ABUL – FADHL ABBAS

(Pribadi Cemerlang Pemuda Bani Hasyim)

Abul-Fadhl Abbas adalah pemuda Bani Hasyim yang paling unggul. Dialah pemegang panji-panji pasukan Imam Husain. Dialah lambang kesetiaan dan namanya akan senantiasa dikenang, dihargai dan dihormati untuk selamanya. Ibu Abbas adalah Ummul Banin, berasal dari suku yang terkenal kegigihan dan keberaniannya.

Ummul Banin menikah dengan Imam Ali dan dikarunia empat orang putra. Putra pertamanya adalah Abbas. Pada hari asyura, putra-putra Ummul Banin mempertaruhkan hidup mereka dengan cara terhormat dan mulia sehingga sampai detik hari ini pun darah mereka yang tertumpah di padang karbala memunculkan generasi-generasi pejuang islam. Nama mereka terukir indah di sepanjang sejarah Islam.

Abbas dalam bahasa arab berarti singa. Dialah singa yang membuat siapa pun terpesona. Sesuai dengan namanya, segala perilaku Abbas mengagumkan. Roman muka Abbas sangat rupawan. Tubuhnya tinggi semampai. Abbas juga memiliki kekuatan yang tak tertandingi dan spiritualitas yang tinggi. Dibandingkan pemuda Bani Hasyim lainnya, Abbas paling menonjol dan unggul. Dia tak tertandingi kecuali oleh Imam Husain.

Imam Ja’far Shadiq berkata, “Pamanku, Abbas, adalah lelaki yang berhati bersih dan memiliki keimanan kuat. Dia berjihad di jalan Allah bersama Abu Abdillah (Imam Husain) dan melewati ujian ilahi dengan keberhasilan yang utuh.”

Imam Ali Zainal Abidin berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada pamanku, Abbas, yang telah mengorbankan hidupnya demi saudaranya dengan kedua tangannya yang tertebas. Allah yang mahakuasa menganugerahkan kepadanya sepasang sayap yang memudahkannya terbang menuju surga bersama para malaikat sebagaimana Allah telah menganugerahkan hal yang sama kepada Ja’far bin Abi Thalib.”

Disebutkan bahwa pada hari Pembalasan nanti, majelis para syuhada seolah ingin bersaing agar bisa menyamai seperti Abbas. Abbas mendapatkan kehormatan karena dididik, dirawat dan dilatih oleh tiga orang imam suci, yaitu ayahnya yang mulia, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, kedua saudaranya yang mulia, Imam Hasan dan Imam Husain. Rona wajah Abbas bercahaya bak bulan purnama dan keelokannya tiada tara. Karena segala kebaikan dan keelokan yang dimilikinya itulah Abbas diberi gelar “Rembulan Hasyimi.”

Saat terjadinya peristiwa Karbala, usia Abbas menginjak tiga puluh empat tahun. Sesuai kesepakatan para sejarahwan dengan merujuk pada riwayat dan bukti sejarah, Abbas adalah pemuda yang paling berpengaruh di Karbala. Karena itulah, dia menjadi benteng terakhir Imam Husain.

Abbas adalah pemegang panji-panji perang rombongan Imam Husain. Ketika tak ada lagi pemuda yang tersisa disamping Imam Husain kecuali dirinya, Abbas meminta izin kepada Imam Husain untuk berjihad melawan pasukan biadab Yazid. Namun Imam Husain bukannya mengizinkan Abbas untuk maju perang, melainkan meminta Abbas mencari air untuk kaum wanita dan anak-anak, putra-putri Rasulullah SAW yang nyaris mati dicekik dahaga.

Abbas adalah pemilik keahlian berperang yang hanya bisa dibandingkan dengan keahlian perang Imam Ali. Untuk mengurangi derita kehausan putrid-putri Rasulullah SAW, Abbas menerobos ribuan pasukan Yazid yang memagari Sungai Efrat bak singa mengamuk.

Sementara itu, pasukan Yazid Laknatullah yang membentengi sungai Efrat terdiri dari pasukan pemanah, pasukan tombak dan pasukan pedang. Meski mengetahui hal itu, semangat Abbas untuk mengambil air sungai Efrat demi adik-adik dan keponakannya yang kehausan berhari-hari tak surut. Abbas menerjang barisan itu dengan serangan maut dan menyungkurkan setiap orang yang menghadangnya.

Terbukalah jalan untuk mengambil air di sungai efrat. Abbas berhasil membunuh sekitar delapan puluh tentara musuh. Setelah berhasil mendekati bibir sungai, Abbas pun membawa kudanya untuk meminum air di Sungai Efrat. Kemudian Abbas mengisi penuh girbah yang dibawanya. Seketika itu terbayang di benak Abbas, Imam Husain dan wanita-wanita serta anak-anak di perkemahan yang ditinggalkannya.

Harapannya hanyalah segera kembali ke tenda, mempersembahkan air kepada ahlulbait Nabi Muhammad SAW. Dengan sisa tenaga, dia berusaha mencapai perkemahan Imam Husain. Dahaga imam Husain dan keringnya rongga leher anak-anak dan wanita-wanita Rasulullah SAW terus membayangi pikiran Abbas. Efrat berkilauan di bawah terik matahari, bak permata sinarnya menari-nari. Dia urungkan niatnya untuk meneguk air efrat meski hanya setetes. Setangkup air di tangannya dilepaskan kembali seraya berkata, “Bagaimana mungkin seorang budak akan meminum air sementara tuannya sedang dicekik dahaga? Adakah teladan yang lebih baik bagi kesetiaan, ketakwaan dan kemanusiaan ?” Abbas segera melesat membawa girbah berisi air di lengannya.

Sambil tertawa terbahak-bahak, pasukan biadab itu menghadang Abbas yang hendak menuju perkemahan Imam Husain. Yazid Laknatullah segera membentuk formasi, mengepung jawara yang kehausan itu. Para binatang buas berkepala manusia itu semakin merapat. Kini tiada cela bagi Abbas untuk menghentak kudanya, kecuali menerobos berhala-berhala yang tak pernah jera itu.

Tiba-tiba sebuah tombak meluncur bak meteor mengarah ke dada Abbas. Secepat kilat Abbas menangkalnya, dan tombak itu pun gagal mencapai sasarannya. Tata karma perang tak lagi diindahkan.

Jiwa-jiwa kerdil itu seperti kawanan serigala lapar yang memamerkan taring-taringnya dan menjulur-julurkan lidahnya seperti anjing hutan mereka menggongong mengerumuni buruannya. Rupanya padang sahara itu telah berubah menjadi rimba dan para durjana liar itu menjadi satwa buas lagi mematikan.

Namun mereka lupa, bahwa buruannya bukanlah kelinci, mereka lupa bahwa dia yang dikepung itu adalah putra singa Allah, Ali bin Abi Thalib, seolah mereka hilang ingatan bahwa yang sedang diburu itu adalah kemenakan singa Allah, Ja’far bin Abu Thalib. Karena telah lama berpaling dari Islam, mereka baru sadar bahwa yang mereka kerumuni adalah cucu singa Allah, pelapang jalan dakwah Muhammad SAW, Abu Thalib, sekali lagi, mereka lupa dia berasal dari keluarga jawara.

Formasi pertama pasukan musuh satu per satu mengerang meregang nyawa. Hal yang sama juga dialami barisan berikutnya, ada yang merekah dahinya, seperti semangka dibelah. Ada yang roboh perlahan seperti pohon pisang ditebas golok. Beberapa yang tertebas sekaligus dan terjungkal bergulingan darah diatas pasir secara berjamaah seperti reruntuhan batu gunung.

Sebuah suara mengomando agar mengubah formasi serangan mereka. Komandan biadab pemuja harta itu mulai sadar bahwa menyerang Abbas dari arah depan sama sekali tak ada gunanya. Kini mereka mengitari Abbas. Pasukan dari arah depan, samping kanan dan saming kiri mulai menyerang secara bersamaan. Tiba-tiba sebuah pedang digenggaman anjing hutan berkepala manusia menebas lengan kanan Abbas.

Kini putra Sang singa sahara itu buntung tangan kanannya. Abbas menjerit kesakitan. Otot-otot lengannya menyemburkan darah segar. “Demi Allah, sekalipun tangan kananku telah hilang, akan terus ku terjang setiap penghadang. Aku sanggahkan jiwaku demi tegaknya agama, “Abbas berseru lantang menatap tajam setiap kepala yang tampak beringas di hadapannya. Kini dia hanya punya satu tangan yang menggendong girbah (kantong air minum).

Seorang biadab tiba-tiba menyeruak dari barisannya dan mendekati pemuda Bani Hasyim yang telah kehilangan separuh ketangkasannya itu. Sekejap mata sebilah pedang yang digenggam si biadab itu menebas lengan kiri Abbas, saksikanlah, ghirbah yang berisi penuh air untuk dipersembahkan kepada putri-putri dan bocah-bocah Ahlulbait itu jatuh ke tanah bersama tangannya.

“Oh dunia, mengapa harus tunduk kepada para biadab kafir itu! Bukankah kabar gembira telah kudengar bahwa rahmat Allah sedang menyongsongku ! para biadab itu telah membuntungkan kedua lenganku, Aduhai Alla Tuhanku, jadikanlah para biadab itu merasakan api neraka, “Abbas mendengdangkan syair ukhrawi.

Sebuah anak panah melesat tepat menembuh ghirbah yang tergeletak di sebelah lengan Abbas yang terpisah dari bahuya. Air itu merembes diserap habis pasir panas Karbala. Abbas yang tersungkur dari kudanya menyaksikan tetes demi tetes air membasahi pasir yang sedianya diperuntukkan bagi adik-adik perempuan dan keponakannya itu. Hatinya luluh lantak, kini dia tak ingin kembali ke kemah Imam Husain.

Seorang tentara laknat tiba-tiba menumbukkan tongkatnya tepat di dahi Abbas. Abbas yang dibuntungkan lengannya itu. Saat itulah Abbas tak sadarkan diri. Sebuah anak panah melesat tanpa permisi menembus jantungnya Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Adakah takaran yang mampu mengukur kegigihan, ketegaran, keberanian dan kesetiaan pemuda ini ?

Abbas telah menyongsong syahadah, dikepung ribuan satwa liar. Imam Husain menghampiri jasad terkoyak itu. Imam Husain duduk di samping jasad Abbas tanpa bisa berkata-kata sejenak. Serasa sembilu menggesek-gesek sanubarinya. Sambil menyanggah dahi dengan tanggannya, Imam Husain berkata, “Duhai saudaraku, kesedihanmu telah mematahkan punggungku. Kini aku juga harus berlepas tangan dari dunia ini. Setelah kepergianmu, tibalah saatnya musuh-musuh akan menyerang kami. “ air mata beliau menitik. Sekali lagi, peristiwa ini bukan pertempuran. Tapi, pembantaian.

Sebuah syair Arab melukiskan kisah ini dengan syahdu,

Adakah pemuda yang layak engkau tangisi!

Siapakah gerangan, selain dia yang ditangisi sang Imam

Dialah Saudara Husain dan Putra Ali

Dialah Abul-Fadhl Abbas berlumur darahnya sendiri.

——————————-

ALI ZAINAL ABIDIN BIN HUSAIN

(Pemuda Karbala Pemilik Kesabaran dan Ketabahan Tertinggi)

Semasa hidup Imam ke empat, Imam Ali bin Husain atau Imam Ali Zainal Abidin, lembaran sejarah islam penuh dengan peristiwa kelam, kelabu dan noda moral kemanusiaan, pasca tragedy karbala yang menyayat, mengiris dan mencabik-cabik hati, dunia Islam dikuasai dan diperintah oleh Yazid bin Muawiyah selama lebih tiga tahun. Setelah yazid, tampuk kekuasaan juga jatuh ke tangan orang-orang zalim dan tak kalah keji, yaitu Marwan, seluruh keluarga Rasulullah SAW dan Imam Ali Zainal Abidin menyaksikan peristiwa tragis dan memilukan ini berlangsung.

Imam Ali Zainal Abidin  adalah satu-satunya pemuda Ahlulbait yang selamat dari tragedi Karbala. Tatkala tragedi Karbala terjadi, Imam Ali Zainal Abidin sedang sakit keras. Waktu itu usia beliau baru dua puluh tahun. Sakit keras Imam Ali Zainal Abidin telah menyelamatkan beliau dari pembunuhan di padang Karbala oleh musuh-musuh laknat. Dari Imam Ali bin Husain atau Imam Ali Zainal Abidin garis keturunan Rasulullah SAW berlanjut.

Ahmad bin Hanbal berkata, “Penyebab sakitnya Ali bin Husain adalah karena pada suatu hari, beliau mengenakan sebuah baju besi. Tapi baju besi itu ternyata terlalu besar untuk ukuran beliau. Maka beliau pun membengkelinya sendiri untuk menyesuaikannya dengan ukuran tubuh beliau.”

Imam Ali Zainal Abidin adalah pemuda pemilik kesabaran dan ketabahan tiada tara. Di Karbala, Imam Ali Zainal Abidin menderita rasa haus selama tiga hari. Selain itu, beliau juga harus menanggung derita akibat sakit yang dialami beliau. Suhu tubuhya panas yang menyebabkannya lemah tak berdaya. Beban yang beliau tanggung teramat berat. Beliau harus menyaksikan pembantaian yang mengerikan atas ayah beliau, adik-adik, sanak saudara dan sahabat-sahabat beliau. Beliau menyaksikan pula tepat di hadapan beliau, perkemahan beliau diporak-porandakan dan dibakar tanpa sisa. Andaikan orang lain yang mengalaminya, satu saja dari rangkaian musibah tragedy mengerikan ini pasti sudah luluh-lantak hati dan jiwanya. Tapi beliau adalah Imam Ali Zainal Abidin bin Hasan. Segala tragedi dan petaka yang dialami beliau tak mampu menggoyahkan dan menghancurkan keimanan beliau. Beliaulah Imam yang penuh kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi tragedi paling mengerikan sepanjang sejarah umat manusia, sejarah Islam khususnya.

Hanya keteguhan, tekad bulat, kesabaran dan ketabahan Imam Ali Zainal Abidin yang membuat beliau mampu bertahan dan menanggung beban derita dengan kehendak Allah SWT. Bayangkan, ketabahan dan kesabarannya ketika Imam Ali Zainal Abidin digiring bersama anak-anak dan wanita-wanita Rasulullah SAW sebagai tawanan perang. Saat itu, sepanjang jalan dari Karbala hingga Syiria, bersama kaum wanita dan anak-anak Rasulullah SAW, beliau digiring berjalan kaki laksana kawanan domba. Sepanjang jalan itu pula Ahlulbait Nabi Muhammad dipaksa menonton kepala-kepala syuhada di ujung tombak.

Rombongan Ahlulbait itu memasuki singgasana Ubaidillah bin Ziyad, setelah sebelumnya kepala-kepala para syuhada Karbala diarak secara berurutan bersama mereka. Tawanan yang diarak itu terbelenggu rantai tangan kakinya.

Ubaidillah bin Ziyad terheran-heran menyaksikan putra Rasulullah SAW ada yang selamat. Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, Ubaidillah bin Ziyad bertanya, “Siapa kau?”

Imam Ali Zainal Abidin menjawab, “Aku adalah Ali bin Husain.”

Ubaidillah bin Ziyad bertanya lagi, “Bukankah Allah telah membunuh Ali bin Husain?”

Imam Ali Zainal Abidin menjawab, “Yang mereka bunuh adalah adikku. Dia juga bernama Ali.”

Ubaidillah bin Ziyad bersikeras, berusaha memanfaatkan kebodohan umat yang menyaksikan keluarga suci yang diyatimkan itu, dia berkata, “Tidak. Bukankah Allah yang membunuhnya.”

Imam Ali  menyadari bahwa Ubaidillah bin Ziyad, gubernur Kufah yang tak tahu malu itu mencoba untuk mengelabui umat bahwa kemenangan yang telah dicapainya adalah kehendak Allah. Imam Ali Zainal Abidin menyebutkan sebuah ayat Al Quran,

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya.

Kemudian beliau berseru menjelaskan, “Hai lelaki yang tak pernah mengerti Al Quran! Allah mematikan seseorang ketika tiba saat kematiannya!”

“Beraninya Anda mengajarku dengan jawaban seperti itu!” Bentak Ubaidillah bin Ziyad. “Rasakan akibatnya. Kalimat itu akan menjadi kalimat yang terakhir terujur olehmu. Seret dan penggal dia!” Tambah Ubaidillah sambil berkacak pinggang.

Serta merta Zainab, bibi Imam Ali Zainal Abidin, memeluk beliau dan bersuara lantang, “Hai Ibnu Ziyad! Belum puaskah engkau mengalirkan darah kami! Demi Tuhan, aku tidak akan melepaskannya. Jika engkau hendak membunuhnya,  maka bunuh aku bersamanya!”

Ubaidilah bin Ziyad melirik Zainab sejenak. Kemudian matanya yang liar melotot persis di muka Imam Ali Zainal Abidin dan berkata, “Persaudaraan luara biasa! Rupanya dia menginginkan untuk membunuh mereka secara bersama. Baiklah, tanpa harus kubunuh bukankah lelaki ini akan mati segera.”

Atas perintah Ubaidillah bin Ziyad, Imam Ali Zainal Abidin dan putri-putri Rasulullah SAW diarak dari kufah menuju Syiria. Rantai-rantai yang membelenggu bergemerincing menumbuk kaki-kaki yang berjalan lunglai itu. Sungguh laknat orang-orang yang memperlakukan pusaka Rasulullah SAW dengan cara biadab!

Perjalanan menuju Syiria penuh dengan cobaan dan penderitaan. Orang yang berhati paling keras sekalipun pasti menangis mendengar putra-putri Rasulullah SAW diarak sebaga tawanan. Apa dosa mereka ? bukankah putra Rasulullah SAW adalah manusia suci dan putrid-putri beliau adalah pembela agama Rasulullah SAW? Semoga Allah melaknat orang-orang yang menganiaya mereka !

Perjalanan menuju Syiria sangat panjang dan melelahkan. Para penjaga tawanan yang keji dan laknat itu mengarak putra-putri Rasulullah SAW tanpa belas kasih dari Irak ke Syiria. Putra-putri Rasulullah SAW itu harus melewati kota demi kota, mulai Kufah, Dondril, Asqalan, Nasibeen, Haman, Hamas, Aleppo hingga Damaskus. Mereka dipaksa berjalan kaki selama dua puluh dua hari.

Setibanya di Damaskus, mereka memasuki singgasana Yazid bin Muawiyah Laknatullah. Jika manusia biasa berjalan kaki dari Irak ke Syiria, pasti dia sudah binasa. Allah melimpahkan rahmat dan kasih-Nya kepada keluarga Rasulullah SAW sehingga mereka mampu bertahan dan selamat.

Kala itu, jalan-jalan Damaskus semarak berhiaskan atribut-atribut pesta. Seolah pertanyaan besar sedang berlangsung. Tatkala rombongan putra-putri Rasulullah SAW melintasi lorong-lorong Damaskus, khalayak ramai yang tidak tahu apa-apa menari-nari dan bersorak-sorai menyambut datangnya tawanan yang mereka anggap para pembangkang. Mereka bertepuk tangan dan mengolok-olok keluarga suci itu. Mereka pun melempari kepala-kepala para syuhada yang diarak di ujung-ujung tombak sebagai tanda kemenangan Yazid. Kala itu, penduduk Syiria menganggap kematian para syuhada keluarga Rasulullah SAW dan tawanan yang diarak adalah kemenangan yang layak untuk dirayakan.

Selama diarak sebagai tawanan, Imam Ali Zainal Abidin tetap berusaha meredakan duka hati kaum wanita dan anak-anak yang terkoyak tragedi Karbala. Imam Ali Zainal Abidin menghibur mereka sehingga kesabaran dan tawakkal menaungi keluarga Nabi Muhammad SAW. Tiada yang dapat menandingi kesabaran dan ketabahan hati keluarga Rasulullah SAW kala itu dan seterusnya.

Debu-debu sahara, sebutir demi sebutir menyumbat setiap pori mereka dan menghinggapi rambut mereka. Wajah bocah-bocah itu kusam. Tubuh mereka lemah. Beginilah cara para biadab itu membalas budi kepada Muhammad SAW.

Disinggasana ilegalnya, Yazid duduk dengan pongah. Para bangsawan dan kaum elit kerajaan mengenakan busana kebesaran duduk di hadapan Yazid. Di ruang itulah keluarga Rasulullah SAW yang digembelkan hendak dipermalukan. Duka dan derita tak kunjung usai menghinggapi mereka, seolah mereka menjadi manusia paling hina, seolah menjadi keluarga Rasulullah SAW adalah aib. Betapa kemanusiaan sudah tidak berarti apa-apa kala itu. Tiada sesal apalagi merasa berdosa memperlakukan keluarga Nabi Muhammad yang suci dengan biadab.

Di hadapan para pembesar kerajaan, mata Yazid menyisir satu persatu wajah-wajah kusam berdebu itu. Setelah bersendawa panjang, penjahat cucu Abu Sufyan itu bertanya, “Siapa namamu ? “

“Ali bin Husain” jawab putra Rasul dengan memandang tajam mata penjahat yang sedang duduk di singgasananya itu.

Yazid mengangguk-angguk sambil mengelus jenggot. “hmm! Husain memberi nama Ali kepada semua anaknya,” celotehnya.

Imam Ali Zainal Abidin memotong celotehan pemabuk di hadapannya, “Ya, karena ayahku sangat menghormati ayah beliau yang mulia, karenanya beliau menamakan semua putra beliau “Ali”

Bersyukurlah kepada Allah bahwa ayahmu telah terbunuh,”seloroh Yazid sambil meringis bengis.

“Laknat Allah atas orang yang membunuh ayahku,” sergah Imam Ali Zainal Abidin.

Yazid sekonyong-konyong berdiri sambil menjulurkan telunjuknya, “Hai anak muda! Ayahmu berhasrat mendapatkan kerajaan, tapi Allah tak mengizinkannya. Maka mereka pun terbantai “

Imam Ali Zainal Abidin menyergahnya, “Kenabian dan kepemimpinan selalu menjadi milik keluarga kami. Tapi kamu merampasnya.”

Ayahmu tak menghendaki aku untuk menjadi penguasa umat Islam. Dia tidak menganggapku layak memegang jabatan kepemimpinan. Karena itulah, dia menentangku. Karena Allah melihat semua ini, Dia menjadi marah kepadanya,” Yazid berusaha membela diri.

“Tuhan Yang Maha Pengasih berfirman dalam kitab-Nya,

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) kepada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS.al-Hadid(57):22).

Hai Yazid ! aku tak bersedih atas apa yang telah Allah ambil dariku. Aku bersyukur kepada-Nya atas segala anugerah yang Dia limpahkan kepadaku,”jawab lantang Imam Ali Zainal Abidin.

Mendengar kata-kata hikmah Imam Ali Zainal Abidin, Yazid marah bukan kepalang. Yazid lantas memerintahkan agar Imam Ali Zainal Abidin dihukum mati.

Imam Ali Berkata, “Hai Yazid! Jangan mengancamku dnegan kematian! Jika kau membunuhku, siapa yang akan membawa putri-putri Rasulullah SAW kembali ke kota mereka! Selain aku, mereka tak lagi memiliki lelaki yang muhrim. Hai Yazid! Andaikan saat ini Rasulullah datang kemari dan melihat kami ditawan dengan menunggang unta tanpa pelana, pembelaan apakah yang akan kauberikan?”

Mendengar penuturan Imam Ali Zainal Abidin dan melihat tubuh beliau yang kurus dan lemah, semua pembesar kerajaan yang ada diruangan itu menangis, seketika itu Yazid menyadari bahwa perasaan para pembesar kerajaan telah berubah dan menaruh simpati kepada Imam Ali Zainal Abidin, dengan terpaksa, Yazid melepaskan rantai yang membelenggu Imam Ali Zainal Abidin.

Bantahan Imam Ali Zainal Abidin telah membongkar kebohongan Yazid. Rencana Yazid untuk mempermalukan Ahlulbait di hadapan pembesar dan khalayak kerajaan gagal. Kini dia harus berhati-hati menghadapi para tawanan Karbala. Yazid tak punya alasan untuk menyiksa dan mempermalukan mereka setelah tragedy Karbala. Dengan terpaksa akhirnya Yazid mengizinkan Imam Ali Zainal Abidin naik ke mimbar dan menyampaikan khotbah shalat jumat.

Imam Ali Zainal Abidin pun naik ke mimbar khotbah, beliau berkhotbah tentang kebijaksanaan perbuatan ayah beliau, Imam Husain. Dijelaskannya bahwa karena kebijaksanaan itulah syariat Islam dapat tetap ditegakkan. Beliau juga menceritakan tentang tragedy Karbala yang memilukan dan mencabik-cabik nurani kemanusiaan. Tragedy itu ditimpakan kepada keluarga Rasulullah SAW.

Khotbah Imam Ali Zainal Abidin menyentuh perasaan masyarakat Syiria. Emosi mereka terbakar mendengarnya. Timbul niat mereka untuk membela Imam Ali Zainal Abidin.

Menyaksikan reaksi masyarakat Syiria, Yazid merasa ketakutan. Dia khawatir huru-hara dan pergolakan missal terjadi di Damaskus. Karenanya, yazid saat itu juga memerintahkan agar para tawanan Karbala dibebaskan dan segera dipulangkan ke Madinah.

Berita ini pun segera tersiar ke Madinah. Ketika mendengar bahwa Imam Ali Zainal Abidin dan rombongan beliau hampir sampai di kota Madinah, masyarakat Madinah berhamburan keluar rumah. Pria, wanita, anak-anak, kawan maupun lawan, semuanya bergegas menuju perbatasan kota Madinah demi menyambut Imam Ali Zainal Abidin.

Ketika Imam Ali Zainal Abidin dan rombongan keluarga Rasulullah Muhammad SAW tiba, para pemuda Madinah serta merta mengerumuni beliau yang kini menjadi satu-satunya putra Imam Husain yang masih hidup. Setelah hiruk pikuk khalayak madinah yang mengelilingi beliau mereda, Imam Ali Zainal Abidin member isyarat agar semua diam supaya semua dapat mendengarkan orasi beliau. Lalu beliau berorasi,

Hai umat! Allah yang Mahakuasa telah menguji kami dengan

Cobaan dan serangan bertubi-tubi dari musuh-musuh biadab.

Syukur kepada Allah sehingga kami berhasil melewati ujian

tersebut. Hai masyarakat Madinah! Abu Abdillah al-Husain

telah syahid. Kaum wanita, istri-istri dan putri-putri Husain

harus menanggung beban derita sebagai tawanan perang

yang dibelenggu dengan tali. Kepala para syuhada kami

ditancapkan di ujung-ujung tombak dan kami digiring dan

diarak dari kota ke kota hingga berbagai belahan negeri.

Hai umat! Kami dipaksa meninggalkan kota kami dan

Kami diarak dari kota ke kota, melewati setiap pemukiman

Di sana, selayak para tawanan Afganistan dan Turki. Apa

Kesalahan kami ? Demi Allah! Aku tak pernah menyaksikan

Kekejaman semacam ini dari para pendahuluku atau pun

Menyaksikannya sendiri.

Kami telah menanggung tragedi dahsyat ini. Tragedi yang

Tak pernah dirasakan oleh siapa pun sebelumnya di dunia

Ini. Atas semua ini, kami hanya ingin dibalas oleh Tuhan

Yang Maha Pengasih dan kami menyerahkan pengadilan

Atas ini kepada-Nya. Karena Dia-lah Yang Mahaagung dan

Mahatinggi, dan Allah Mahakuasa dan Maha Membalas.

  1. haeruddin syams masagenae

    syalawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: