NAFSU AMARAH

Oleh : Syaikh Husain Mazhahiri

 

Sesungguhnya seluruh mawjud memiliki gerak dan perjalanan yang dinamakan dengan perjalanan Ilahi (al-masirah al-Ilahiyyah), dan sesungguhnya alam wujud menyerupai sebuah kafilah di dalam gerak dan perjalanannya. Akan tetapi mereka berbeda-beda di dalam gerak perjalanannya menuju Allah Azza Wajalla. Manusia, di dalam gerak dan perjalanan mereka menuju Allah terbagi menjadi tiga golongan :

          Satu golongan adalah golongan yang menemukan jalan yang lurus dan mereka sekaligus berjalan di atasnya. Persis, sebagaimana para nabi dan para rasul telah berjalan di atasnya. Golongan ini mempunyai musuh-musuh yang sangat keras, yang ingin menjerumuskan mereka ke jalan-jalan yang menyimpang. Musuh golongan ini ada dua macam, yaitu musuh dalam (musuh batin) dan musuh luar.

Salah satu musuh dalam ialah nafsu ammarah (nafsu yang selalu memerintahkan kepada keburukan), dan musuh batin ini jauh lebih berbahaya dibandingkan musuh-musuh yang lainnya.

Yang dimaksud dengan nafsu ammarah ialah kecenderungan-kecenderungan insting, dan hawa nafsu.

Al-Quran Al-Karim telah berbicara tentang masalah ini, dan telah memberikan perumpaaan di dalam kisah Yusuf as. Yusuf as berkata, “Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung [memenuhi keinginan mereka] dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.(QS. Yusuf : 33)

Artinya, ya Allah, jika Engkau tidak menyelamatkan aku dengan rahmat-Mu, maka tentu nafsu ammarah akan membawaku kepada kehancuran; dan pada saat itu tentunya aku akan termasuk orang-orang yang bodoh.”

Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia, “Sungguh wanita itu telah bermaksud [melakukan perbuatan itu] dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud [melakukan pula] dengan wanita itu seandainya dia tidak melihat tanda [dari] Tuhannya.(QS. Yusuf : 24).

Artinya, Zulaikha telah cenderung kepada Yusuf, dan nafsu ammarah pun telah mendorong Yusuf as. Untuk cenderung kepada wanita itu. Akan tetapi kasih sayang, pertolongan, dan penjagaan Allah SWT terhadap Yusuf as. telah menghalangi kecenderungan itu. Kata-kata “tanda [dari] Tuhannya” di dalam ayat ini berarti “keterjagaan” (ishmah), yang mencegah Yusuf dari melakukan maksiat.

Di dalam tafsiran lain mengenai ayat ini disebutkan, “sesungguhnya wanita itu telah bermaksud melakukan perbuatan fasad, sedangkan Yusuf bermaksud mencegah perbuatan itu setelah Allah SWT menjaganya dari dosa dan kesalahan.”

Para pembaca yang mulia, Al-Quran Al-Karim bukanlah buku cerita, yang kapan saja seorang manusia hendak menikmati berbagai kisah maka dia membacanya. Al-Quran Al-Karim juga bukan buku sejarah, yang hendak menceritakan penggalan kehidupan salah seorang nabi, bersama para wanita yang dikuasai oleh syahwat. Akan tetapi Al-Quran Al-Karim adalah buku akhlak, yang lembaran demi lembarannya tidak dipenuhi kecuali dengan teladan dan akhlak yang luhur, supaya manusia mengenal nafsu ammarah mereka, yang senantiasa menyuruh kepada keburukan. Dengan begitu, meraka jauh dari kehinaan.

Ketahuilah, sesungguhnya nafsu ammarah akan membawa seseorang manusia kepada kehinaan, jika sedikit saja dia lalai, meski betapa pun sucinya dia. Nafsu ammarah selalu mendorong tuannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Ketika seorang manusia melakukan suatu keburukan, maka untuk kedua kalinya nafsu ammarah mendorongnya untuk terus melakukannya. Berikutnya, nafsu ammarah akan menjadikan perbuatan maksiat sebagai sesuatu yang dicintai oleh pelakunya, sehingga pelakunya memandangnya sebagai suatu hal yang biasa dan wajar. Pada saat itulah perbuatan maksiat telah menjadi watak baginya, yang tidak mungkin dia dapat melepaskan diri darinya kecuali dengan menghadapi tingkat kesulitan yang besar.

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (QS.Yusuf : 53)

Nafsu ammarah adalah nafsu yang selalu memerintahkan kepada syahwat dan kecenderungan. Kata ammarah merupakan bentuk kata hiperbola (mubalaghah), yang mengisyaratkan bahwa nafsu ini banyak sekali menyuruh. Ini merupakan gambaran dari keadaannya yang senantiasa tidak pernah merasa puas. Seorang laki-laki yang dikuasai oleh nafsu seksualnya, tidak akan merasa puas meskipun semua wanita yang ada di dunia ini diberikan kepadanya. Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dia tidak akan merasa puas meskipun seluruh yang ada di muka bumi ini diperuntukkan baginya. Demikian juga orang yang menjadikan nafsu kecintaan kepada kedudukan sebagai tuhannya, dia tidak akan merasa puas meskipun dia telah menguasai seluruh muka bumi ini.

Nafsu syahwat tidak akan berhenti pada satu batas. Oleh karena itu, para pakar ilmu jiwa mengatakan, Seorang laki-laki dan seorang wanita yang dikuasai oleh syahwatnya, mereka lebih mementingkan memenuhi tuntutan syahwatnya dengan cara yang haram, dan tidak dengan cara yang halal. Nafsu ammarah yang tidak dikendalikan, senantiasa cenderung kepada makanan yang haram dan bukan kepada makanan yang halal. Manakala nafsu ammarah telah menguasai diri seseorang, maka nafsu ammarah itu tidak akan melepaskan seorang manusia kecuali setelah manusia itu dimasukkan ke dalam dasar neraka yang paling bawah.

Diceritakan bahwa Dzulqarnain, meskipun sudah begitu banyak negeri yang ditaklukkannya, mengatakan kepada para pembantunya, Setelah aku mati, keluarkan tanganku dari dalam peti mati, dan bila engkau melihat tanganku terkepal maka kuburkanlah aku di situ.”

Setelah Dzulqarnain mati, mereka pun mengeluarkan tangannya dari peti mati, dan membawa mayatnya, namun mereka tetap tidak melihat tangan Dzulqarnain kecuali dalam keadaan terbuka. Lalu seorang ulama berkata kepada mereka, “Jika engkau ingin melihat tangannya terkepal, coba letakkan segenggam tanah di tangannya.” Mereka pun melakukan saran ulama itu, dan kemudian tangan Dzulqarnain pun terkepal. Setelah itu, ulama itu pun berkata, Sesungguhnya manusia tidak akan pernah merasa kenyang selamanya kecuali setelah dia masuk ke dalam lubang kubur.”

Islam tidak mengatakan supaya kita membunuh nafsu ammarah. Karena, membunuh nafsu ammarah adalah sesuatu yang diharamkan di dalam Islam. Akan tetapi yang diperintahkan oleh Islam ialah mendidik dan menyucikannya, sehingga nafsu ammarah itu berjalan sesuai dengan garis yang ditetapkan oleh ajaran Islam.

Di dalam kitab tafsir ash-Shafi diceritakan, bahwa tiga orang sahabat Rasulullah SAW menjauhi dunia dan segala yang ada di dalamnya. Mereka menjauhi istri-istri mereka, memencilkan diri dari pergaulan manusia, dan memutuskan untuk tidak memakan makanan yang enak.

Ketika istri salah seorang dari ketiga sahabat tadi datang menemui Aisyah, Aisyah merasa heran dengan keadaannya yang tidak berdandan seperti layaknya seorang wanita yang telah bersuami. Aisyah bertanya kepada wanita itu, “Bukankah Anda bersuami?”

wanita itu menjawab,”Benar”

Aisyah bertanya lagi “Akan tetapi, mengapa keadaanmu tidak menunjukkan demikian?”

wanita itu menjawab, Suami saya telah meninggalkan dunia dan menjauhi saya; dia memilih untuk tinggal di padang pasir.”

Lalu Aisyah pun menceritakan hal itu kepada Rasulullah SAW, sementara saat itu waktu duha. Mendengar kabar itu Rasulullah SAW sangat marah. Di segera keluar menuju mesjid dengan tergopoh-gopoh, dalam keadaan bagian ujung jubahnya menyentuh tanah, sehingga menarik perhatian semua orang. Setelah masuk ke mesjid, dia memerintahkan semua orang untuk berkumpul lalu dia berdiri di tangga pertama dari mimbarnya dalam keadaan marah. Rasulullah SAW berkata, “Menikah itu adalah sunnahku; barangsiapa berpaling dari sunnahku maka dia bukan bagian dariku.” Allah SWT telah berfirman :

Katakanlah , “siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dan [siapa pula yang mengharamkan] rezeki yang baik?” (QS. Al-A’raf : 32)

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf : 31)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [kenikmatan] duniawi, dan berbuat baiklah [kepada orang lain] sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. (QS.Al-Qashash : 77)

Hal yang sama pun pernah terjadi pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, yaitu, tatkala Amirul Mukminin masuk ke dalam mesjid, dia melihat sekumpulan laki-laki yang sedang beribadah di dalam mesjid. Amirul Mukminin pun bertanya tentang mereka, lalu dikatakan bahwa mereka adalah para laki-laki kebenaran. Mereka tidak meninggalkan mesjid siang dan malam. Jika mereka mendapatkan makanan mereka memakannya, namun jika mereka tidak mendapatkannya mereka bersabar dan merasa cukup. Mendengar itu, Amirul Mukminin pun mengayunkan cambuknya ke kepala mereka, setelah terlebih dahulu memanggil mereka sebagai anjing. Karena, anjing bersabar jika dia tidak mendapatkan makanan. Lalu Amirul Mukminin Ali memerintahkan mereka keluar dari mesjid, setelah mereka meninggalkan dan menelantarkan istri dan anak-anak mereka tanpa makanan dan minuman.

Islam tidak menginginkan seorang Muslim itu lemah dan hina, melainkan Islam menginginkan seorang Muslim itu kuat dan mulia, dengan cara bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan kebutuhan keluarganya, serta jauh dari sikap meminta-minta kepada orang lain.

Orang-orang itu bermaksud membunuh nafsu seksual mereka dengan cara-cara khusus mereka, padahal Allah yang Mahabijaksana telah menunjukkan kita kepada jalan yang memungkinkan seorang manusia berpegang teguh kepada akhlak yang utama, yang jauh dari sikap berlebih-lebihan.

Jiwa manusia memerlukan orang yang mendidik dan menatanya sesuai dengan aturan Islam yang agung, sehingga dia aktif di dalam berjalan menuju Allah. Keadaan jiwa manusia tidak ubahnya seperti keadaan seekor kuda yang diletakkan tali kekang di mulutnya. Jika tali kekang itu dilepas dari mulutnya maka dia akan lalai dari berjalan, dan malah sibuk memakan rumput. Di saat itu, dia akan menerima pukulan dari tuannya, yang menginginkan dia berjalan sesuai dengan jalan yang dikehendaki tuannya.

Ali bin Ismail adalah orang yang bagus sekali dari sisi nasab. Pamannya adalah Imam Musa bin Ja’far al-Kazhim, ayahnya adalah Ismail, yang juga seorang alim dan seorang zahid. Kakek Ali bin Ismail adalah Imam Ja’far ash-Shadiq. Ayahnya meninggal pada masa Imam Ja’far ash-Shadiq masih hidup.

Ali bin Ismail adalah seorang budak harta. Kecintaannya kepada harta melebihi segalanya. Pada masa itu, al-Baramakah mempunyai maksud jahat terhadap Imam Musa Al-Kazhim. Dia memanfaatkan kecintaan Ali bin Ismail terhadap harta. Dia memerintahkannya untuk memberikan kesaksian palsu tentang Imam Musa al-Kazhim di majelis Harun, setelah sebelumnya memberikan sejumlah uang kepadanya. Ketika Ali bin Ismail hendak pergi ke Bagdad, Imam Musa al-Kazhim berusaha mencegahnya, Ali bin Ismail menjawab, “saya mempunyai hutang kepada beberapa orang” Imam Musa al-Kazhim menawarkan sejumlah uang yang dapat menutupi kebutuhannya, namun Ali bin Ismail menolak, dan dia tetap memilih untuk pergi ke Bagdad. Ketika itulah Imam Muza al-Kazhim berkata kepadanya, “Engkau jangan turut serta di dalam darahku!”

Ali bin Ismail bertanya “Apa maksud perkataan kamu ini?” namun Imam Musa al-Kazhim malah mengulangi perkataannya itu lagi, karena ia tahu bahwa Ali bin Ismail adalah seorang budak yang hina di hadapan emas dan perak.

Ali bin Ismail pun pergi ke Bagdad. Di Majelis Harun ar-Rasyid, Ali bin Ismail memfitnah Imam Musa al-Kazhim. Ali bin Ismail berkata kepada Harun ar-Rasyid, “Jika Anda seorang khalifah, lalu siapa Musa bin Ja’far itu? Sebaliknya, jika dia seorang khalifah, lalu siapakah anda ini? Sungguh, Musa bin Ja’far telah menimbun harta dan senjata, dan kini dia tengah bersiap-siap untuk memerangi Anda. Oleh karena itu, dahuluilah dia sebelum dia mendahuluimu!!”

Mendengar itu Harun al-Rasyid merasa gembira, lalu dia memerintahkan orangnya untuk memberi hadiah sebesar 200 ribu dirham kepada Ali bin Ismail. Akan tetapi Ali bin Ismail tidak beruntung, karena maut telah lebih dulu menjemputnya sebelum dia menerima hadiah yang dijanjikan itu.

Dari segi nasab, Ali bin Ismail mempunyai nasab yang sangat mulia, akan tetapi dia menyimpang dari jalan yang benar disebabkan dia menghamba kepada hawa nafsunya. Sebaliknya ada seorang ulama yang hawa nafsunya menjadi hamba dirinya. Ulama yang dimaksud itu ialah Muqaddas Ardabili. Seseorang bertanya kepada ulama ini (Muqaddas Ardabili), “Jika misalnya anda berduaan dengan seorang wanita muda yang cantik, lalu apakah hawa nafsu anda akan membisiki anda untuk melakukan sesuatu yang dilarang agama?”

Muqaddas Ardabili menjawab, “saya memohon kepada Allah SWT supaya Dia tidak menempatkan saya pada keadaan seperti itu.”

Muqaddas Ardabili tidak mengatakan “saya tidak akan melakukan apa-apa”. Melainkan dia mengatakan ”saya memohon kepada Allah SWT supaya Dia tidak menempatkan saya pada keadaan seperti itu”. Dia mengatakan itu karena yang namanya hawa nafsu selalu menyuruh kepada keburukan. Karena, jika hawa nafsu telah bergelora maka dia akan mengingkari syariat dan mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Saya memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita termasuk orang yang mampu menguasai hawa nafsunya.

Oleh karena itu, Islam melarang anak laki-laki dan anak perempuan kakak beradik yang telah mencapai usia delapan tahun untuk tidur satu ranjang. Bahkan, sangat dianjurkan untuk meletakkan penghalang di antara mereka berdua, baik itu berupa tirai atau yang serupa dengan itu.

Kita melihat sebagian orang yang mengaku sebagai orang yang modern dan berperadaban, mencela istri mereka karena mengenakan hijab, dan menyebutnya sebagai orang yang kolot dan terbelakang. Mereka melakukan itu dengan tujujan supaya bisa menyimpangkan istri mereka dari jalan yang benar.

Pada zaman kita sekarang ini, kita banyak menyaksikan hal-hal seperti ini. Jika kita mengkaji apa yang menjadi sebabnya, niscaya kita dapat melihat dengan jelas peranan nafsu ammarah dalam hal ini, yang mendorong seseorang kepada taklid buta dan kebodohan ganda (jahl murakkab). Kita berlindung kepada Allah SWT dari hawa nafsu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 146 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: