jump to navigation

KETIKA PUASA UNTUK ALLAH

Oleh : Husein Shahab

Ramadhan dikenal dalam tradisi kaum Muslimin sebagai bulan amal. Pada bulan ini kita akan menyaksikan peningkatan kuantitas dan kualitas amal yang dilakukan oleh setiap pribadi Muslim, baik yang ritual maupun sosial. Di sana-sini kita akan menjumpai orang yang berduyun-duyun shalat berjamaah, shalat malam, mengadakan jamuan buka puasa, berbagi rezeki dengan fakir miskin, yatim piatu dan para dhuafa, tadarusan dan khataman Al-Quran, pesantren kilat, pengajian dan sebagainya.

Semangat spiritualitas seperti ini bukan muncul tanpa alasan. Selain dari keberkahan yang ada di bulan suci ini, syariat Islam juga menuturkan janji-janji Allah dan Nabi Muhammad SAW akan keagungan bulan ini dibandingkan yang lainnya. Bukankah Nabi SAW bersabda, “Nafas kalian di bulan suci ini dihitung sebagai tasbih, tidur kalian dihitung sebagai ibadah, amal kalian diterima dan doa kalian diijabah. Menunaikan satu ibadah wajib di bulan ini sama dengan menunaikan tujuh puluh ibadah yang sama di bulan yang lain,menunaikan ibadah sunnah di bulan ini akan mendapatkan jaminan bebas dari api neraka, shalawat kepada Nabi di bulan ini akan menambah berat timabangan amalnya, membaca satu ayat Al-Quran akan dapat pahala sama dengan mengkhatamkannya pada bulan lain, menghormati anak yatim akan memperoleh hormat Allah di saat pertemuannya kelak, mengulurkan silaturrahmi akan memperoleh rahim dan kasih sayang Allah kelak di hari kiamat.”

Ramadhan memang bulan yang penuh dengan keberkahan. Semua manusia Muslim akan mendapatkan kasih sayang Allah di bulan ini. Namun tak dapat dipungkiri bahwa tidak semua Muslim mengapresiasinya dengan baik, dan karenanya tidak semua mereka sama dalam memperoleh keberkahannya. Mereka yang imannya lemah berbeda dengan mereka yang imannya tinggi di dalam menghargai bulan ini. Dan kerenanya ketika Allah menyebutkan tentang kewajiban puasa di bulan ini, tidak semua yang berpuasa pasti akan memperoleh ketakwaan yang sempurna, bahkan mungkin juga sebagian dari mereka tidak memperoleh ketakwaan sama sekali. Itulah sebabnya kenapa Allah menyebutkan dengan kalimat la’allakum tattaqun (semoga kalian menjadi orang yang bertakwa) pada akhir ayat puasa yang tersurat dalam surah Al-Baqarah ayat 183.

Kualitas-Kualitas Iman

Keberagaman orang yang memperoleh keberkahan pada bulan ini tidak perlu kita ragukan. Sebab dalam surah Al-Waqi’ah 56, Allah SWT menyebutkan tentang kelas-kelas orang yang beriman. Ada yang termasuk dalam kategori ash-habus syimal (golongan kiri), yang lainnya ash-habul yamin (golongan kanan) dan terakhir as-sabiqun (sekelompok mukmin yang elit). Penegasan Al-Quran ini menggambarkan kepada kita betapa dalam hal keimanan ada perbedaan kualitas yang tajam antara sesama mukminin, sehingga dari sana kemudian Imam Ghazali secara terminologis membagi tiga kelompok orang yang mukmin dengan istilah berikut; awam, khawas dan khawas al-khawas.

Puasa orang awam, kata Ghazali hanya sekadar menahan perut dan kemaluan dari urusan syahwatnya. Ia tidak makan dan minum sejak terbit subuh hingga terbenam matahari. Adapun selain dari perut dan kemaluan, ia tidak terpanggil untuk puasa. Matanya masih memandang sesuatu yang dilarang Allah. Telinganya masih tertarik pada suara-suara sumbang, gunjingan, aib orang, fitnah dan sebagainya. Demikian juga mulutnya, tangannya, kakinya dan pikirannya masih saja belum terangkat dari kubangan dosa.

Puasa orang-orang khawas lebih dari sekadar itu. Selain dari menahan perut dan kemaluan, ia juga berpuasa dengan menahan telinga, mata, lidah, tangan dan kaki serta seluruh anggota tubuhnya yang lain dari setiap perbuatan tercela dan dosa. Baginya bukan hanya makan dan minum yang akan membatalkan puasanya, tetapi juga – seperti yang dinyatakan dalam sebuah hadis – bohong, ghibah (menyebut keburukan orang lain), namimah (mengumbar aib orang), sumpah palsu dan memandang lawan jenis dengan syahwat. Puasa kelompok khawas ini tentu lebih baik dari yang pertama. Sebab ibadah puasa tidak dipahaminya secara formalistik semata-mata, melainkan secara substansial dimana lewat ibadah ini ia mampu memperkuat wilayah ruhaninya dan memperlemah hasrat syahwatnya yang cenderung kearah yang batil.

Alkisah, suatu hari Nabi pernah mendengar seorang wanita yang berpuasa mencaci-maki pembantunya dengan kata-kata yang keji. Nabi kemudian memanggilnya dan menawarkan kepadanya makanan. “Aku puasa, ya Rasulullah!” jawab si wanita itu. “Bagaimana mungkin kamu berpuasa sementara kamu mencaci pembantumu. Sungguh puasa bukan hanya dari makan dan minum saja. Puasa justru dijadikan oleh Allah sebagai hijab yang dengannya manusia bisa menghindari diri dari perbuatan-perbuatan keji lainnya, baik yang berbentuk ucapan ataupun perbuatan.” Kemudian Nabi melanjutkan, “Sungguh, alangkah sedikitnya orang yang berpuasa dan alangkah banyaknya orang yang lapar.”

Diatas itu masih ada sekelompok orang beriman yang disebut Ghazali sebagai kelompok khawas al-khawas, orang-orang yang sangat elit dalam hal keimanan, yang kata Al-Quran bilangannya sangat sedikit di akhir zaman ini. Bagi mereka puasa bukan hanya seperti dua kelompok di atas, melainkan sebuah kendaraan yang dengannya ia bisa menahan jiwanya dari segala hasrat rendah dan kecenderungan-kecenderungan sekularistik, bahkan dari segala sesuatu selain Allah. Dengan kata lain, mereka tidak melakukan ibadah dengan jiwa yang pragmatis semata-mata untuk mengejar janji-janji pahala. Puasanya benar-benar dilakukan semata-mata untuk Allah, dan biarlah Allah yang menentukan seberapa besar pahalanya.

Menurut Mulla Shadra, amal ibadah orang yang ikhlas seperti ini, bukan hanya menghasilkan pahala-pahala eskatologis seperti yang tersurat dalam hadis-hadis di atas. Bahkan memberikan dampak psikologis-spiritual yang luar biasa kepada pelakunya. Sebuah amal yang ikhlas, demikian Shadra, akan berfungsi seperti pengkilap yang menghilangkan segala jenis kotoran atau daki yang melekat dalam kalbu seseorang. Semakin banyak amalnya yang ikhlas akan semakin mengkilap cermin kalbunya sedemikian, sehingga seluruh tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta ini akan memantul riil di dalamnya.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Nabi SAW dalam perjalanan mi’rajnya pernah bertanya kepada Allah tentang manfaat ibadah puasa? Allah menjawab, “Ibadah puasa akan mendatangkan hikmah, dan hikmah akan mendatangkan makrifah, sementara makrifah akan mendatangkan yakin. Apabila seorang hamba sudah sampai pada batas yakin maka ia akan sepenuhnya percaya, bergantung dan berada bersama-Ku, di waktu sulit atau senang, di waktu duka atau suka.”

Ketika ia senantiasa bersama Allah dan tidak pernah absen dari-Nya, maka apapun yang lahir darinya adalah bagus semata-mata, meskipun dalam pandangan sebagian orang buruk dan aib. Itulah kenapa Nabi SAW bersabda, “Demi jiwa Muhammad yang ada di tangannya! Bau mulut seorang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah ketimbang aroma parfum misik. Allah berkata, hamba-Ku telah meninggalkan hasrat makan dan minumnya karena Aku. Maka puasanya untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.”

Sayyidah Fatimah Az-Zahra, seorang wanita suci dari keluarga Nabi SAW yang termasuk dalam kelas ini meninggalkan suatu nasihat yang teramat indah untuk dilalui dalam kaitan ibadah puasa ini. Beliau berkata : “Kewajiban puasa yang Allah perintahkan kepada kita, sebenarnya adalah sebuah upaya untuk kita berlatih menanamkan rasa ikhlas dalam diri kita masing-masing.”

Ketika keikhlasan diperoleh dan puasa benar-benar menjadi ibadah yang mampu mencegah kita dari segala bentuk arogansi terhadap agama dan terhadap Allah, maka puasa kita akan menjadi sebuah benteng yang akan menghalangi diri dari api neraka.

Kita butuh peningkatan kualitas ibadah puasa seperti layaknya orang-orang khawas dan khawas al-khawas di atas, yakni Sayyidah Fatimah Az-Zahra, ayahnya, suaminya dan putra-putranya yang suci. Imam Ali Zainal Abidin mengingatkan kita akan doanya yang panjang menjelang bulan suci Ramadhan, yang antara lain berbunyi :

Ya Allah, ya Rabbi, Bantulah kami dalam ibadah puasa ini, dengan menahan seluruh anggota tubuh kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan menggunakannya dalam ridha-Mu, sehingga telinga kami tidak mendengar pada hal yang sia-sia, mata kami tidak memandang hal-hal yang penuh dosa, tangan kami tidak diulurkan kepada hal yang tercela, dan kaki kami tidak melangkah kepada tempat yang kau cegah.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: