan dahulukan? Dari kedua pertanyaan itu, kita bisa menarik kesimpulan bahwa “akhirat itu kekal” dan “yang kekal lebih pantas untuk dipilih dan diutamakan,” seperti inilah yang dipahami akal manusia. Karena itu, sekiranya manusia senantiasa melakukan tafakkur, maka tentu tidak akan mudah seseorang melakukan dosa dan kemaksiatan serta pembangkangan terhadap hukum-hukum Ilahi.   Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam     

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.