KESELARASAN IRFAN DENGAN DIFA’ DAN JIHAD

Oleh : Syaikh Jawadi Amuli

Irfan suci tidak hanya selaras dengan difa’ dan perang (suci), tetapi berjalan seiring dengan difa’ dan perang muqaddas. Seorang arif adalah orang yang memandang bahwa apa yang ada di alam ciptaan, difa’ dan berperang membela kesucian agama dalam rangka  shulh (perdamaian) adalah indah. Ada orang yang berkata, “Saya bukan ahli perang dan difa’.” Sebenarnya, ia bukan melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia, tetapi melepaskan makrifah. Namun, ada juga yang berkata, “Perang membela agama adalah indah.” Ya, tidak satu pun di alam ini yang buruk, difa’ bukanlah sesuatu yang buruk, malah sangat indah. Pabila seorang arif menerima shulh al-kull (perdamaian menyeluruh), maka maksudnya adalah bahwa ia memandang peperangan  sebagai shulh. Sebagaimana, keberadaan neraka sebuah keharusan. Ia tidak akan menolak adanya neraka, seraya berkata, “Neraka dan iblis itu harus ada.” Pabila di dunia ini terdapat keburukan, maka itu adalah keburukan secara qiyas (analogi) bukan keburukan bidzdzat (esensial).

Perbedaan arif dengan non-arif adalah bahwa seorang non-arif murkanya mendahului rahmatnya. Sementara bagi arif, rahmatnya mendahului murkanya. Berikut ini penjelasan tentang perbedaan tersebut :

Pertama, apabila manusia tidak meluruskan perilakunya, tidak menyesuaikan hasrat, keinginan dan kecenderungan batinnya, maka emosi akan mengendalikan kecenderungan-kecenderungannya. Segala yang diperbuatnya akan bersumberkan pada sisi emosional (ghadhab)nya. Ia tidak akan bergerak bila tidak ada perintah darinya. Jadi, emosilah yang mengarahkan perbuatan dan mengendalikan dirinya. Ia akan menjadi binatang buas, apa yang diperbuatnya bersumber dari watak liarnya.

Kedua, murka dan rahmat baginya adalah sama dan tidak ada (dari keduanya) yang mendominasi dirinya. Adakalanya, murka yang mengendalikan dan terkadang rahmat. Dengan demikian, ia berada di titik tengah dan tidak memihak.

Ketiga, adalah kelompok manusia-manusia Ilahi yang rahmatnya mengendalikan murkanya. Mereka adalah manifestasi ‘ya man sabaqat rahmatuhu ghadhabahu’ (Zat yang mendahulukan rahmat-Nya dari murka-Nya.

Mereka inilah yang rahmatnya mengendalikan perilaku dan murkanya. Perilaku mereka penuh kasih dan menjadi dambaan orang lain. Kasih tersebut, terkadang secara aksidental, berupa mengangkat duri di jalan untuk (kemaslahatan) orang lain. Dan ia termasuk rahmat.

Itulah yang kami katakan bahwa rahmat Allah mendahului murka-Nya, dan bahwa rahmat-Nya melebihi murka-Nya. Artinya, Allah memiliki dua (macam) rahmat : Pertama, rahmat khusus yang antonim (lawan kata)nya adalah ghadhab (murka), Kedua, rahmat mutlak tanpa antonim.

Rahmat mutlak adalah seperti hidayah mutlak dan tidak berlawanan. Ketika Allah menurunkan rahmat-Nya yang mutlak, maka terkadang kemurkaanlah yang terjadi dan terkadang rahmat-Nya yang khusus, bergantung mana yang mesti berlaku. Adakalanya, rahmat menganjurkan kasih sayang, kadangkala pula memerintahkan penghapusan kasih sayang dan mengumumkan perang, difa’ dan sebagainya.

Dalam Al-Quran, qishash adalah sebuah hukum jalal (keagungan) Allah yang berlandaskan pada jamal (keindahan)-Nya. Artinya bahwa jamal Allah membawahi jalal-Nya, dan rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Dikatakan bahwa apabila hukum qishash dilaksanakan, niscaya terjaminlah kehidupan umat manusia. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah 179 :

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu,

hai orang-orang yang berakal.”

 

Ya, qishash adalah sebuah qanun (undang-undang)(sebagai wujud) kemurkaan, dan undang-undang kemurkaan disebut sebagai undang-undang jalal. Akan tetapi, jalal Allah diiringi, bahkan dikendalikan oleh jamal-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman : dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal. Artinya, apabila kalian mengeksekusi (mati) si pembunuh, maka (pada hakikatnya) bukanlah murka Allah (yang berlaku), tetapi rahmat-Nya. Sebagaimana halnya dengan hukum jihad dan difa’, yakni bahwa difa’ merupakan faktor (penjamin) kehidupan :

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul,

apabila Rasul menyuruh kamu kepada suatu yang member kehidupan kepada kamu.”

(QS. Al-Anfal 24)

 

Jadi, apabila Allah mengajak Anda sekalian pada jihad dan difa’, meskipun itu merupakan hukum jalal dan ghadhab, namun keduanya mengiringi jamal dan kehidupan. Yakni, bahwa dalam jalal Allah terdapat celupan jamal-Nya, baik dalam masalah individual maupun sosial. Oleh karena itu, tentang qishash, Allah berfirman : dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal. Dan tentang perang dan difa’ Allah juga berfirman : Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyuruh kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. Sebab, rahmat Allah melebihi dan mendahului murka-Nya. Rahmat-Nya sebagai imam dan murka-Nya adalah makmum, dan setiap makmum mengikuti dan mengenal imamnya. Karena murka selalu mengikuti rahmat, maka pada murka terdapat celupan rahmat. Dan dari situ, murka Allah berwarna rahmat. Jadi, rahmatlah yang mengatur seluruh ciptaan.

Karena itulah, di masa awal Islam terjadi beberapa kali peperangan. Bersamaan dengan itu, Allah yang Mahasuci menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat bagi seluruh alam : Dan tidak Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam. Demikian pula halnya para nabi dan imam yang merupakan manifestasi Allah SWT, rahmat mereka mendominasi ghadhab mereka.(Fushush Yunusi dalam Fushush al-Hikam dan Syarah Fushush Qashari, Futuhat Makkiyah)

Sementara itu, kaum arifin, yang merupakan murid-murid para nabi dan imam, rahmat mereka mengalahkan murka mereka. Merupakan sebuah keniscayaan bahwa irfan berdiri selaras dengan perang hamasah. Di mana, murka seorang arif mengikuti rahmatnya. Dengan demikian, jelaslah bahwa antara ketiga kelompok yang telah kami paparkan sebelumnya, satu sama lain berbeda. Fakta bahwa rahmat memimpin murka adalah bahwa seorang arif tidak akan menyandang senjata selama itu masih bisa dilakukan. Jika tidak, artinya harus menyandang senjata, maka ia akan berusaha untuk tidak sampai membunuh. Dan, bilamana sebagian orang (terpaksa dibunuh), maka ia akan memaafkan sebagian yang lain. Namun, jika sebaliknya yang terjadi – murka yang mengendalikan perilaku dan menjadi pemimpin rahmat – maka pemimpin yang berwatak seperti ini akan menyandang senjata selama itu bisa dan akan membunuh jika itu mungkin. Atau, setelah menang, ia akan mengejar para tawanan.

Surat Al-Shaff pada hakikatnya adalah “surat peperangan”, bagian awal ayat-ayatnya diawali dengan masalah peperangan, begitu juga dengan bagian akhir, pada bagian tengah pun terdapat (pembahasan) tentang hal tersebut. Di bagian awal surat terdapat ayat yang berbunyi :

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam  barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (Al-Shaff : 4)

 

Dan, di akhir surat tersebut terdapat ayat yang berbunyi :

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada para pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah,” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan yang lain kafir, maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (Al-Shaff : 14)

 

Al-Hawariyun adalah sahabat khusus dan kaum arifin hasil didikan Isa as. Ketika beliau melihat dengan jelas terjadinya kekufuran, beliau bertanya, “Siapakah yang akan menolongku kepada Allah?” Al-Hawariyun menjawab, “Kami adalah para penolongmu yang setia.” Dalam pada itu, Allah SWT menyatakan bahwa sebagian umat masuk Islam dan sebagian lagi kafir, dan genderang perang telah ditabuh. Dan dia (Allah) telah menolong kaum arifin tersebut (Al-Hawariyun), sahabat khusus nan tulus. Mereka akhirnya  menang dan selamat dari ancaman musuh. Di tempat lain, Allah berfirman :

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran dari mereka (Bani Israil), berkatalah ia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para Hawariyun menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya  kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri.” (Ali Imran : 52)

 

Isa as merasakan benar adanya kekufuran, di mana umat telah berani berbuat kekufuran secara terang-terangan. Saat itu beliau bersama Al-Hawariyun memerangi mereka.

 

Bagian tengah surat Al-Shaff, membicarakan tentang “perniagaan” Tuhan :

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itualah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” (Al-Shaff : 10-11).

 

Jelaslah bahwa Isa al-Masih as adalah ruh yang memerangi kekufuran. Ajaran beliau membenarkan penentangan Musa as (terhadap Firaun) dan memerangi kezaliman. Ketika ajaran ini jatuh ke tangan orang-orang yang melakukan tahrif (perubahan) Injil, agama ini dipisahkan dari politik. Kadangkala, mereka mengatakan, “Kami hanya hidup di gereja dan tidak berurusan dengan masalah politik.” Tetapi, adakalanya mereka malah menjadi mata-mata musuh. Kesimpulannya, hanya dengan Al-Quranlah kita dapat mengetahui Injil, ajaran Isa al-Masih as, dan agama Nasrani yang otentik, bahwa al-Masih juga melakukan peperangan dan ajarannya tidak anti perang. Ya, sesuai dengan dalil aqli (akal) dan naqli (sumber yang otentik), Isa al-Masih as melakukan peperangan.

Karenanya, orang yang menjadi arif, rahmatnya akan mendominasi ghadhab (murka)nya. Namun, ini bukan berarti bahwa ia tidak memiliki amarah. Orang yang tidak memiliki ghadhab, tidak akan dapat menyampaikan ajaran Tuhan. Bilamana orang yang rahmatnya mengalahkan ghadhabnya mengatakan bahwa agama tidak berurusan dengan politik, atau seorang arif tidak memiliki hamasah, atau insan yang bijak tidak mau berperang bahkan mengatakan bahwa zikrullah lebih utama ketimbang berperang di jalan Allah, maka jika dapat ia harus menjelaskannya berdasarkan pandangan irfan dan dalil-dalil yang sesuai. Jika tidak, maka itu harus kita tolak.

Doa Arafah Imam Husain seluruhnya adalah irfan. Demikian juga dengan doa malam Asyura dan doa hari Asyura. Imam Husain, yang di malam Asyura memanfaatkan waktu untuk membaca doa dan shalat, adalah hujjah tentang irfan. Beliau berpesan, “Gunakanlah waktu di malam Asyura, kami mencintai shalat!” Beliau juga berkata, “Dia mengetahui bahwa saya mencintai shalat, banyak berdoa dan beristighfar.” Ya, seorang arif adalah sahabat shalat. Dengan shalat, doa dan munajat, pandangannya akan menjadi teduh. Sahabat setia Imam Husain juga demikian, “Mereka berdengung (berdoa) seperti dengungan lebah.” Munajat, rukuk dan sujud mereka adalah bukti ke-irfanan mereka. Sementara syair, puisi dan slogan kepahlawanan mereka adalah bukti tentang hamasah mereka.

Ya, irfan selaras dengan hamasah (semangat juang). Hal yang mesti dibedakan adalah “meninggalkan dunia” dengan meninggalkan makhluk Allah (manusia) serta tidak mau membela kepentingan mereka. Hal yang sangat suci adalah meninggalkan keterikatan dengan dunia, bukan mangkir dan tidak mengabdi pada sesama makhluk di jalan Allah. Ucapan Imam Ali, “Saya pemimpin umat, saya menjalani masa yang sangat sulit,” tidak mereka letakkan pada proporsinya. Imam Ali juga berkata, “Saya bersabar, (meskipun) di mata saya tersarang debu dan dalam tenggorokan saya terselip tulang. Saya melihat warisan saya terampas!” (Nahj al-Balaghah) “Tiada jalan lain bagi saya, saya harus berperang, (Apabila itu) untuk menghidupkan agama.”

Sebagian orang boleh saja menuduh bahwa Imam Ali takut akan kematian. Namun, yang menjadi kebijakan beliau adalah menjaga Ahlul Bait Nabi SAW dan melindungi para sahabat setia beliau. Apabila mereka semua berperang, mereka akan terbunuh. Ini telah diungkapkan Imam Ali bahwa dunia baginya tidaklah bernilai. Beliau berkata, “Memang, menyumbangkan darah memiliki pahala yang khusus.” Andai kami diperintahkan untuk mengorbankan darah (berperang) supaya agama hidup dan umat (ini) bangkit, (tentu telah kami lakukan). Akan tetapi, dalam kondisi (seperti) sekarang ini, musuh-musuh akan memenuhi Madinah. Mereka akan memakai pakaian hitam untuk menghadiri peringatan duka bagi kami. Dengan begitu, darah kami akan sia-sia. Karenanya, saya akan bertahan dan bersabar.

Selanjutnya, tibalah giliran Imam Husain. Kondisi yang menuntut untuk bersabar itu telah berubah. Sebab, syahadah di masa beliau sangatlah besar pengaruhnya. Ya, apabila seseorang adalah ahli irfan, maka sampai akhir hayatnya, ia akan menyampaikan misinya kepada umat. Dan, mereka akan bangkit, sehingga bersama-sama akan bergerak menuju Tuhan mereka. Isa al-Masih berkata, “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?” Artinya, “Saya bergerak menuju Tuhan, marilah bersama saya melangkah menuju Tuhan.” Jadi tujuannya adalah Allah! Imam Husain pun demikian. Kebangkitan beliau telah membuahkan hasilnya, dan hasil ini telah nampak di permukaan. Salah satu buah dari “pohon” Karbala yang telah dipetik adalah Revolusi Islam, yang dipimpin oleh Imam Khomeini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: